ilustrasi
england-flag

English

england-flag

Indonesia

SIARAN PERS

16 April, 2014

Seminar Perum LKBN ANTARA Biro Sulsel: Potensi Sawit Dalam Negeri Harus Dikembangkan

Seminar ANTARA Sulsel
Dosen Universitas Hasanuddin Prof. Dr. Laode Asrul memberikan materi dalam seminar sawit mengangkat tema CSR Industri Sawit Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat di Hotel Arya Duta Makassar, Sulsel, Senin (14/4) ANTARA FOTO/Darwin Fatir

 

Pewarta:Riesmawan Yudhatama

Makassar(ANTARA Sulsel) – Potensi-potensi wilayah pengembangan sawit di Indonesia harus terus dipertahankan. Kualitas produknya pun harus tetap dijaga agar tetap diminati negara-negara tujuan ekspor.

Pendapat tersebut dikemukakan dosen Universitas Hasanuddin Prof. Dr. Laode Asrul, salah satu pembicara seminar sehari bertema CSR Industri Sawit dan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat yang diselenggarakanPerum LKBN ANTARA Biro Sulsel di Makassar, Senin.

Untuk itu, masalah-masalah seputar industry sawit dalam negeri juga harus segera diatasi. Menurutnya, ada enam masalah utama yaitu kepastian hokum, tata ruang, tumpang tindih regulasi lahan, bea keluar yang tinggi dan pembatasan kepemilikan hutan.

Di samping itu, persaingan dengan pihak asing di industry minyak nabati juga menghambat industry sawit. Sawit yang banyak dihasilkan Indonesia sangat diperhitungkan bagiminyak nabati seperti “soy bean” yang dihasilkan Negara-negara Eropa.

Ketua Bidang Hukum dan Advokasi Gabungan Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Dr. Ir. Tungkot Sipayung mengatakan, dukungan terhadap industry sawit itu sangat beralasan karena sawit merupakan lokomotif pertumbuhan perekonomian Indonesia.

Menurutnya, peran positif dan manfaat sawit sangat luar biasa karena daya sebar (lingkages) sawit bernilai lebih besar dari satu. Dampak perkembangan industry sawit ini pada gilirannya menarik perkembangan sector-sektor lainnya.

Apalagi, lanjut Tungkot yang juga menjabat Direktur Eksekutif PASPI (Palm Oil Industries Agribusiness Strategic and Institute) peluang untuk mengatasi kemiskinan melalui industry sawit ini semakin terbuka karena karakteristik masyarakat pedesaan yang memang masih banyak hidup dari sector pertanian.

Dari data BPS, 50 persen penduduk Indonesia berada di pedesaan dan 63 persen penduduk miskin Indonesia berada di pedesaan.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Kepala Sawit Indonesia, Asmar Arsjad, efek positif sawit sudah terlihat dari pola kemitraan dengan masyarakat sekitar perkebunan yang selama ini dijalankan perusahaan sawit. Misalnya, dengan menjadikan masyarakat sebagai petani plasma.

Sayangnya, pola yang sudah sangat baik ini, menurutnya, tengah menghadapi banyak hambatan seperti adanya kebijakan bea keluar dan moratorium yang banyak merugikan petani sawit.

Dari sisi petani juga ada kendala yang perlu solusi, yaitu masalah modal. Modal sangat dibutuhkan petani untuk meremajakan kebun plasma.

Sebenarnya sumber dana itu sudah tersedia, yaitu dana bea keluar serta dana moratorium hasil kesepakatan pemerintah Norwegia. Sejauh ini, menurutnya, dana bea keluar yang terkumpul sudah sebesar Rp100 triliun sedangkan dana moratorium sebesar 1 milyar dolar Amerika dan sana Revitbun Rp500 triliun.

“Manfaatkan dana-dana ini untuk program ‘replanting’ rehabilitas dan perluasan Kelapa Sawit Nasional,” katanya yang berharap pemerintah lebih berpihak kepada kelapa sawit rakyat.

Pada seminar yang diselenggarakan yang diselenggarakan Perum LKBN ANTARA Biro Sulsel untuk jurnalis dan mahasiswa itu menghadirkan empat pembicara yakni Prof La Ode dari Universitas Hasanuddin, Sekjen Asosiasi Petani kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Asmar Arsjad, Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Dr Ir Tungkot Sipayung dan Wartawan Senior Jawa Pos Group Kurniawan Muhammad.

(Seper-16/4)



14 April, 2014

Main-main Nasib Ahli yang Mahal

Dahlan Iskan

Saya merasa bersalah. Salah besar. Terutama kepada anak muda yang hebat ini: Ricky Elson.

Dia sudah enak hidup di Jepang. Sekolahnya pintar dan setelah lulus pun langsung diminta untuk bekerja di perusahaan besar di sana.

Gajinya bagus dan kariernya melejit. Perusahaan itu juga memberikan lapangan yang luas yang bisa dia pakai untuk berkiprah.

Ricky Elson menemukan banyak inovasi kelas dunia. Selama bekerja di Jepang dia berhasil mematenkan 14 penemuan di lembaga paten di Jepang, terutama di bidang motor listrik. Anak yang begitu lulus SMA di Padang ini langsung sekolah di Jepang, menjadi anak emas di sana.

Kesalahan saya adalah memintanya pulang ke Indonesia. Untuk mengabdi ke bangsa sendiri. Cukuplah mengabdi 14 tahun untuk bangsa Jepang.

Di berbagai kampus universitas kita, saya memang sering mendengar teriakan mahasiswa seperti ini: mengapa tidak diusahakan memanggil pulang anak-anak bangsa yang hebat-hebat yang kini di luar negeri.

Terakhir suara seperti itu saya dengar waktu dialog dengan mahasiswa Politeknik Negeri Denpasar, dan saat dialog dengan mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Purwokerto dua minggu lalu.

Pertanyaan seperti itu juga disuarakan banyak kalangan, di berbagai kesempatan.

Tentu saya mencoba untuk realistis. Jangan semua anak kita yang hebat dipanggil pulang. Panggillah yang benar-benar diperlukan untuk proyek mendesak yang bisa mengeluarkan bangsa ini dari kesulitan.

Saya melihat bangsa ini lagi terbelit masalah besar. Yang belum menemukan jalan keluarnya yang jelas, yakni persoalan ketergantungan bangsa ini pada bahan bakar minyak (BBM) impor. Kian lama impor BBM kita kian besar. Dan, akan kian besar.

Salah satu solusi yang saya lihat adalah mobil listrik. Bukan karena saya ahli mobil listrik, melainkan begitulah pendapat ahli di seluruh dunia. Kalau kita terlambat mengembangkannya, kita akan terantuk lubang untuk kedua kalinya. Mobil-mobil listrik buatan asing akan membanjiri Indonesia dalam 15 tahun ke depan.

Maka, saya merayu Ricky untuk pulang. Memang dia semula menolak. Gajinya akan turun drastis. Dia sudah menikah. Perempuan Padang juga. Dia sudah harus bertanggung jawab pada keluarga.

Alasan penolakan terbesarnya adalah ini: apakah saya akan berarti? Apakah saya akan mendapatkan keleluasaan untuk mencipta? Apakah pemerintah indonesia akan memberikan dukungan? Apakah proyek itu benar-benar akan bisa jalan? Dan, banyak pertanyaan yang sifatnya jauh dari urusan uang seperti itu.

Soal gaji yang akan turun, saya bisa mencarikan jalan keluar. Biarlah seluruh gaji saya sebagai menteri dialah yang menerima. Setiap bulan. Akan tetapi, soal jaminan kelangsungan proyek saya sulit memberikan, kecuali bahwa saya akan ikut all out, termasuk membiayai seluruh pembuatan mobil-mobil listrik prototype.

Ricky memenuhi komitmennya. Membuat mobil listrik 100 persen made in Indonesia. Dia juga berhasil membina tenaga-tenaga ahli di Pindad agar bisa membuat bagian yang paling sulit dari mobil listrik: motor listrik.

Akan tetapi, nasib mobil listrik kini kian tidak jelas. Aturan tentang mobil listrik tidak segera keluar. Sikap Bapak Presiden sendiri sudah sangat jelas: berikan dukungan yang maksimal untuk mobil listrik. Nyatanya sulitnya bukan main.

Kini Ricky menganggur di Indonesia. Dia seperti harus menunggu Godot. Maka, dia mulai merasa hidup sia-sia. Dia ingin kembali ke Jepang. Dia tidak berani mengatakannya langsung kepada saya, tetapi dari beberapa tulisan tentang Ricky di Kompasiana saya bisa merasakan dukanya yang dalam.

Bahkan, salah seorang temannya di Jepang meledeknya dengan kalimat ini: sudah puaskah Anda hanya main-main di Indonesia?

Saya merasa bersalah. Saya tidak akan mampu menahannya, terutama karena masa depannya yang tidak boleh dikorbankan.

Ricky sebenarnya sangat ideal bagi saya. Selama hampir dua tahun di Indonesia dia kerja amat keras. Sama sekali tidak menonjolkan diri sebagai seorang ahli. Dia sangat ringan kaki. Mau terjun ke bawah dan mengurus hal yang detail.

Dia tidak segan-segan ikut angkat-angkat barang. Dia mau membina dan mengajar secara telaten dan sistematis, seperti mempraktikkan dan menularkan ilmu yang dia peroleh selama di Jepang.

Saya masih berharap, kalau perjuangan mobil listrik sudah jelas, kelak akan merayunya kembali untuk pulang ke Indonesia.

*Dahlan Iskan, Menteri BUMN RI

(Setper-14/4)



11 April, 2014

UNFINISHED, Proses Belajar Tanpa Akhir

Foto Pameran UNFINISHED/div>

 

Pameran tahunan bagi peserta Workshop Fotografi Reguler di Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) kembali digelar. Pada tahun penyelenggaraan ke-19 ini sebanyak 32 peserta (16 kelas Dasar dan 16 kelas Jurnalistik), akan memamerkan total 204 karya terdiri dari 82 foto tunggal dan 16 esei (122 foto) dalam sebuah pameran foto bertajuk “UNFINISHED”.

Pameran hasil workshop ini adalah bentuk pertanggungjawaban peserta selama mengikuti kelas dasar dan kelas jurnalistik dan juga merupakan bentuk ekspresi serta kesiapan untuk hadir di tengah masyarakat melalui media seni fotogafi.

Workshop yang berlangsung selama setahun ini dimulai dari proses seleksi calon peserta hingga penyelesaian tugas akhir berupa pameran bersama yang sudah merupakan tradisi di GFJA. Unfinished sendiri adalah tema hasil dari proses demokrasi para peserta yang menyadari bahwa proses yang mereka dapatkan dari kegiatan pembelajaran informal ini diyakini tidak akan pernah selesai selama hayat dikandung badan.

“Bagi kami fotografi bisa menjadi gerbang untuk mempelajari segala hal-hal baru di sekitar kita, itu tandanya pembelajaran tak akan berhenti sampai seseorang menghembuskan nafas terakhir”, ujar seorang peserta.

Program yang dilaksanakan rutin setiap tahun oleh GFJA ini memang antaralain bertujuan sebagai pembelajaran dan bekal yang diharapkan dapat membawa perubahan tingkah laku atas keterampilan yang baru.

Sejak awal pertemuan kelas, peserta didorong untuk memahami arti penting mengetahui hasil yang diharapkan dari workshop ini dan seberapa penting bagi mereka untuk mencapainya. Metode pembelajaran dalam workshop ini tidak ditentukan oleh nilai, namun instruksi dan pendekatan dibangun untuk mengarahkan mereka agar mampu menyelesaikan tugas atau memecahkan masalah yang dihadapi secara mandiri.

Tidak sedikit kendala yang ditemui dalam perjalanan pendidikan termasuk persiapan pameran selama setahun ini. Memang para peserta didorong untuk berbuat dan “salah” namun mereka selalu diberi kesempatan untuk memperbaikinya tanpa harus merasa bahwa kesalahan adalah akhir dari segalanya. Sanksi tetap dihadirkan tetapi penghargaan tetap diberikan apabila mereka berhasil melalui masa-masa sulit, sehingga pepatah “bahkan di ujung cemeti pun masih ada kasih” menjadi fakta di atas karya.

Pameran yang akan dibuka oleh Direktur Utama Kantor Berita Antara Saiful Hadi, Kurator GFJA Oscar Motuloh, pada Jumat 11 April 2014 Pk. 19.30 WIB dihadiri tamu undangan serta para sponsor dan berlangsung hingga 11 Mei 2014 mendatang.

Masyarakat umum dapat menyaksikan pameran ini di Galeri Foto Jurnalistik Antara, jalan Antara no. 59-61, Pasar Baru, Jakarta Pusat , setiap hari kerja dari pukul 09.00 – 21.00 WIB (Senin dan hari besar nasional tutup).

(Setper-10/4)



11 April, 2014

GFJA Selenggarakan Pameran Foto “UNFINISHED”

Poster Pameran UNFINISHED
Galeri Foto Jurnalistik ANTARA
mempersembahkan
Pameran Foto
“UNFINISHED”

Galeri Foto Jurnalistik ANTARA
Jl. ANTARA 59, Pasar Baru, Jakarta 10710

11 April - 11 Mei 2014

Pembukaan:Jumat 11 April 2014, 19.00 WIB
Saiful Hadi (Dirut LKBN ANTARA)
Yovita Ayu (jejak Petualang)

Gallery Talk
Travelling Photography
Sabtu, 3 Mei 2014, 15.00 WIB
Pembicara:
Safir Makki (The Jakarta Globe)
Edy Purnomo (Freelance)

Neo-Journalism Club
Jl. ANTARA 61, Pasar Baru, Jakarta 10710

Campus Roadshow:
Kampus, 8 Mei 2014
Universitas Nasional
Pejaten - Jakarta

LIVE Performance
White Shoes and The Couples Company
Wonderbra
The Bobrocks
Dolphin Division

(Setper-11/4)



7 April, 2014

Embung Budi dan Ceremende Ayam Bakar Masngut

Dahlan Iskan

Saya akan berkisah mengenai dua orang yang begitu memberi harapan. Masngut di Blitar dan Budi Dharmawan di Semarang. Dua-duanya sudah berumur lebih 70 tahun tapi masih saja das-des. Saya berinteraksi dengan Pak Budi minggu lalu dan dengan Pak Masngut Minggu pagi kemarin.

Pak Budi mengajak saya ke desa Wonokerto, sebuah desa di pelosok gunung Kabupaten Semarang. Saya sampai naik ojek untuk bisa masuk desa dengan jalan yang gonjang-ganjing. Mengejar waktu.

Pak Budi membina 100 orang di sini. Tanah mereka yang selama ini banyak menganggur ditanami buah naga. Pertamina menjadi pemberi modalnya.

Pak Budi yang pensiunan perwira TNI AL ini pilih membina petani miskin dengan tanaman yang memiliki nilai tambah tinggi: buah tropik. Di Wonokerto dengan buah naga. Di Boyolali dengan buah durian. Di lain tempat dengan buah kelengkeng.

Bertani buah tropik tidak akan punya musuh. Kecuali harga pasar. Pak Budi tidak mau membina petani padi atau pertanian bahan baku industri. Petani padi akan selalu menghadapi tekanan pemerintah. Petani bahan baku industri akan selalu mendapat tekanan dari kalangan pabrik.

“Kalau bertani buah tidak diatur oleh pemerintah maupun kapitalis industri,” katanya.

“Petani padi tidak akan bisa kaya karena harganya pasti ditekan pemerintah. Petani bahan baku tidak akan bisa kaya karena harganya ditekan oleh industri,” tambah Pak Budi.

Di Wonokerto itu, Pak Budi membangun embung 20 x 40 meter dengan dasar membran. Desa ini memang kering di musim kemarau. Embung itu untuk menampung air hujan selama rendheng. Air di embung itu akan cukup dipakai selama 5 bulan di musim kemarau. Khusus untuk mengairi dengan hemat kebun-kebun buah naga milik petani.

Di setiap desa binaan Budi Dharmawan selalu mengutamakan pembangunan embung. Inilah cara nyata untuk membantu petani pedesaan yang gersang yang biasanya mudah jatuh ke kemiskinan. Air hujan biasanya dibiarkan terbuang menjadi bencana. Pak Budi menjadikannya deposito berjangka.

Kini sudah 12 desa yang dibina Pak Budi. Semuanya berhasil dengan kadar yang berbeda. Tapi dia belum puas. Kualitas praktik pertanian desa binaan itu baru bernilai 7. Umumnya karena petani belum terbiasa mempraktikkan sistem pertanian modern. Tingkat disiplin mereka juga masih rendah.

Pak Budi ingin pada akhirnya mereka bisa meraih nilai 9, seperti kualitas kebun miliknya sendiri.

Pak Budi memang memiliki kebun buah. Dia pernah kerjasama dengan pemodal besar tapi mengecewakan. Pengusaha besar sulit untuk diajak membina usaha kecil. Pak Budi pilih berjuang dengan caranya sendiri. Membina petani miskin secara langsung. Memang dirasa cara ini lambat untuk menjangkau kemiskinan yang begitu luas.

Tapi dia memilih menghidupkan satu per satu desa miskin daripada hanya bicara terus tapi tidak kunjung berbuat.

“Sambil menunggu siapa tahu kelak ada presiden yang meng-copy cara ini dengan cepat dan masif,” kata adik kandung ekonom Kwik Kian Gie ini.

Saya harus mengaku kalah cepat dari Pak Budi. Ketika tahun lalu BUMN dan IPB sepakat mengembangkan buah tropik, saya pikir kamilah yang pertama melangkahkan kaki untuk buah tropik. Ternyata Pak Budi sudah lebih dulu, meski skalanya kecil.

Tentu juga masih ada orang-orang seperti Pak Budi di tempat-tempat lain.

Pak Masngut di Blitar juga tua-tua keladi. Di umurnya yang sudah 72 tahun, dia juga getol mempromosikan peternakan dan pertanian terpadu.

Minggu kemarin saya tidur di rumah manajer Pak Masngut untuk menyelami apa yang terjadi secara detil. Suara embikan kambing di kandang sebelah tempat tidur membuat ingatan saya kembali ke masa remaja di desa.

Pak Masngut memelihara ayam ratusan ribu ekor. Di sampingnya dibangun kolam ikan lele dan patin. Hematnya bukan main. Untuk lele itu dia hanya beli 30 persen makanan yang diperlukan. Yang 70 persen datang dari kandang ayam itu.

Ada tiga jenis makanan lele yang dihasilkan kandang ayam: kotoran ayam, bangkai ayam, dan ceremende.

Dari ratusan ribu ayam di kandang, dua persennya mati. Oleh berbagai sebab. Ayam-ayam mati itu langsung dibakar. Ayam bakar itulah yang dilempar ke kolam lele.

“Kalau tidak dibakar lelenya tidak mau makan,” ujar Pak Masngut. Lele ternyata sangat suka ayam bakar.

Kandang ayam juga menghasilkan ceremende: kecoak-kecoak kecil. Mula-mula ceremende itu dianggap pengganggu kandang ayam. Suatu saat Masngut menyapu kandang. Ceremendenya berlarian cari selamat. Sebagian terjatuh ke kolam lele. Masngut melihat ceremende itu segera dimakan lele.

Sejak saat itulah Masngut berkesimpulan ceremende sangat baik untuk makanan lele.

Maka ceremende yang muncul dari kotoran ayam justru dia kembangkan. Caranya: berikan akomodasi yang disenangi ceremende. Yakni tumpukan karton telur ayam. Di beberapa lokasi di kandang itu dia geletakkan lima karton tempat telur. Dalam beberapa hari lima karton tempat telur itu sudah penuh dengan ratusan ekor ceremende.

“Setiap hari kandang ini menghasilkan ceremende dua kwintal,” kata Pak Masngut. Baik ayam bakar maupun ceremende pastilah mengandung protein yang tinggi untuk lele.

Masngut berkesimpulan, untuk meningkatkan kesejahteraan petani tidak bisa lagi kalau tidak integrated farming.

Banyak sekali pelajaran yang saya peroleh dari Pak Masngut yang tidak lulus universitas ini. Mulai dari ayam, bebek, lele, patin, sapi perah, sampai burung hantu dan sawit.

Pak Masngut dan Pak Budi adalah ayat-ayat Tuhan yang hadir nyata di dunia. Dan di dalam masyarakat kita.

*Dahlan Iskan, Menteri BUMN RI

(Setper-7/4)



7 April, 2014

Surat Edaran Kementerian BUMN: Larangan Penggunaan Fasilitas Badan Usaha Milik Negara dalam Kegiatan Politik Praktis Menjelang Pemilihan Umum 2014

Surat Edaran Kemeterian BUMN 1
Surat Edaran Kemeterian BUMN 2
Surat Edaran Kemeterian BUMN 3


27 March, 2014

Hari Air 2014: Milyaran Penduduk Dunia Belum Dapatkan Akses Air yang Layak

Peringatan Hari Air

 

Kita tinggal di planet bumi yang 72% permukaannya ditutupi oleh air. Tanpa air kita tidak akan mampu bertahan hidup. Namun 97% air yang ada di bumi merupakan air laut yang tidak baik untuk dikonsumsi. Sisanya hanya sekitar 2,5% yang merupakan air tawar.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat, saat ini sekitar 780 juta orang di dunia tidak memiliki akses terhadap air bersih. Hampir 2,5 miliar orang tidak memiliki akses terhadap sanitasi yang memadai. Jika krisis air terus berlanjut, diperkirakan pada 2050 dua pertiga penduduk bumi bakal kekurangan air bersih.

Di Indonesia sendiri, hanya kurang dari 20% masyarakat yang memiliki akses air bersih untuk minum. Lebih dari 70% masyarakat Indonesia masih bergantung pada air tanah, air permukaan/sungai, mata air dan sumber air lainnya. Sebesar 56% sungai-sungai di Indonesia tercemar dan 74% sungai di Pulau Jawa saat ini sudah tercemar.

Dari waktu ke waktu sumber daya air bersih makin berkurang akibat pertambahan penduduk. Air bersih juga terpolusi oleh kurang lebih dua juta ton sampah setiap hari. Polusi ini muncul dari kegiatan sektor industri, kotoran manusia, kegiatan sektor pertanian, maupun produksi limbah cair.

Di beberapa wilayah air yang tersedia hanya air asin atau air keruh bahkan berbau. Dapatkah Kamu membayangkan jika Kamu tidak memiliki air bersih untuk diminum? Kita tahu untuk menjaga kesehatan dan tubuh berfungsi baik dan benar, kita harus minum minimal delapan gelas air sehari. Tentunya tidak sembarangan air, tetapi air murni. Hal ini dikarenakan hanya air murni yang dijamin tidak mengandung zat pencemar yang dapat membuat kita sakit. Rumah tangga yang mengalami krisis air bahkan tidak memiliki cukup air untuk mandi atau mencuci pakaian, apalagi untuk memenuhi kebutuhan air minum.

Lebih menyedihkannya lagi, dua lokasi paling tercemar di dunia berada di Indonesia. Blacksmith Institute, sebuah lembaga non-profit di bidang lingkungan yang bermarkas di New York menyatakan Kalimantan dan Sungai Citarum merupakan dua lokasi yang masuk ke dalam deretan 10 lokasi paling tercemar di dunia (the world’s worst polluted places in the world).

Laporan Blacksmith menyebutkan lebih dari 500 ribu orang terkena dampak langsung pencemaran di Sungai Citarum. Sementara lebih dari 5 juta orang terkena dampak tak langsung akibat polutan kimia yang dibuang di sungai dan terbawa aliran air. Kandungan timah, aluminium, mangan, dan konsentrat besi di sungai itu beberapa kali lebih tinggi dari angka rata-rata dunia. Sumber pencemaran berasal dari aktivitas industri dan domestik di sekitar sungai.

Oleh karena maraknya pencemaran air yang terjadi, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mencanangkan Hari Air Sedunia yang diperingati setiap tanggal 22 Maret. Tanggal tersebut dipilih sebagai satu hari dari satu tahun untuk merayakan ketersediaan air segar, sebagaimana direkomendasikan oleh Konverensi PBB tentang Lingkungan Hidup dan Pembangunan (UNCED).

Sejak 1993, berbagai tema telah diangkat pada peringatan Hari Air Dunia. Pada peringatan di tahun 2014 ini, Hari Air Sedunia mengambil tema Water and Energy (Air dan Energi). Water and Energy dipilih menjadi tema peringatan Hari Air Sedunia Tahun 2014 dengan mempertimbangkan keterkaitan yang erat antara air dan energi. Air dibutuhkan untuk menghasilkan hampir semua bentuk energi. Di lain sisi, energi dibutuhkan pada semua tahapan pengelolaan air, mulai proses pengambilan air dari sumbernya, pengolahan air, hingga distribusi air. Keterkaitan yang saling ketergantungan antara air dengan energi inilah yang dijadikan pesan utama dalam peringatan Hari Air Sedunia Tahun 2014.

Selain isu tersebut, berbagai pesan lain pun diangkat dan dikampanyekan kepada masyarakat internasional. Berbagai isu dan pesan tersebut antara lain, persediaan air dan energi sama-sama terbatas, namun permintaan justru meningkat. Yang kedua, menghemat energi adalah menghemat air, dan sebaliknya menyimpan air adalah menghemat energi. Ketiga, milyaran penduduk dunia masih belum mendapatkan akses akan layanan air dan sanitasi yang layak serta belum memperoleh listrik. Padahal air dan energi memiliki peran penting dalam pengentasan kemiskinan.

Jadi apa yang dapat kita lakukan pada Hari Air Sedunia tahun ini? Kita dapat memulainya dari langkah kecil dengan mengajarkan keluarga kita pentingnya air minum murni dan betapa banyaknya orang yang tidak memiliki akses air minum murni. Kita juga dapat mengorganisir kegiatan amal di daerah sekolah, perumahan atau kantor untuk menggalang donasi air minum murni yang akan disumbangkan ke daerah-daerah yang membutuhkan. Kita juga dapat mengadakan kerja bakti untuk membersihkan sungai-sungai di sekitar rumah kita.

Air merupakan salah satu elemen yang penting dalam kelangsungan hidup manusia. Untuk itulah kita harus terus menjaga kelestarian air agar tetap bersih dan jernih. Ketiadaan air bersih di dunia ini merupakan kerugian yang sangat besar bagi manusia. Hal ini dikarenakan ketiadaan air dapat diartikan sebagai kehancuran dari bumi ini.

(Seper-27/3)



24 March, 2014

Bianglala Xinjiang

Pameran Fotografi “Bianglala Xinjiang”

 

Ismar Patrizki, pewarta foto muda Divisi Mandiri Pemberitaan Foto Antara kembali menggelar pameran tunggal foto untuk kedua kalinya. Memilih tajuk “Bianglala XINJIANG”, Ismar menghamparkan pada kita buah-mata yang dipetiknya sebagai abstraksi dari perjalanan yang dilakukannya di kawasan barat-daya negeri China.

Wilayah Otonomi Xinjiang Uyghur adalah areal membara seperti halnya Tibet yang ingin memisahkan diri dari pemerintahan negeri merah. Namun, setidaknya lima etnis minoritas yang hidup berdampingan dengan damai di sana dengan budaya dan istiadat turun temurunnya masing-masing.

Sejarah panjang jauh sebelum Tentara Merah masuk dan menguasai mereka. Xinjiang memiliki perbatasan langsung dengan Pakistan, Tajikistan, Uzbekistan, Kirgystan, Kazakhstan, dan secara emosional lebih dekat dengan penduduk di negara-negara tersebut dibanding dengan China. Ismar yang diundang oleh media elektronik China diajak mengunjungi seluruh kawasan etnis yang ada kecuali etnik Uyghur yang berjiwa separatis dan memiliki gerakan untuk lepas dari penguasa tirai bambu. Belakangan setelah membujuk panitia, Ismar diijinkan berkunjung ke sana tepat pada saat masyarakat Muslim Uyghur merayakan Idul Fitri dengan khidmat. Dengan itu Ismar menunaikan reportasenya visualnya yang dipersembahkan bagi hati merdeka kita masing-masing.

Sejumlah imaji yang menampilkan sudut lain dari bianglala kawasan ruas-ruas perjalanan Marcopolo yang dikenal sebagai Jalur Sutra. Meskipun hanya diwakili oleh sehelai imaji di dalam foto, etnis Han yang menjadi mayoritas di negeri China, tampil dalam sebentuk metafora yang mengesankan pengawasan absolut dari sang gurita merah atas tanah orang-orang Uyghur dan etnis tradisional lainnya.

Simaklah potret-potret orang Han yang dipajang di Museum kota Shihezi, Xinjiang. Kota yang dibangun sebagai pusat mobilisasi etnis mayoritas Han. Pandanglah betapa mata itu seolah menyeruak ke dalam dinding-dinding bilik ruang keluarga di seluruh wilayah separatis negeri.

Sebentuk peringatan dengan senjata terhunus. Dari imaji yang atmosfirnya terbentang di ruang pamer GFJA, di lokasi dimana kemerdekaan dan kemajemukan dijunjung tinggi, serta semangat egaliterisme direfleksikan dalam keseharian. Maka imaji-imaji yang dipetikkan Ismar dari kawasan itu adalah renungan bagi umat manusia perihal kemandirian untuk menentukan nasibnya sendiri.

Oscar Motuloh
Kurator

BEING MINORITY
Bepergian bisa mengubah sudut pandang terhadap segala hal. Area terpencil berubah menjadi surga kecil yang terasing. Demikian juga daerah konflik bisa jadi malah menyimpan pelajaran hidup penuh makna.

Barat China pun menyimpan keajaiban demikian. Jalur perdagangan yang terkenal dengan istilah Jalur Sutra menjadi mutiaranya. Terbentang menghubungkan China, Eropa, dan India. Jalur Sutra menyimpan banyak keindahan dan kekayaan budaya, salah satunya dijumpai di wilayah Xinjiang, China.

Beragam suku tinggal di Xinjiang. Etnis Han, sebagai etnis utama bangsa China, merupakan etnis mayoritas. Etnis Han dimobililasi ke daerah Xinjiang dengan alasan pemerataan ekonomi dan menjaga wilayah perbatasan. Suku-suku lain di Xinjiang merupakan etnis minoritas, di antaranya Uygur dan Kazakh yang merupakan pemeluk Islam, etnis Mongol yang mendiami kawasan stepa di Xinjiang Utara, etnis Daur yang menganut aliran kepercayaan Shaman, dan etnis Rusia yang masuk pada sekitar abad 18 dan mendiami sebagian kawasan utara Xinjiang. Setiap etnis memiliki latar belakang sejarah dan adat istiadat sendiri, tapi kesemuanya menggantungkan hidup pada kemurahan alam yang membentang di Xinjiang.

Berkunjung dan melihat langsung berbagai etnis di kawasan Xinjiang selama sekitar tiga pekan mulai akhir Juli hingga pertengahan Agustus 2013 rasanya tidaklah cukup. Tidak banyak yang bisa diungkap secara mendalam mengenai realita hidup etnis-etnis minoritas di Xinjiang.

Namun, sesuatu yang cukup berkesan yaitu saat merayakan Idul Fitri 1434 H bersama warga etnis minoritas di Xinjiang. Sebuah perayaan Idul Fitri di ‘Negeri Tirai Bambu’ yang jauh dari hingar bingar kemeriahan, hanya perayaan yang dilakukan sederhana dengan melaksanakan salat Id bersama warga etnis Uygur di salah satu masjid kecil di pelosok wilayah Hoboksar, makan bersama warga etnis Kazakh di pelosok Kota Tacheng, dan berpesta ala pedesaan bersama warga nonmuslim dari etnis Mongol di padang rumput Chagankule. Di sana, etnis-etnis minoritas Xinjiang hidup berdampingan dan berusaha bertahan dari terpaan gelombang kedatangan etnis mayoritas. Dan di daerah terpencil di barat ‘Negeri Merah’ itu pula, bianglala kehidupan tercipta.

Ismar Patrizki
Pewarta Foto



24 March, 2014

Di Selo Harapan Baru Itu Terbuka

Dahlan Iskan

 

Tiba-tiba saya bisa tahlilan di Grobokan. Di kuburan seorang tokoh: Ki Ageng Selo. Tidak saya sangka kalau makam tokoh itu di dekat kebun kedelai yang saya tinjau Rabu lalu.

Itulah tokoh yang namanya saya pakai untuk mobil listrik generasi kedua putra petir: Selo.

Sebuah mobil sport warna kuning yang baru dipamerkan di Universitas Atmajaya Jakarta dan juga di Palembang sana.

Nama Selo kami ambil karena ada legenda yang sudah terkenal, bahwa Ki Ageng Selo mempunyai kemampuan menangkap petir.

“Benarkah makamnya di desa Selo ini,” tanya saya pada Bupati Grobogan Bambang Pudjiono yang menyertai saya meninjai kebun kedelai unggul itu. “Saya pikir makamnya di Jogjakarta,” tambah saya.

Kalau Pak Bupati tidak menginfokan keberadaan makam ini, tentulah saya tidak akan pernah bisa “permisi” menggunakan nama beliau untuk mobil listrik kita.

“Jangan-jangan karena belum pernah minta izin itulah sehingga nasib mobil listrik tidak segera jelas sampai sekarang,” gurau teman saya yang ikut ke Grobogan.

Maka di makam Ki Ageng Selo itu, di samping tahlil, saya juga curhat (dalam hati) mengenai sulitnya prosedur mengurus mobil listrik itu di pemerintah. Padahal negara lain sudah kian kencang saja larinya.

Hari itu saya ke Grobogan untuk dua acara: gropyokan tikus dan meninjau tanaman kedelai binaan Bank Mandiri. Berita keberhasilan teknik baru gropyokan tikus di Godean Jogja dulu ternyata telah menginspirasi banyak daerah untuk melakukan hal yang sama.

Maka hari itu tim Brigade Hama PT Pupuk Indonesia mensosialisasikan cara-cara baru tersebut.
Dari gropyokan tikus inilah saya menuju desa Selo. Saya lihat tanaman kedelainya sudah mulai berbuah. Memang agak aneh di bulan Maret begini bisa tanam kedelai. Itulah tanaman kedelai di luar musim.

Ini memang hanya bisa dilakukan di daerah-daerah tertentu. Terutama yang kontur tanahnya agak tinggi. Sehingga di saat turun hujan tidak akan ada air menggenang. Pengolahan tanahnya pun sedemikian rupa sehingga air hujan bisa langsung meninggalkan lokasi.

Promotor tanaman kedelai ini adalah Adi Widjaya. Dialah putra daerah Grobogan lulusan Universitas Satya Wacana Salatiga yang memenangi lomba technoprenuer Bank Mandiri.
Mikroba temuannya telah memenangkan hadiah Rp 1 miliar. Dengan syarat hadiah itu untuk pengembangan kedelai dengan menggunakan temuannya itu.

Adi berhasil mengumpulkan petani yang mau mencoba teknik dan pupuk yang dia temukan. Tentu dengan benih dan pupuk yang diberikan gratis dari uang Rp 1 miliar itu. Total terkumpul sekitar 1.000 hektar tanah yang mau dipakai uji coba.

Inilah kedelai unggul yang luar biasa. Dengan menggunakan teknik baru itu akan bisa dihasilkan 2,5 ton per hektar. Sekitar dua kali lipat dari produksi kedelai dengan cara lama.

Kalau saja semua petani kedelai menggunakan cara ini, maka kekurangan produksi kedelai nasional bisa diatasi. Impor kedelai bisa dikurangi secara drastis.

Tanaman kedelai yang saya tinjau itu memang sangat jelas bedanya. Daunnya lebih tebal, pohonnya lebih tinggi, dan cabang-cabangnya lebih banyak.

Daun yang tebal itu berfungsi untuk penyerapan sinar matahari yang lebih maksimal.
Cabang yang banyak itu berfungsi untuk menghasilkan buah kedelai yang lebih banyak.

Mengapa kedelai ini ditanam di luar musim? “Agar hasilnya bisa untuk benih yang akan ditanam di musim tanam akan datang,” ujar Adi Widjaya yang setelah lulus Satya Wacana meneruskan kuliah di Australia itu.

“Jadi, tanaman kedelai ini bukan untuk dikonsumsi, tapi untuk benih,” tambahnya.

Tentu para petaninya beruntung. Dengan panen di luar musim harga kedelainya sangat baik. Apalagi kualitas benih.

Maka persoalan berikutnya adalah ini: maukah petani di desa Selo itu menanam kedelai dengan teknik yang sudah mereka kuasai itu tanpa bantuan dari Bank Mandiri lagi? “Mauuuuuuu,” jawab para petani itu serentak.

Tentu saya masih khawatir dengan jawaban itu. Jangan-jangan hanya karena ada saya. Atau karena ada Pak Bupati Bambang Pudjiono. Maka satu per satu saya tanya mengapa mereka mau meneruskan sendiri teknik baru itu tanpa bantuan.

“Hasilnya sudah kelihatan jelas berbeda,” ujar seorang petani yang masih muda . “Kami mau maju Pak Menteri,” ujar yang lain.

“Niki mboten mawi bantuan malih lho. Tetep sanggup,” tanya saya. “Sangguuuuup,” ujar petani serentak.

Saya tegaskan bahwa Bank Mandiri saya minta tetap memberikan dana, tapi untuk desa lain. Agar penggunaan teknik baru itu segera meluas. “Mangertooooos,” jawab mereka.

Memang, seperti dijelaskan Adi Widjaya, untuk menerapkan teknik baru itu biayanya bertambah Rp 500.000 per hektar. Tapi hasilnya bertambah Rp 3 juta.

Inilah yang juga saya khawatirkan. Kadang, dengan alasan lagi tidak punya uang, petani mengorbankan hasil yang maksimal. Karena tidak ada uang, petani pasrah: menerima saja hasil seadanya.

Itulah sebabnya program “yarnen” (bayar setelah panen) BUMN harus terus diperluas. Untuk mengatasi sikap pasrah para petani.

Tentu tidak hanya untuk kedelai. Saat ini kami juga lagi bicara dengan dua ilmuwan terkemuka kita yang hasil penemuannya belum dimanfaatkan secara memadai. Itulah topik Manufacturing Hope minggu depan.

*Dahlan Iskan, Menteri BUMN RI

(Setper-24/2)



24 March, 2014

Linda Amalia Ingatkan Untuk Pilih Caleg Perempuan

Linda Gumelar

 

Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari Gumelar dalam diskusi “Kebijakan Peningkatan Partisipasi Perempuan Dalam Politik” di Perum LKBN ANTARA, Jumat, 28 Februari 2014 mengajak semua lapisan masyarakat yang sudah punya hak suara dalam Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2014 agar memilih calon anggota legislatif perempuan guna memastikan kuota 30 persen perempuan di parlemen terwujud dan untuk kesetaraan gender.

“Pilihlah caleg perempuan. Kami tidak mau kuota perempuan 30 persen itu hanya pada calon anggota tetapi harus benar-benar yang jadi, atau terpilih. Kalau sekadar calon hanya calon tetap atau tetap calon, tidak jadi,” kata Linda, Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) periode 2004-2009 ini.

Dalam diskusi dengan moderator Direktur Pemberitaan ANTARA, Akhmad Kusaeni, Linda mengingatkan hingga kini keikutsertaan perempuan yang sebesar 30% dalam prakteknya di parlemen belum tercapai meskipun Undang Undang No.8 Tahun 2012 telah mengatur hal tersebut. Perempuan kelahiran Bandung, 62 tahun lalu tersebut juga menyebutkan perempuan anggota DPR hasil Pemilu 2009 baru sekitar 18 persen atau 82 orang dari 560 anggota DPR RI.

Sedangkan perempuan anggota MPR sebanyak 20 persen atau 80 orang, perempuan anggota DPD 27 persen atau 73 orang, perempuan anggota DPRD provinsi sebesar 16 persen atau 84 orang, dan anggota DPRD kabupaten/kota sebesar 12 persen atau 88 orang.

Ia berharap pada Pemilu 2014 ini keterwakilan perempuan di parlemen benar-benar dapat terwujud sebagaimana kuota 30 persen keterwakilan perempuan di parlemen.
“Lebih dari itu, sebenarnya tidak cukup hanya pemenuhan kuota tetapi harus benar-benar menyentuh pada substansi soal pemberdayaan perempuan,” kata Linda kepada peserta diskusi yang berasal dari kalangan media, praktisi dan organisasi masyarakat.

Menanggapi komentar peserta diskusi bahwa akses perempuan dalam berpolitik sudah tak ada aral melintang dan dibuktikan dengan Presiden RI yang pernah dijabat oleh Megawati Soekarnoputeri, Linda mengatakan bahwa memang sudah tidak ada halangan untuk akses tersebut.

“Namun dalam bidang kesehatan, akses terhadap perempuan masih menjadi persoalan mengingat angka kematian ibu atau kepesertaan perempuan dalam memperoleh akses pendidikan, pekerja perempuan juga lebih banyak pada sektor informal. Pemerintah ingin semua akses juga dirasakan oleh perempuan,” kata Linda dengan suara mantap.

(Setper-24/2)