Ligaya Tumbelaka
Ligaya terlahir sebagai anak pasangan Lendy Roland Tumbelaka dan Sophia Maria Theresia Pangalila-Tumbelaka. Pendidikan tinggi anak keempat dari sembilan bersaudara ini diselesaikan di kota hujan Bogor. Lulus pada 1983 sebagai sarjana kedokteran hewan di Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), Institut Pertanian Bogor (IPB), setahun kemudian wanita yang gesit dan ramah ini berhasil meraih gelar dokter hewan di FKH-IPB.
Gelar Master of Science di bidang biologi reproduksi dan endokrinologi dia peroleh dari Department of Animal Science, Oregon State University, AS, pada 1990. Dua tahun kemudian, pendidikan spesialisasi I bidang kesehatan dan budidaya satwa primata di Bowman Gray School of Medicine, Wake Forest University, AS, berhasil diselesaikannya. Sepulang dari negara Paman Sam, Ligaya melanjutkan pengabdiannya sebagai dosen. Sambil mengajar dia menuntut ilmu lagi. Gelarnya pun menjadi lengkap ketika pada 1997 dia meraih gelar doktor bidang Sains Veteriner di FKH-IPB.
Kariernya sebagai dosen dimulai setahun setelah menjadi dokter hewan. Profesi pendidik ini masih dia tekuni hingga sekarang. Dari ruang kerjanya yang sarat buku, dia menyiapkan materi kuliah untuk mahasiswanya. Dari ketekunannya menjalani profesi di ruang ini pula dia bisa meraih predikat dosen teladan di lingkungan kerjanya tiga tahun lalu.
Saat tercatat menjadi staf di Pusat Studi Satwa Primata, Lembaga Penelitian, IPB, dia mendapat tawaran sebagai personel dalam rangka kerja sama TSI-IPB. Tawaran dari atasannya, drh. Dondin Sayuthi, MS, Ph.D., itu pun dia terima. Bahkan tugas itu memberinya jalan ke tugas yang lebih menantang, sebagai studbook keeper.
Pada awalnya Ligaya mengaku tidak tahu apa-apa. “Tapi saya termasuk orang yang percaya bahwa pencatatan adalah hal yang paling penting. Makanya, waktu saya diberi tanggung jawab ini, saya merasa tersanjung juga. Saya menerima tugas ini. Terus terang saya suka bekerja dan apa pun pekerjaan yang bisa saya kerjakan dengan baik, ya akan saya terima. Kebetulan di sini ada penangkaran harimau sumatra yang erat kaitannya dengan profesi saya. Saya juga pernah berucap bahwa kalau saya mendapat kesempatan dengan hewan selain primata maka saya akan pilih harimau sumatra. Eh, pucuk dicinta ulam tiba. Ada penawaran, ya saya terima.” Tugas baru inilah yang membuatnya bermetamorfosa menjadi “orang harimau” dan terpilih sebagai studbook keeper-nya.
(Sumber : www.indomedia.com/intisari/1999/april/macan.htm)



