ilustrasi
england-flag

English

england-flag

Indonesia

SIARAN PERS

21 August, 2014

Masyarakat Ekonomi ASEAN, Peluang atau Tantangan?

Masyarakat Ekonomi ASEAN atau yang biasa disingkat MEA sudah di depan mata. Apabila tak ada aral melintang, pada akhir 2015 negara-negara di kawasan Asia Tenggara akan memasuki era baru yang disebut sebagai Masyarakat Ekonomi ASEAN. MEA adalah suatu bentuk integrasi ekonomi ASEAN yang bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, mengurangi kemiskinan, serta meningkatkan standar hidup penduduk Negara anggota ASEAN.

ASEAN dengan MEA menjadi seperti sebuah konsep Negara federasi yang baru. Menjanjikan kekuatan ekonomi yang baru, yang diproyeksikan sebagai penyeimbang kekuatan ekonomi global. Melalui MEA, ASEAN menjadi sebuah tatanan masyarakat yang baru dimana Negara-negara anggotanya bebas untuk melakukan aktivitas ekonominya baik dalam barang dan jasa.

Dengan pencapaian tersebut, maka ASEAN akan menjadi pasar tunggal dan basis produksi dimana terjadi arus barang, jasa, investasi dan tenaga terampil yang bebas serta aliran modal yang lebih bebas. Adanya aliran komoditi dan faktor produksi tersebut diharapkan membawa ASEAN menjadi kawasan yang makmur dan kompetitif dengan perkembangan ekonomi yang merata, serta menurunnya tingkat kemiskinan dan perbedaan sosial-ekonomi di kawasan ASEAN.

Dalam penerapannya pada tahun 2015, MEA akan menerapkan 12 sektor prioritas yang disebut free flow of skilled labor (arus bebas tenaga kerja terampil) untuk perawatan kesehatan (health care), turisme (tourism), jasa logistik (logistic services), e-ASEAN, jasa angkutan udara (air travel transport), produk berbasis agro (agrobased products), barang-barang elektronik (electronics), perikanan (fisheries), produk berbasis karet (rubber based products), tekstil dan pakaian (textiles and apparels), otomotif (automotive), dan produk berbasis kayu (wood based products).

Dengan diberlakukannya MEA, negara-negara yang tergabung dalam ASEAN akan menjadi sebuah Negara besar. Penduduk di Negara ASEAN akan dapat secara bebas masuk dan keluar dari suatu Negara di kawasan ASEAN tanpa hambatan berarti. Hal ini mengakibatkan penduduk di Negara-negara ASEAN dapat dengan mudah dan bebas memilih lokasi pekerjaan yang mereka inginkan.

Menteri Perindustrian, Mohamad S. Hidayat mengatakan bahwa pelaku industri harus siap hadapi pemberlakukan Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 yang sudah semakin dekat. ”Pemberlakuan MEA 2015 sudah semakin dekat, yaitu akhir Desember 2015,” kata Menteri Perindustrian MS Hidayat di Jakarta, Juli lalu.

Bagi Indonesia sendiri, MEA dapat menjadi peluang sekaligus tantangan. Hambatan perdagangan yang berkurang akan berdampak pada peningkatan ekspor. Pada akhirnya GDP Indonesia pun akan meningkat. Namun di sisi lain, Indonesia pun terancam akan menerima banyak aliran barang impor. Hal ini dapat mengancam keberadaan industry lokal. Industri lokal akan dihadapkan pada persaingan dengan industri dari luar negeri yang memiliki produk yang lebih berkualitas.

Dari sisi investasi, MEA akan mendukung masuknya investor asing yang dapat menstimulasi pertumbuhan ekonomi. Namun, kondisi tersebut dapat memunculkan exploitation risk apabila Indonesia masih memiliki tingkat regulasi yang kurang mengikat. Hal tersebut dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk melakukan tindakan eksploitasi terhadap ketersediaan sumber daya alam.

Dari sisi tenaga kerja, pertumbuhan investasi juga akan berpotensi untuk menambah jumlah lapangan kerja di dalam negeri. Pencari kerja akan memiliki kesempatan yang lebih besar karena lapangan pekerjaan tersedia dengan berbagai kebutuhan keahlian yang beragam. Selain itu pencari kerja di Indonesia dapat mencari pekerjaan di luar negeri dengan aturan yang lebih mudah.

Namun hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia. Indonesia harus bersaing dengan penduduk dari Negara lain untuk mencari kerja di negaranya sendiri. Untuk itu, penduduk Indonesia harus bisa meningkatkan kualitas pendidikan dan produktivitasnya. Hal ini dikarenakan dari sisi pendidikan dan produktivitas Indonesia masih kalah bersaing dengan tenaga kerja yang berasal dari Malaysia, Singapura, dan Thailand serta fondasi industri yang bagi Indonesia sendiri membuat Indonesia berada pada peringkat keempat di ASEAN.

Senada dengan hal-hal tersebut, MS Hidayat mengatakan bahwa ASEAN Economic Community atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) merupakan sebuah peluang sekaligus tantangan bagi industri dalam negeri. MEA 2015 merupakan momen penting bagi Indonesia karena berpeluang mempeluas pasar bagi produk-produk industri nasional.

“Namun di sisi lain, pemberlakuan MEA 2015 juga akan menjadi tantangan karena penduduk Indonesia yang sangat besar, tentunya akan menjadi tujuan pasar bagi produk-produk negara ASEAN lainnya. Karenanya industri dalam negeri harus siap,” ujarnya.

Oleh karena itu, Indonesia harus jeli dalam menerapkan strategi untuk menghadapi MEA. Pemerintah harus bisa membuat kebijakan-kebijakan strategis untuk mendorong keterlibatan masyarakat Indonesia dalam MEA. Jangan sampai nantinya Indonesia hanya menjadi pasar untuk industri-industri luar negeri, sedangkan industri lokal hanya bisa menjadi penonton dalam ajang tersebut.

(Setper-21/8)



18 August, 2014

Catatan Oscar Motuloh dalam Pameran Foto “Kisah Anak-anak Serigala”

Saujana perkotaan bisa menjadi bingkai masuk bagi sebentuk detil visual bernama atmosfir. Dari sana, atmosfir seperti tergiring menjadi detil-detil fotografi yang membawa kita seolah melangkah tergopoh pada suatu lorong panjang di bawah kanopi bernuansa buram. Pada sisi dinding-dindingnya garis-garis diagonal memberkas terpantul oleh cahya penerangan kota. Bayangan gelap seperti mengejar langkah-langkah yang semakin bergegas. Lensa pada mata fotografer yang sensitif nyaris selalu mampu menggerakkan sebentuk diam. Lalu meneroboskan konten kemana pun imajinasi menginginkannya. Gejala ini adalah antitesis dari teori freezing, atau membekukan gerak yang kita kenal dalam fotografi.

Dari gerbang kota dan jutaan persoalan serta hipokrasi yang membelitnya, baiklah kita mencoba menelisik kilasan fakta politik dari arsip-arsip visual yang seolah membeku. Meskipun vonis demi vonis telah dijatuhkan kepada para tersangka koruptor yang mewabah di parlemen dan juga menjamur subur di kalangan pemerintahan.

Cerita anak-anak serigala metropolis bermula dari sini. Melalui imaji-imaji kontemplatif yang dipetik pewarta foto Kantor Berita Antara Fanny Octavianus. Dari situ kita dapat menyimak bagaimana busuknya moral pengelola partai politik pasca Reformasi. Yang hanya menjerumuskan masyarakat pada rentetan teladan memalukan yang jauh dari sebentuk idiil bernama pendidikan politik. Media menyiarkan kasus korupsi nyaris seperti dosis minum obat. Pemeo Lord Acton yang menyitirkan tendensi kekuasaan adalah menyalahgunakannya, tetap relevan berkilau sinarnya di tanah air bahkan hingga di penghujung pemerintah yang sedang berkuasa sekarang.

Budaya korupsi dan nepotisme yang dahulu tersentral dan digarap dengan manajemen yang rapih selama 32 tahun pemerintahan Orde Baru. Kini terfriksi dalam faksi-faksi kecil yang sejatinya justru lebih tamak dan jauh lebih berbisa ketimbang pagutan ular biludak. Usia bagi para politisi muda partai berkuasa dan satelitnya tak dimatangkan untuk mewujudkan amanat Gerakan Reformasi lima belas tahun silam. Tapi seperti menguburkannya sedalam mungkin demi mengejar setoran parpol. Yang muda, yang korupsi. Begitulah barangkali pemeo mereka. Mumpung kekuasaan berada dalam genggaman gerombolannya.

Simak juga, telah berapa ratus Kamisan yang digelar masyarakat dalam suasana perkabungan panjang di pelataran Monas? Tepat di seberang halaman Medan Merdeka Utara, persemayaman resmi Presiden Republik Indonesia. Gerakan yang secara konsisten mengingatkan rezim demi rezim pasca Reformasi untuk mampu menghadirkan keadilan atas kehidupan masyarakat yang terzalimi. Sepuluh tahun kekuasaan dari periode maksimal SBY telah tiba di ujung jalan. Satu dasawarsa tampaknya akan berlalu dengan sia-sia. Tanpa sedikitpun warisan pendidikan politik yang dapat diestafetkan bagi generasi masa kini. Apalagi bagi mereka yang tak sempat merasakan gejolak gerakan Reformasi.

Tak ada yang mengemuka kecuali politik pencitraan yang sungguh semu. Politik Indonesia pasca Reformasi adalah serigala berbulu domba. Setelah masa transisi tiga presiden, mestinya sepuluh tahun terakhir ini adalah ajang lepas landas yang pas untuk mewujudkan amanat dari Gerakan Refomasi. Sebentuk gerakan moral yang berhasil menumbangkan induk semang rezim serigala. Meskipun belakangan, salah satu tokoh penting gerakan Reformasi, sekarang malah membelotkan jiwa dan raga demi kembalinya kekuasaan pewaris tahta Orde Baru dalam drama pilpres 2014 yang berlangsung sungguh mencekam. Hukum memang telah gagal ditegakkan. Sehingga keadilan merana dan membiarkan kebencian merebak sampai nanti bom itu akan meletus dan memporandakan keberagaman yang sejatinya merupakan kekuatan Indonesia.

Dalam hikayat Yunani kuno - ditanah kelahiran trio filsuf politik Socrates (469-399 SM), Plato (427-347 SM) dan Aristoteles (384-322 SM) - metamorfosis manusia menjadi serigala juga telah menjadi kisah paradoks yang kerap dikenakan kepada mereka-mereka yang menjadi generasi penerus dari dunia kegelapan. Orang-orang yang merancang kejahatan dari balik kekuasaan, harta benda dan agama. Likantrofi alias tahapan metamorfosis manusia berubah bentuk menjadi serigala telah menginspirasi dunia kreatif sehingga lahir karya sastra macam manusia serigala dan segala bentuk metamorfosis manusia hewani lainnya. Entah telah berapa banyak versi film yang telah dibuat untuk mitos wer-wuhlf, atau werewolf. Dedemit manusia jejadian yang memangsa manusia pada saat bulan purnama penuh.

Scene demi scene kebobrokan moral justru didengungkan sebagai berhala oleh parpol berkuasa. Realitas yang menghardik mimpi buruk seorang warga kota Jakarta yang kebetulan berprofesi sebagai sineas. Sutradara Lola Amaria kemudian menemukan metamorfosis itu pada ide kebobrokan politik yang diwakili oleh telinga seorang pemijat keliling bernama Naga (diperankan oleh Rifnu Wikana). Kuping yang mendengarkan begitu banyak kisah durjana di balik topeng-topeng politik yang dikenakan para pasien setianya. Lola menggandeng penulis Indra Tranggono untuk menuangkan ide itu ke dalam skenario yang diberi tajuk “Negeri Tanpa Telinga“ (NTT).

Diangkat ke layar perak sebagai film komedi hitam, NTT menggarap keberadaan politik busuk negeri antah berantah yang Komisi Pemberantasan Korupsi (KaPaK) nya kebetulan punya seragam tahanan yang juga berwarna oranye. Warna kostum seperti tahanan resmi KPK di tanah air. Dari still-movie yang diabadikan fotografer muda Sigit D. Pratama, maka kisah fiksi perihal mimpi Indonesia baru seperti menjadi nyata seperti imaji-imaji yang direkam Fanny Octavianus. Fanny dan Sigit kebetulan adalah dua fotografer yang nyaris konsisten merekam imaji Kamisan sejak kegiatan itu digelar untuk pertama kalinya. Realita dan rekaan yang berkejaran seperti bayangan yang memberkas dari program Fiksi Non Fiksi yang digarap Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) dengan sinematografi Indonesia sejak beberapa tahun belakangan ini. Kali ini kolaborasi konten NTT dan realita liputan Fanny dari lapangan realita.

Karakter dalam kisah fiktif namun terinspirasi dari fakta jurnalistik tersebut mengetengahkan segerombolan serigala yang semuanya adalah pasien dari Naga yang memainkan peran protagonis. Ada Piton (Ray Sahetapy), ketua Partai Martobat yang flamboyan, korup, gila perempuan tapi sangat berambisi jadi Presiden. Etawa (Lukman Sardi) rekan koalisinya adalah figur seorang culas, gemar berselingkuh, penjilat, tapi piawai menjajakan agama yang sekaligus digunakannya sebagai kedok yang ampuh untuk menggertak siapapun. Tentu Tikis, sang “femme-fatale“ yang diperankan dengan meyakinkan oleh Kelly Tandiono. Chita (Jenny Chang), anchor berita terkemuka dari jaringan TV 9, yang juga dipacari Piton. Chita pandai memelihara dendam membara di hatinya. Serta dokter Sangkakala (Landung Simatupang), yang gemar memainkan saksofon tenornya di sela-sela praktek. Namun karakternya disembunyikan dari pameran, mengingat porsinya akan lebih pas disaksikan di layar lebar bioskop kawasan Anda.

Seperti juga di Indonesia, maka satir dan sinisme film NTT, menegaskan bahwa pencitraan hanyalah melanggengkan kekuasaan yang Chauvinistik, sekaligus luarbiasa Maschiavelisnya. Ditambah dengan pemujaan materialistik masif dan tentu romansa-romansa selangkangan yang penuh dengan semangat hormonal. Kita sepakat dengan pendapat klasik Harold Lasswell yang menyatakan bahwa elite seperti ditakdirkan untuk memimpin kawula, “Many ruled by the few“. Namun ada saatnya rakyat yang mengajari parpol untuk berpolitik dengan elegan. Dari gapura ini, kita dapat menelisik betapa gambar statis dan gambar bergerak sesungguhnya seperti mata rantai yang berdimensi spektrum. Sekali waktu, yang bergerak menjadi diam, dan yang diam sekonyong-konyong bergerak. Untuk itulah program “Fiksi Non Fiksi” ini dipersembahkan sebagai alternatif yang kohesif.

Kekuatan visual adalah lestari. Melalui fotografi yang sensitif mampu terbangun imajinasi tanpa batas, begitu pula dengan sinema yang dibekukan dari karya-karya still-movie pada adegan demi adegan. Kita menatap optimisme pada ajang realita sosial bagaimanapun kelamnya. Dalam semangat satire, NTT menertawakan itu semua. Namun sekaligus memprovokasi perancangan visual sebagai monumen peringatan melawan lupa. Bahwa kebusukan tak boleh dibiarkan. Hentikan eksploitasi agama dan pencitraan sebagai berhala. Karena yang mendesak urgesinya adalah bagaimana hukum harus sungguh-sungguh ditegakkan. Agar gerombolan serigala dan vampir politik negeri dapat dimusnahkan setuntasnya.

Saujana perkotaan akhirnya juga menjadi bingkai untuk kembali. Dari sana, di pelataran aspal pelataran Monas nan gelap dan gersang, kita dapat berkaca pada topeng-topeng dan payung hitam yang setiap Kamis merelakan kehadiran mereka melawan lupa. Dari balik topeng-topeng bergambarkan wajah mendiang aktivis Munir, lagu Indonesia Raya sayup-sayup dikumandangkan dengan suara dan gumam yang lirih. Menyelinap dan merasuk ke halaman seberang sana. Ketika upacara mengenang detik-detik Proklamasi berlangsung dengan megah di antara tamu-tamu undangan Istana Merdeka yang mentereng. Menggugat pemerintahan yang penuh pencitraan, tapi bernyali bak benang basah. Meskipun lirih, suara itu masih ada dan akan terus berkumandang.

Tapi, adakah negeri ini masih bertelinga?

Oscar Motuloh
kurator



18 August, 2014

Merdeka Rp 6,7 Trilun di Usia 155 Tahun

Dahlan Iskan

 

Merdeka! Makna kata itu menjadi sangat mendalam khususnya bagi PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Tahun ini BUMN itu benar-benar merdeka. Terutama merdeka dari beban lamanya yang membuat perusahaan asuransi ini praktis bangkrut: Rp 6,7 triliun.

Dengan kemerdekaannya itu Jiwasraya tahun ini sudah kembali menjadi perusahaan asuransi yang besar, sehat, dan kuat. Menjadi perusahaan asuransi jiwa terbesar di Indonesia atau nomor empat terbesar untuk keseluruhan bisnis asuransi.

Angka Rp 6,7 triliun itu tentu mengingatkan kita pada besarnya persoalan yang menimpa Bank Century. Yang penyelesaiannya begitu menghebohkan. Yang kasusnya melebar sampai ke persoalan hukum dan politik. Yang memakan energi begitu besar.

Yang ujungnya pun kita belum tahu di mana dan ke mana.

Saya bersyukur bahwa direksi PT Asuransi Jiwasraya mampu menyelesaikan sendiri beban itu. Bahkan dalam waktu yang amat singkat. Tanpa heboh-heboh sedikit pun. Inilah bentuk penyelesaian masalah besar dengan pemberitaan yang sangat kecil. Bahkan tanpa pemberitaan media sama sekali.

“Semula saya pikir persoalan besar ini baru bisa diselesaikan dalam waktu 17 tahun,” ujar Hendrisman Rahim, Direktur Utama PT Jiwasraya. “Ternyata kami bisa menyelesaikannya,” ujar alumni FMIPA jurusan Matematika Universitas Indonesia, dan meraih master di bidang asuransi dari Ball State University Indiana, USA, itu.

Putra asli Palembang kelahiran tahun 1955 ini bekerja amat keras. Hendrisman memang orang “asuransi murni”. Setelah lulus UI dia mendalami ilmu aktuaria di ITB. Masternya pun di bidang actuarial science.

Tim direksi Jiwasraya juga sangat tabah. Direktur keuangannya, Hary Prasetyo, sangat muda, cerdas, dan cermat. Alumni Oregon dan Pittsburg University kelahiran Cimahi tahun 1970 ini seorang pekerja yang tekun. Karirnya terus di bidang keuangan.

Lima tahun lalu, Jiwasraya sebenarnya sudah harus dinyatakan bangkrut. Kekayaannya jauh lebih kecil dari kewajibannya kepada para pemegang polis. Selisihnya mencapai Rp 6,7 triliun. Jiwasraya sangat menderita. Bahkan secara teknis mestinya sudah bangkrut.

Ini bermula dari krisis moneter tahun 1998. Yang membuat dunia perbankan dan keuangan, terutama dunia asuransi, kelimpungan. Semua bank mengalami hal yang sama. Hanya saja bank mendapat pertolongan pemerintah: di-bail out habis-habisan. Sedang asuransi tidak.
Persoalan seperti yang dialami Jiwasraya hanya bisa diselesaikan dengan dua cara: diberi tambahan modal oleh pemiliknya, atau diberi fasilitas seperti zero coupon bond. Intinya, pemerintah harus menyuntikkan dana.

Tapi untuk diberi penambahan modal pasti tidak. Kemampuan keuangan negara terbatas. Apalagi saya memang tidak mau ada Penyertaan Modal Negara (PMN) untuk menyehatkan BUMN.

Program pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat lebih penting dan layak didanai dibanding menambah modal BUMN.

Menteri Keuangan sebenarnya sudah memproses cara berikutnya: memberi fasilitas zero coupon bond. Tapi tiba-tiba kasus Century meledak. Program itu dibatalkan.

Direksi Jiwasraya pun pusing. Harus cari jalan keluar sendiri. Padahal perusahaan harus tetap berjalan. Nasib hampir 10.000 agennya harus dipikir. Demikian juga lebih dari 1.200 karyawannya.
Sejarahnya pun begitu panjang: 30 Desember nanti Jiwasraya berumur 155 tahun. Masak harus meninggal dunia? Dia perusahaan asuransi tertua di republik ini. Bahkan jauh lebih tua dari republik kita sendiri.

Saya sungguh-sungguh salut kepada pak Hendrisman dan tim direksi Jiwasraya. Tidak putus asa. Pantang menyerah. Semangatnya tidak kendor.

Direksi akhirnya menemukan jalan keluar yang cerdas dan tuntas. Mereka memisahkan beban persoalan lamanya itu dengan kinerja operasionalnya.

Mereka harus kerja keras di dua sisi sekaligus: mencari jalan keluar atas beban Rp 6,7 triliun, dan kinerja operasionalnya harus terus membaik.

Kinerja yang terus membaik itulah yang utama. Dari hasil kinerja yang baik itulah timbul kepercayaan dari semua pihak: pemegang polis, pemegang saham, dunia reasuransi, OJK, Ditjen Pajak, dan seluruh pihak terkait. Hasil kerja keras itulah yang membuat siapa pun menaruh kepercayaan pada Jiwasraya.

“Kepercayaan” itulah yang akhirnya “dijual” atau “direasuransikan” kepada lembaga-lembaga asuransi internasional.

Ditjen Pajak pun percaya. Dengan kinerja yang terus membaik pajak yang akan dibayar Jiwasraya pun bisa terus membesar. Daripada Jiwasraya dibiarkan bangkrut yang tentu tidak akan bisa membayar pajak sama sekali.

Maka Ditjen Pajak pun setuju Jiwasraya melakukan revaluasi aset dengan fasilitas khusus. OJK juga terus membantu upaya penyehatan Jiwasraya itu.

Gooool! Beres. Dalam waktu singkat Jiwasraya sudah akan bisa membayar pajak melebihi fasilitas yang diberikan pada proses revaluasi itu.

Terima kasih Pak Hendrisman. Terima kasih Pak Hary Prasetyo. Terima kasih direksi Jiwasraya. Terima kasih OJK. Terima kasih Ditjen Pajak.

Jiwasraya tahun ini benar-benar merasakan kemerdekaan.

Merdeka!

*Dahlan Iskan, Menteri BUMN RI

(Setper-18/8)



11 August, 2014

Gerak Gerbong Mandalika Menuju Toba

Dahlan Iskan, Menteri BUMN RI

 

Sabtu kemarin, sehari penuh, saya praktis mengililingi pulau Lombok. Dari Mataram di barat, Gili Trawangan di utara, lokasi PLTU baru di timur, pembangkit hidro di tengah, dan menjelang senja tiba di Lombok Selatan: rapat dimulainya proyek Mandalika.

Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), BUMN yang mengelola BTDC Nusa Dua Bali itu, mendapat tugas membuat “Nusa Dua Baru” yang lebih besar di Lombok Selatan. Luasnya 1.200 hektar. Empat kali lebih luas dari Nusa Dua. Namanya: Mandalika.

Usai rapat, senja sudah lewat. Saya langsung menuju pantai terindah di kawasan Mandalika, di belakang Novotel: Pantai Kuta. Saya duduk di atas pasir putih menghadap laut selatan. Deburan ombaknya mengingatkan saya pada salah satu pantai di Bali. Angin bertiup sejuk. Bulan yang mendekati purnama tampak menor di langit bersih. Seperti baru keluar dari salon.

Dua teman saya yang datang dari Bali sudah menunggu saya di situ. Menemani istri saya yang sehari penuh saya tinggal keliling Lombok.

“Pantai ini punya empat karakter,” ujar Gus Marhaen, tokoh Bali yang duduk di sebelah saya. “Jenis gelombangnya seperti Sanur. Lengkung kanannya seperti Nusa Dua. Pemandangan kirinya seperti Padang Bai. Dan pasir pantainya seperti Kuta Bali,” kata dia lagi.

Gus Marhaen seorang seniman, pemilik universitas tertua di Bali, dan baru saja membangun Museum Bung Karno di Denpasar.

Penilaiannya itu menambah keyakinan saya bahwa proyek Mandalika akan menjadi pusat turis terbaik sejajar dengan kawasan Sanur-Kuta-Nusa Dua dijadikan satu. Memang kalau dilihat wujudnya sekarang kawasan Mandalika masih seperti padang gersang yang berdebu. Hotel yang besar ya baru Novotel itu. “Tahun 1975 lalu, Nusa Dua pun ya masih seperti ini,” ujar Gus Marhaen.

Proyek Mandalika seharusnya dimulai tahun 1990an: 20 tahun yang lalu. Investornya Emaar Properties dari Dubai. Tapi krisis ekonomi tahun 1998 yang begitu hebat membuat Mandalika menderita. Investornya tidak hanya angkat tangan tapi juga angkat kaki. Asset Mandalika disita BPPN. Lalu diserahkan ke BUMN.

Dua tahun terakhir ini segala macam keruwetan bisa diselesaikan. “Semua detail perencanaan juga sudah final,” ujar Dirut ITDC, IB Wirajaya. Dua bulan lalu semua izin sudah beres. Izin-izin sudah di tangan. Amdal sudah terbit. Bahkan, meski belum jelas apa manfaatnya, status Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sudah terbit.

Maka sudah waktunya pembangunan fisik dimulai: membangun jalan utama di dalam kawasan itu. Kini PT Waskita Karya lagi menyelesaikan badan jalan: lebar 40 meter, panjang 4 kilometer. Tiga bulan lagi pengerasan jalan ini harus sudah selesai. Agar investor yang akan memulai proyeknya di Mandalika bisa memobilisasi peralatan dan bahan-bahan bangunan.

Dirut ITDC (ib.wirajaya@yahoo.com), memang all out mengundang investor ke Mandalika. Yang prioritas ditawarkan adalah: farming green house solar cell (gabungan solar cell seluas 40 ha yang di bawahnya untuk tanam sayur dan holtikultura). Hasil listriknya untuk keperluan kawasan itu sendiri. Sayur-holtikulturanya bisa untuk ekspor.

Lokasi ini ideal. Tidak jauh dari bandara. Tiap hari ada penerbangan ke Singapura. Untuk pasar Jakarta pun oke. Tujuh penerbangan langsung Lombok-Jakarta setiap hari. Ditambah 10 penerbangan langsung ke Surabaya.

Yang juga prioritas ditawarkan adalah pembangunan lapangan golf. Harus 18 hole dengan segala fasilitasnya termasuk resort. Disediakan lahan 120 ha. Lokasinya istimewa: ada pantai indahnya dan ada bukitnya.

Tawaran berikutnya: theme park, convention center, hotel-hotel berbintang, dan fasilitas pendukung turisme lainnya.

Untuk itu ITDC hanya menerima investor yang serius. Bukan spekulan. Atau pedagang izin. Yang bisa diikat dengan jadwal pembangunan yang ketat. Sebagian fasilitas itu harus selesai November 2017. Sebagian lagi paling lambat November 2018.

Itulah keputusan rapat di Mandalika Sabtu sore lalu. Kalau semua ini terwujud, Lombok benar-benar luar biasa: punya Senggigi, Gili, dan Mandalika. Setelah itu keindahan alam di sekitar Rinjani akan berkembang sendiri. Pulau-pulau terindahnya di lepas pantai timur tinggal tunggu giliran. NTB bukan lagi sekadar Nusa Tergantung Bali.

Yang penting: ada listrik.

Saya teringat saat pertama ke Gili Trawangan empat tahun lalu. Begitu mereka tahu saya adalah Dirut PLN, kedatangan saya langsung dihujani pertanyaan: kapan listrik masuk Gili Trawangan. Masak obyek turis yang begini bagusnya tidak ada listriknya. Ketika pulang saya lupa seperti apa indahnya Gili Trawangan. Yang terbayang hanyalah: bagaimana cara melistriki pulau kecil itu.

Jumat malam lalu saya ke Lombok Utara. Kaget. Pulau Gili Trawangan dan dua pulau lainnya terlihat terang benderang. Alhamdulillah. Kabel bawah laut menuju Gili Trawangan berfungsi dengan baik. Sabtu pagi, saat matahari sudah tinggi, ketika saya bermaksud jalan kaki mengelilingi pulau itu, saya harus geleng-geleng kepala: begitu banyak listrik yang tidak dimatikan.

Begitu borosnya. Lupa bagaimana tidak ada listrik dulu.

Seorang ibu mengejar saya. Dia pemilik restoran. “Listrik di sini sering drop, Pak,” katanya. Maka saya batalkan jalan-jalan. Saya langsung cari kantor PLN Gili Trawangan. Ternyata jauh di ujung.

“Di sini pasti banyak pencurian listrik,” ujar saya pada staf PLN di situ. Saya harus mengetok-ngetok pintu rumah dinasnya. Rupanya dia belum bangun. “Betul Pak. Lima orang lagi diproses,” jawabnya.

Rasanya tidak hanya lima orang. PLN harus lebih kerja keras memberantas pencurian listrik. Agar kasus tegangan drop teratasi. Bahkan kalau PLN mau pakai sistem pengendalian listrik secara otomatis (petugas PLN bisa mematikan listrik siapa pun dengan handphone dari jauh) bisa dicoba kecil-kecilan di sini.

Lombok memang sangat menjanjikan. Mandalika harus menjadi lokomotif besar untuk menggerakkan turisme Lombok.

Setelah lokomotif Mandalika yang lama mogok itu mulai bergerak, ITDC mendapat tugas baru: mengembangkan kawasan Danau Toba.

Saya termasuk orang yang sangat mengagumi keindahan dan kesejukan kawasan Danau Toba. Mengagumi sambil memprihatinkannya.

Turisme di Danau Toba tidak berkembang sama sekali. Ekonomi sekitar Danau Toba begitu-begitu saja. Seperti tidak mendapat berkah dari surga yang diturunkan Tuhan di Tapanuli. Saya khawatir Tuhan akan marah.

Semoga pembaca tidak marah karena tulisan soal stemcell implant gigi saya harus tertunda lagi Senin depan. Mandalika lebih penting. Juga Danau Toba.

*Dahlan Iskan, Menteri BUMN RI

(Setper-11/8)



8 August, 2014

Ikuti Lomba Desain Interior KEMENPORA Award 2014

Dalam rangka meningkatan kapasitas dan kompetensi Pemuda Indonesia, khususnya di bidang Design Interior, Rumah Fantasi menyelenggarakan “MENPORA AWARD – INDONESIA YOUTH INTERIOR DESIGN COMPETITION 2014” dengan didukung oleh KEMENTERIAN PEMUDA DAN OLAHRAGA REPUBLIK INDONESIA.

Kompetisi tersebut telah di launch dan di buka secara resmi oleh Menteri Pemuda dan Olah Raga Republik Indonesia, Bapak KRMT Roy Suryo, pada tanggal 7 Juli 2014. Beliau telah menyerukan kepada seluruh Pemuda Indonesia yang berusia 18–25 tahun yang memilki talenta dan bakat di bidang design interior untuk berpartisipasi dalam kompetisi ini untuk ikut berlomba mengasah kompetensinya di bidang design interior.

KETENTUAN DASAR LOMBA

1. Peserta berupa individu atau kelompok dengan jumlah anggota 3 orang .

2. Peserta adalah warga Negara Indonesia berumur 18-25 tahun.

3. Wajib memahami lomba dan menyepakati seluruh ketentuan lomba. 4. Dapat mengikutsertakan maksimal 1(satu) karya dengan kelompok sama/berbeda.

KATEGORI LOMBA

A. Kategori 1 : Hunian Desain Interior seluas 45 meter persegi untuk apartemen atau rumah tapak Untuk single atau pasangan muda dengan 2 ( dua ) anak.

B. Kategori 2 : Area Publik : Youth Center Cibubur : Lobby Wisma Sugondo, Cibubur.

PERATURAN LOMBA

1. Tahun produksi 2014.

2. Merupakan karya orisinal, belum pernah dipublikasikan untuk kepentingan apapun dan belum pernah diikutkan lomba sejenis.

3. Menggunakan bahasa Indonesia (jika menggunakan bahasa asing atau daerah wajib mencantumkan terjemahan bahasa Indonesia yang jelas).

4. Peserta wajib mencantumkan tulisan Persembahan karya untuk “MENPORA AWARD – INDONESIA YOUTH DESIGN INTERIOR COMPETITION 2014 “.

5. Tidak mengandung unsur SARA, kekerasan dan pornografi.

6. Peserta mengirimkan karyanya berupa poster desain dalam bentuk softcopy.

7. Materi lainnya yang digunakan dalam melengkapi dekorasi interior dapat juga menggunakan sumber-sumber lain yang bebas, tanpa mengurangi kreatifitas.

8. Semua karya cipta PEMENANG menjadi milik publik.

9. Khusus untuk kepentingan publikasi acara, penyelenggara dapat menggunakan materi foto dan/atau karya peserta, sebagian maupun secara utuh.

10. Panitia tidak bertanggung jawab apabila dikemudian hari diketahui terdapat gugatan dari pihak lain yang berkaitan dengan design interior yang dilombakan.

11. Jika dikemudian hari ditemukan bukti bahwa karya PEMENANG diragukan keasliannya, maka penyelenggara berhak membatalkan dan menarik penghargaan/hadiah yang sudah diberikan.

12. Calon peserta yang sudah melengkapi semua prosedur di atas, dianggap sebagai peserta.

13. Semua karya design interior yang diterima Panitia Lomba, tidak dikembalikan.

Info lebih lanjut dapat dilihat di facebook fb.com/MenporaAward atau twitter @menpora_award14

(Setper-8/8)



7 August, 2014

Gallery Talk GFJA Hadirkan Wahyu Pratomo @donotsettle

Fotografi sudah sejak lama menjadi medium penyampaian pikiran dan pertanyaan-pertanyaan, sebelum pada akhirnya ia menjadi sebuah bentuk seni. Bagi beberapa disiplin ilmu seperti arsitektur, lanskap, ataupun urban design, fotografi menjadi a disciplined way of seeing dalam mengeksplorasi dan mengekspresikan ide. Bacaan-bacaan, observasi, dan fotografi telah menjadi dasar dalam proses belajar dan diskusi mengenai pencahayaan, detail, ruang dan tempat, puisi dan narasi, serta bagaimana fotografi dapat memberi informasi bagi desain.

Wahyu Pratomo (Indonesia) dan Kris Provoost (Belgia) telah menjadikan fotografi sebagai medium untuk mengeksplorasi, mengkritik, dan pada akhirnya mengenal kota dengan cara pandang yang berbeda. Tinggal dan bekerja sebagai arsitek di Shanghai, kota terpadat di Cina (3.800 jiwa/km2) dengan lanskap bangunan-bangunan pencakar langit, termasuk Shanghai Tower yang merupakan tertinggi kedua di dunia, menggugah mereka untuk mengajak kita melihat Shanghai dari sudut pandang yang berbeda.

Berbekal smartphone dan pocket camera, Wahyu dan Kris membawa kita ke atap-atap bangunan di Shanghai, merekam, memasukkan pemikiran dan pertanyaan mereka, dan membagikannya kepada kita lewat akun Instagram @donotsettle.

Hasilnya, 158,9 km jalan kaki, 64 gedung, dan 2531 foto yang dirangkum menjadi sebuah buku “sketsa”.

@donotsettle akan membagi ceritanya di Galeri Foto Jurnalistik Antara, Minggu, 10 Agustus 2014 pukul 17.00 WIB melalui slide show dan diskusi sederhana. Sila hadir, terbuka untuk umum.

Bahwa kota adalah lebih dari sekadar tempat, kota adalah sebuah proses, dan perubahan yang terjadi di kota-kota dunia secepat kita mengedipkan mata, the duo not settle menginspirasi kita untuk selalu peka dan mencari apa yang tak kasat mata.

(Setper-7/8)



4 August, 2014

Di Balik Jonan yang Meringkuk dan Danang yang Meringis

Dahlan Iskan

 

Liburan lebaran kemarin saya manfaatkan untuk meninjau lapangan minyak baru di Banyu Urip, Bojonegoro, Jawa Timur, melihat uji coba PLTU model baru di Cikarang, dan melakukan reparasi gigi belakang saya dengan dukungan stemcell. Tentu sambil terus mengecek pelayanan mudik oleh enam BUMN kita: KAI, ASDP, Garuda, Angkasa Pura I, Angkasa Pura II, dan Pertamina.

“Saya bangga dengan KAI yang tahun ini menjadi pilihan utama pemudik,” tulis saya dalam BBM ke Ignasius Jonan, Dirut PT KAI.

“Saya terharu dengan Anda dan jajaran Anda yang selama lebaran terus berada di lapangan penyeberangan Merak-Bakahuni,” tulis saya dalam SMS kepada Danang Baskoro Dirut PT ASDP.

Saya juga terus menerima foto-foto pelaksanaan pengaturan mudik dari lapangan. Termasuk foto Jonan yang lagi meringkuk tidur di kursi KA kelas ekonomi, kelelahan stelah berhari-hari Posko Angkutan Lebaran. Juga foto Danang saat meringis ikut ngatur sepeda motor yang berebut antre masuk feri. Anak buah dua dirut itu cukup usil untuk memotret pimpinan mereka yang dalam posisi “tidak seperti dirut”.

Di samping berbagai kemajuan besar di berbagai bidang, lebaran tahun ini KAI juga mengoperasikan tiga rangkaian kereta baru bikinan PT INKA (Persero) Madiun. Setelah ini saya minta Dirut INKA Agus Purnomo untuk sering-sering naik kereta itu agar mengetahui di mana kekurangan-kekurangan kereta bikinan dalam negeri.

Secara fisik saya cukup bangga dengan penampilan dan kehalusan finishing-nya, tapi dia tetap perlu tahu hal-hal yang tidak kelihatan dengan cara sering-sering merasakan sendiri berlama-lama sebagai penumpang kereta jarak jauh itu. Saya akan terus menanyakan ini padanya: sudah naik berapa kali dan di jurusan mana saja.

Jonan sudah “menolong” INKA dengan membeli tiga rangkaian itu. Pembayarannya pun sudah beres. Ini saja sudah membuat PT INKA bisa keluar dari kesulitan terbesarnya. Bayangkan, tiga rangkaian itu sudah dibuat. Sudah jadi. Tiba-tiba pemesannya, Kemenhub, tidak dapat anggaran. Betapa sulitnya keuangan PT INKA karenanya.

Karena itu “pertolongan” ini harus dibalas dengan mutu dan pelayanan yang baik pada KAI. Ini agar ke depan semakin banyak kereta bikinan Madiun dibeli oleh KAI. Saya akan ikut dalam perjalanan jauh itu nanti.

Lebaran kali ini KAI juga jadi bintang di sektor angkutan barang. Di saat semua truk dilarang beroperasi selama liburan lebaran, PT KAI tetap bisa mengangkut barang jarak jauh. Ke depan, dengan selesainya rel ganda Surabaya-Jakarta angkutan barang via KAI kian vital.

KAI juga sudah memesan ratusan lori angkutan barang ini ke PT INKA Madiun. Beribu terima kasih pada KAI. Saya memang mengangkat orang KAI untuk menjadi direksi di PT INKA. Dengan demikian INKA tahu jalan pikiran KAI dan KAI juga tahu kebutuhan INKA. Setidaknya dengan cara itu dua perusahaan ini berhenti perang dingin.

KAI sudah terbukti sukses membangun jaringan kereta barang di Sumatera. Waktu saya naik KA dari Palembang ke Baturaja dua bulan lalu, saya saksikan betapa hebatnya angkutan barang KAI di sana. Saya lihat dengan kagum KA barang yang baru berumur enam bulan itu melintas dengan gagahnya. Melaju dengan mulusnya. Mengular panjangnya.

Saat saya berdiri di stasiun, terlihat rangkaian KA barang yang lagi melintas itu seperti tidak ada akhirnya. Ternyata panjang rangkaian kereta itu mencapai 1,2 km! Kalau kereta penumpang hanya membawa sembilan gerbong, KA barang ini membawa 70 gerbong!

Di sepanjang jalur itu saya juga meresmikan 11 stasiun KA yang baru. Benar-benar baru. Tidak ada stasiun di situ sebelumnya. Stasiun-stasiun ini letaknya di tengah hutan. Tidak ada jalan menuju stasiun baru itu. Ini stasiun untuk persilangan kereta barang. Bukan stasiun untuk penumpang.

Di lain pihak ASDP di Merak juga benar-benar merasakan manfaat pembelian empat kapal feri “facum cleaner” dari Inggris dan Korsel itu. Dengan empat kapal besar ini (inilah kapal feri terbesar di Indonesia) ribuan kendaraan disedot dengan rakusnya. Waktu direksi ASDP membeli kapal-kapal itu bukan main ributnya. Direksi jadi bulan-bulanan.

Tapi saya berikan dukungan penuh untuk “terus maju”. Termasuk minta artis Syahrini dan kelompok musik kebanggaan kita Slank meresmikan kapal ini dalam sebuah show di dalam kapal mewah itu dalam pelayaran uji coba di Selat Sunda.

Seperti juga KAI yang terus membangun stasiun-stasiun baru, ASDP pun harus segera membangun terminal pelabuhan feri yang tidak kalah megah dari bandara baru.

Bagaimana dengan kunjungan ke Banyu Urip dan pengalaman membongkar gigi dengan bantuan stem cell? Kelihatannya, cerita MH kali ini sudah terlalu panjang. Terpaksa minggu depan. Minta maaf lahir batin.

*Dahlan Iskan, Menteri BUMN RI

(Setper-3/8)



31 July, 2014

SMS, yang Terasa Salaman Langsung

Dahlan Iskan, Menteri BUMN RI

 

Pekerjaan terbanyak saya selama tiga hari lebaran tahun ini adalah: membalas SMS. Karena banyak tamu, balasan itu baru bisa saya lakukan di malam hari. Atau dini hari menjelang dan setelah subuh.

Tidak sopan sibuk membalas SMS di tengah-tengah silaturahmi. Apalagi SMS itu datangnya seperti air bah. Belum selesai membalas yang satu sudah datang puluhan yang baru.

“SMS Minal Aidin” itu sudah mulai bermunculan sehari sebelum lebaran. Pengirim pertama adalah Prof Dr Puruhito, ahli jantung Surabaya yang pernah jadi Rektor Unair tahun 80-an.

Setelah itu tidak henti-hentinya SMS mengalir deras hingga hari kedua Lebaran kemarin: dari para pemain Persebaya/Mitra, dari para wartawan/karyawan Jawa Pos Group, dari para karyawan BUMD Jatim, dari karyawan PLN, dari teman-teman BUMN, dari para Dahlanis, dari politisi, dari masyarakat Barongsai, paguyuban Tionghoa, dan banyak lagi. Sabang sampai Merauke.

Tentu saya bisa membedakan mana SMS yang ditulis khusus untuk saya dan mana “SMS kodian” atau “SMS konfeksi”: ditulis sekali untuk semua orang. Ada juga SMS yang isinya untuk semua orang tapi dimodifikasi sedikit di awalnya atau di akhirnya.

Tidak sedikit juga SMS yang isinya, kalimatnya, dan bahasanya sangat indah dan puitis. Tapi saya sulit membedakan mana yang asli bikinan sendiri dan mana yang copy paste dari orang lain.

Mula-mula saya puji isi SMS indah seperti itu. Tapi begitu SMS berikutnya isinya sama maka saya sulit menentukan yang mana yang seharusnya saya puji.

Mula-mula saya bermaksud untuk tidak membalas SMS yang dikirim secara kodian seperti itu. Saya agak ragu apakah pengirimannya benar-benar mengirimkan SMS itu dengan hati. Tapi akhirnya saya putuskan saya balas: dari keluarga, teman kecil, rekan kerja, termasuk dari teman-teman yang belakangan sering mendemo atau menyerang saya.

Sebagai orang yang tidak suka dengan “SMS paketan”, tentu saya tidak melakukan hal yang sama. Senjata pun makan tuan. Saya harus menjawab satu per satu, ribuan SMS itu dengan tangan saya sendiri. Benar-benar satu per satu. Seperti juga dengan twitter, saya tidak mau pakai admin untuk SMS lebaran ini.

Dengan satu per satu membalas sendiri SMS itu rasanya saya seperti bisa bersalaman sendiri dengan orang itu, sambil menatap matanya.

Tidak lelah? Tidak. Saya sudah sangat terbiasa dengan gadget ini. Menulis naskah artikel pun sudah biasa saya lakukan dengan alat ini. Tidak pernah lagi nulis artikel di laptop. Hanya saja saya tidak bisa membalas SMS itu seketika SMS itu tiba.

Begitu banjirnya SMS di hari pertama lebaran, sehingga hanya sebagian saja yang bisa saya balas hari itu juga. Sisanya saya cicil di malam kedua dan ketiga.

Alhamdulillah, hari ketiga kemarin, Pukul 14.00, ketika tamu sudah berkurang, saya bisa menuntaskan membalas semua SMS yang masuk. SMS terakhir datang dari Mendiknas Pak Nuh. “Saya sengaja mengirim SMS ini di hari ketiga lebaran untuk menunggu berkurangnya trafik SMS,” tulis Pak Nuh di akhir SMS lebarannya. Manajemen yang baik.

Mengingat semua balasan itu saya ketik sendiri maka tidak ada SMS dari saya yang panjang. Paling begini: Prof Endin, lahir batin juga ya. Hampura kuring. Itu untuk profesor yang tokoh Sunda itu. Atau balasan untuk Rektor UGM: “Prof Pratik, sugeng riyadi ya. Nyuwun gunging pangaksami”. Atau untuk tokoh pengusaha Tionghoa: “Xie xie Pak Prajogo. Bao zhong”. Atau untuk teman Kristen ini: “Thanks. Tuhan memberkati Pak Vincent selalu”. Dan sebangsanya.

Sangat pendek. Memang banyak yang nadanya sama, tapi semua saya ketik lagi sendiri. Untuk kalimat pendek seperti itu meng-copy toh lebih lama dari mengetik yang baru. Dan itu tadi, saya merasa seperti salaman sendiri dengan tiap orang.

Tentu ada juga yang tidak bisa saya balas. Jumlahnya lumayan. Yakni SMS yang tidak menyebut nama pengirimnya. Mungkin mereka mengira saya tahu siapa dia. Mungkin dulu namanya memang ada dalam daftar di BB saya namun karena nama itu hilang saat terjadi kerusakan BB, jadinya saya tidak tahu lagi siapa dia.

Yang juga sulit adalah SMS yang hanya menyebut nama pengirimnya Didik, Dadik, Bambang, Ahmad, Supri, dan sebagainya. Saya sulit mengira-ngira Didik yang mana ya? Atau Bambang yang mana ya? Apalagi kalau isinya “SMS konfeksi”. Saya tidak bisa menangkap getaran bahasa dari Didik yang mana atau Bambang yang mana.

Untuk SMS yang tidak terjawab seperti itu saya mengucapkan “minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir batin”.

*Dahlan Iskan, Menteri BUMN RI

(Setper-31/7)



23 July, 2014

Bersihkan Diri di Bulan Ramadhan dengan Berzakat

Zakat merupakan rukun ke-4 dalam ajaran agama Islam. Posisi zakat adalah setelah membaca dua kalimat syahadat, sholat, puasa dan sebelum menunaikan ibadah haji. Arti Zakat antara lain “tumbuh dan bertambah”, bisa berarti juga berkah, bersih, suci, subur dan berkembang maju.

Allah SWT mewajibkan umat Islam untuk mengeluarkan zakat, sebagaimana firman-NYA dalam Alquran, surat An Nur ayat 56, “Dan dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Rasul, supaya kamu diberi rahmat“. Allah akan memberi rahmat dan akan mengembalikan umat-NYA dalam kondisi suci/kembali fitrah seperti bayi yang baru lahir ke Bumi kepada umat Islam yang taat menunaikan zakat.

Hal tersebut sesuai dengan firman lain Allah, dalam surat At Taubah ayat 103 yakni “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu bersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya dosa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi maha Mengetahui “.

Pentingnya berzakat menjadi salah satu dasar Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Republik Indonesia membuat surat edaran tentang Optimalisasi Pengumpulan Zakat di BUMN bernomor SE-06/MBU/WK/2014. Optimalisasi tersebut ditujukan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan sebagaimana diatur dalam Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2014.

Ruang lingkup data dan informasi terkait optimalisasi pengumpulan zakat karyawan dan zakat badan usaha di lingkungan BUMN melalui Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS).

Isi dari surat edaran Kementerian BUMN RI mengenai optimalisasi pengumpulan zakat tersebut adalah sebagai berikut:

1. Direksi BUMN diminta untuk melakukan optimalisasi pengumpulan zakat karyawan dan zakat badan usaha di lingkungan BUMN melalui Badan Amil Zakat Nasional sebagaimana diamanatkan dalam Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2014.

2. Terkait optimalisasi pengumpulan zakat karyawan dan zakat badan usaha di lingkungan BUMN sebagaimana dimaksud diatas, direksi agar berkoordinasi dengan kantor Baznas setempat.

3. Dalam rangka monitoring pelaksanaan pengumpulan zakat karyawan dan zakat badan usaha di lingkungan BUMN sebagaimana dimaksud diatas, direksi melaporkan pelaksanaannya kepada Kementerian BUMN Cq. Deputi Bidang Infrastruktur Bisnis.

Menurut ajaran Islam, zakat dikelompokkan menjadi 2 (dua) macam yaitu Zakat Fitrah atau zakat jiwa yaitu setiap jiwa/orang yang beragama Islam harus memberikan harta yang berupa makanan pokok kepada orang yang berhak menerimanya dengan ukuran tertentu dan dikeluarkan pada bulan Ramadhan sampai dengan sebelum shalat Idul Fitri pada bulan Syawal.

Kedua, Zakat Maal atau zakat harta yaitu kewajiban umat Islam yang memiliki harta benda tertentu untuk diberikan kepada yang berhak sesuai dengan ketentuan nisab (ukuran banyaknya) dan dalam jangka waktu tertentu.

(Setper-23/7)



23 July, 2014

Tampilan Baru Antaranews Diluncurkan

Jakarta (ANTARA) - Portal berita www.antaranews.com meluncurkan tampilan baru yang lebih menarik serta membuat pembaca lebih mudah dan nyaman mengaksesnya.

Peluncuran wajah baru www.antaranews.com dilakukan di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin, yang dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Menkominfo Tifatul Sembiring, Menko Polhukam Joko Suyanto, Menko Kesra Agung Laksono, dan Menparekraf Mari Elka Pangestu serta pejabat lainnya.

Acara dilakukan bersamaan dengan pemberian Antaranews CSR Award, Tokoh Filantropi 2014, dan Tokoh Peduli Kecerdasan Anak 2014.

Perubahan tampilan tersebut akan dilakukan secara bertahap. Tampilan baru ini dilakukan baik pada desain maupun rubrikasi.

Portal berita ANTARA (http://www.antaranews.com) diluncurkan pada bulan Januari 1996 dengan tujuan memenuhi hak publik untuk mendapatkan informasi yang akurat, lengkap, dan bermanfaat secara seketika.

Portal ini disajikan dalam dua bahasa agar masyarakat dunia juga dapat mengetahui informasi yang utuh dan kredibel tentang Indonesia saat ini.

Ditunjang oleh reputasi ANTARA sebagai salah satu kantor berita terbesar di Asia dan didukung oleh jaringan pemberitaan global, portal ini menawarkan ragam informasi yang telah menjadi acuan dan daya tarik tersendiri bagi para pengguna Internet di seluruh dunia.

Kinerja Antaranews terus menanjak. Menurut google analytics saat ini jumlah kunjungan mencapai 4,5 juta per bulan dengan halaman terakses (pageviews) mencapai 7,6 juta setiap bulan yang sepertiga jumlah pengaksesnya berasal dari mancanegara.

Peringkat portal ini semakin meningkat berdasarkan data pemeringkat situs Alexa.com.

Editor: Aditia Maruli

(Setper-23/7)