ilustrasi
england-flag

English

england-flag

Indonesia

SIARAN PERS

24 April, 2014

KABIRO ANTARA Kalimantan Tengah Luncurkan Buku “Jurnalisme Modern”

Buku Jurnalisme Modern

 

Kepala Biro ANTARA Kalimantan Tengah, Saidulkarnain Ishak meluncurkan buku baru di bidang jurnalistik berjudul “Jurnalisme Modern”. Buku yang dicetak oleh penerbit Elex Media (Kompas Gramedia Grup) ini menceritakan pengalaman jurnalistik Saidulkarnain Ishak selama 30-an tahun menjadi jurnalis.

“Buku itu saya tulis atas pengamalan teori filsafat dan saya aplikasikan dalam praktik jurnalistik selama saya menjadi wartawan sejak tahun 80-an,” kata Saidulkarnain menyambut terbitnya buku Jurnalisme Modern pada 23 April 2014.

Buku dengan spesifikasi seri referensi, dengan ukuran 140×210 mm dan tebal 368 halaman ini sekaligus menjadi saksi kedalaman pengalaman seorang Saidulkarnain Ishak mengelola isu-isu pemberitaan di lingkungannya sehingga menghasilkan berita yang dapat mengedukasi dan memberdayakan masyarakat.

Bagi Saidulkarnain yang memulai karier sebagai jurnalis di provinsi Aceh (kini Saidulkarnain bertugas di Palangkaraya, Kalimantan Tengah), informasi bukan sekedar apa yang perlu diketahui masyarakat, tapi lebih kepada sesuatu yang dapat mengubah masyarakat baik secara kognitif, afektif maupun perilaku (behavior).

Selain itu, jagad pers Indonesia kini tampak semakin maju, khususnya jika dilihat dari banyaknya sarana teknologi komunikasi yang berkembang pasca reformasi pertengahan tahun 1998. Seiring majunya dunia pers tersebut, jumlah penerbitan surat kabar, majalah dan berbagai media elektronik dari tahun ke tahun cenderung bertambah.

Di satu sisi, semakin baik dalam penyebaran informasi, semakin baik minat baca masyarakat. Di sisi lain, masyarakat semakin mudah mengakses informasi yang disebarluaskan oleh berbagai media massa, semakin banyak pelanggaran yang dilakukan kaum jurnalis. Semoga buku Jurnalisme Modern menjadi salah satu media penambah khazanah pengetahuan masyarakat.

Selamat membaca!

(Setper-24/4)



24 April, 2014

Kepala BNP2TKI : Indonesia Harus Tingkatkan Syarat Pendidikan Minimal TKI

Kunjungan Kepala BNP2TKI

 

Permasalahan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri seakan tak ada habisnya. Baru-baru ini media massa di Indonesia ramai-ramai memberitakan mengenai Satinah. Satinah adalah TKI asal Semarang yang divonis hukuman mati oleh Pemerintah Arab Saudi. Ia dituduh melakukan pembunuhan berencana terhadap majikannya. Namun, Satinah bukan satu-satunya TKI yang mendapat vonis mati. Masih ada Satinah-Satinah lain yang juga sedang menunggu eksekusi.

Karena banyaknya permasalahan mengenai TKI di luar negeri, 19 Oktober lalu Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar dan Menteri Tenaga Kerja Arab Saudi Adiel M. Fakeih menandatangani perjanjian bilateral tentang penempatan dan perlindungan TKI sektor domestik.

Mengenai penandatanganan perjanjian tersebut, Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Gatot Abdullah Mansyur dalam kunjungannya ke Kantor Berita ANTARA, Senin (21/4) mengatakan pemerintah masih harus melihat apakah perjanjian itu dapat diterapkan dengan baik sebelum kembali mengirimkan TKI ke negara tersebut.

Namun menurut Gatot, saat ini sudah banyak kemajuan dalam kerja sama ketenagakerjaan antar kedua negara. Gatot mencontohkan saat ini TKI dapat memegang paspor mereka sendiri, dipastikan mendapat satu hari libur dalam seminggu, dan mendapatkan sembilan jam istirahat setiap hari.

Selain itu, dalam kontrak kerja TKI saat ini telah diwajibkan untuk memuat keterangan lengkap yang meliputi alamat lengkap majikan, surat keterangan bebas pidana dari kepolisian, jumlah gaji yang jelas dan diketahui oleh Kadin setempat, deskripsi tugas yang detil dan surat perjanjian tidak melanggar HAM serta tidak melakukan kekerasan.

Gatot juga menjelaskan bahwa kualitas TKI saat ini disebutnya banyak yang tidak memiliki keterampilan.

“Masalah di hilir kita adalah SDM kita lemah. Mayoritas masih lulusan SD. Di Arab Saudi, dari 1,2 juta TKI disana yang memiliki ‘skill’ hanya sekitar 10 persen, sisanya 90 persen tidak memiliki keterampilan,” papar Gatot.

Gatot juga mengatakan bahwa BNP2TKI pernah meminta agar syarat pendidikan diterapkan bagi TKI yaitu minimal memiliki ijazah SMP, namun kalah dalam gugatan di Mahkamah Konstitusi sehingga tidak bisa diterapkan.

Walaupun begitu, untuk mengurangi permasalahan yang muncul dengan pengiriman TKI yang berpendidikan rendah, Gatot menyebut seharusnya ada persyaratan pendidikan minimal. Ia mengatakan bahwa di India minimal pendidikan TKI adalah SMP dan usia minimal 40 tahun. Hal itu terbukti relatif tidak menimbulkan masalah.

Selain meningkatkan syarat pendidikan, peningkatan kualitas TKI yang dikirim ke luar negeri dapat dilakukan dengan memberdayakan Balai Latihan Kerja (BLK) dan meningkatkan kualitas pelatihannya maupun efisiensi rekrutmen TKI yang saat ini masih terlalu panjang.

(Setper-24/4)



23 April, 2014

Antaranews.com Raih Media Terbaik Informasikan Jaminan Sosial

Antaranews.com

 

Antaranews.com terpilih sebagai media online terbaik dan produktif dalam menyebarkan informasi program jaminan sosial di kalangan pekerja, pekerja dan masyarakat luas.

Wakil Sekretaris BPJS Ketenagakerjaan Kuswahyudi di Bandung, Jumat, mengatakan penyebaran informasi tentang jaminan sosial perlu dilakukan secara masif dan terus menerus agar muncul kesadaran tentang hak normatif pekerja dan keluarganya itu.

“Sasaran utama kami pekerja dan keluarga, pengusaha, pengambil keputusan di kalangan perusahaan dan masyarakat luas,” kata Kuswahyudi.

Penyerahan anugerah itu dilakukan oleh Dirut BPJS Ketenagakerjaan Elvyn G Masassya, Kamis malam, yang juga memberi penghargaan kepada sejumlah media lain.

Elvyn di Bandung, berharap Antaranews.com dan juga Kantor Berita Antara terus bergiat menginformasikan dan mengkritisi program jaminan sosial untuk kebaikan bangsa ini.

“Jika, menilik visi dan misi Antara, maka kita berada di posisi yang sama, mensejahtera anak bangsa ini,” ujar Elvyn.

Dia memaparkan apa yang sudah dilakukan BPJS Ketenagakerjaan setelah bertransformasi. Salah satunya menyerahkan semua program, kepesertaan informasi dan data program Jaminan Pemelihaan Kesehatan kepada BPJS Kesehatan.

“Saya baru saja menandatangani penyerahan tersebut, sehingga kini secara penuh semua aktivitas JPK PT Jamsostek dahulu sudah diserahkan kepada BPJS Kesehatan (dahulu BPJS Kesehatan),” kata Elvyn.

Dia berharap, pekerja dan keluarga mendapat pelayanan yang lebih baik sehingga tidak perlu direpotkan jika sakit.

Sementara Kuswahyudi berharap Antaranews.com dan Kantor Berita Antara tetap konsisten menyebarkan informasi jaminan sosial karena saat ini masih terdapat 100 juta pekerja formal dan informal yang belum terlindungi program jaminan sosial.

“Sementara undang-undang menjamin hak mereka agar terlindungan dari risiko kerja, seperti kecelakaan, kematian dan kompensasi pensiun di hari tua,” demikian Kuswahyudi.

(Setper-23/4)



22 April, 2014

Hari Bumi 2014, Tingkatkan Kesadaran Masyarakat akan Gaya Hidup Ramah Lingkungan

Hari Bumi

 

Bumi adalah planet ketiga dari matahari setelah planet Merkurius dan Venus. Bumi diperkirakan terbentuk sekitar 4,54 milyar tahun yang lalu. Bumi diyakini sebagai satu-satunya planet yang mendukung kehidupan sampai saat ini walaupun para ilmuwan masih terus melakukan penelitian terhadap planet lainnya yang ada di jagat raya.

Tahun 1969 Gaylord Nelson, senator Amerika Serikat dari Wincosin yang juga seorang pengajar lingkungan hidup memiliki ide untuk menggagas diadakannya Hari Bumi. Saat itu Gaylord Nelson memandang perlunya isu - isu lingkungan hidup untuk masuk dalam kurikulum resmi perguruan tinggi. Gagasan ini kemudian mendapat dukungan luas.

Dukungan ini mencapai puncaknya pada tanggal 22 April 1970. Saat itu sejarah mencatat jutaan orang turun ke jalan, berdemonstrasi dan memadati Fifth Avenue di New York untuk mengecam para perusak bumi. Majalah TIME memperkirakan bahwa sekitar 20 juta manusia turun ke jalan pada 22 April 1970. Hingga saat ini Hari Bumi diperingati setiap tanggal 22 April.

Hari Bumi 2014
Tahun 2014 ini, Hari Bumi mengusung tema Green Cities atau kota hijau. Program ini bertujuan membantu kota-kota di seluruh dunia menjadi lebih ramah lingkungan dan mengurangi emisi karbon kota. Fokus program ini ada pada 3 faktor yakni bangunan, energi, dan transportasi.

Energi
Sebagian besar kota-kota dunia saat ini bergantung pada infrastuktur listrik usang yang sangat tidak efisien dan kotor. Untuk mewujudkan kota yang ramah lingkungan, dunia perlu mencari sumber energi terbaru dan efisien. Kita juga harus melakukan gerakan hemat energi setiap hari, mulai dari hal-hal kecil seperti mematikan lampu bila tidak dipakai.

Bangunan ramah lingkungan
Seluruh bangunan yang ada di dunia menyumbang sepertiga emisi gas rumah kaca dunia Dengan bangunan yang sederhana dan efisien kita bisa mengurangi emisi tersebut secara drastis. Lingkungan rumah pun sebaiknya ditanami pepohonan sehingga menjadi lebih teduh.

Transportasi
Transportasi adalah sumber gas rumah kaca yang terus meningkat di seluruh dunia. Kita dapat turut berpartisipasi dengan menggunakan transportasi umum atau menggunakan kendaraan yang lebih ramah lingkungan seperti sepeda untuk mengurangi emisi dan asap dari kendaraan bermotor.

Earth Hour 2014
Banyak kegiatan yang dilakukan oleh penduduk dunia untuk berperan serta dalam peringatan Hari Bumi tahun 2014 ini. Salah satu kegiatan besar yang melibatkan penduduk dunia dalam memperingati Hari Bumi dan Hari Air adalah Earth Hour.

Earth Hour merupakan gerakan lingkungan yang digagas oleh salah satu organisasi yang concern dengan masalah lingkungan yaitu World Wide Fund for Nature (WWF). Earth Hour berkembang menjadi kampanye dengan partisipan terbesar sepanjang sejarah di dunia. Awalnya Earth Hour hanya diselenggarakan di satu kota yakni Sydney, saat ini lebih dari 7000 kota berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Kegiatan Earth Hour ini merupakan kegiatan pemadaman lampu selama satu jam untuk meningkatkan kesadaran akan perlunya tindakan serius menghadapi perubahan iklim. Namun, sejak awal Earth Hour diadakan, kegiatan tersebut tidak hanya bermakna untuk mematikan lampu.

Earth Hour berusaha untuk bisa menggabungkan semua orang yang peduli untuk membuat bumi ini nyaman ditinggali. Selain itu, Earth Hour juga mengajak dan mengembangkan aksi yang mendukung gaya hidup lebih ramah lingkungan. Lebih dari itu melalui Earth Hour ingin diciptakan komunitas global untuk terus memacu masyarakat agar sama-sama berjuang untuk masa depan.

Indonesia juga turut berpartisipasi dalam kegiatan Earth Hour. Aksi global Earth Hour ditandai dengan melakukan aksi Switch Off atau mematikan lampu dan peralatan elektronik yang tidak sedang dipakai selama satu jam, yang tahun ini jatuh pada tanggal 29 Maret 2014, mulai pukul 20.30 - 21.30 waktu setempat. Seminggu setelah peringatan Hari Air dan sebulan sebelum peringatan Hari Bumi.

Sejak penyelenggaraan pertama pada 2009, jumlah kota yang ikut menggelar aksi tersebut terus mengalami peningkatan. Tahun 2013, ada 30 kota yang menggelar aksi Earth Hour. Sedangkan, tahun 2014 bertambah dua kota baru, yaitu Palembang dan Padang.

Kota-kota yang telah melaksanakan kampanye itu terlebih dahulu yaitu Banda Aceh, Medan, Pekan Baru, Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi), Bandung, Cimahi, Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Batu, Sidoarjo, Kediri, Gresik, Lamongan, Bojonegoro, Denpasar, Pontianak, Palangkaraya, Banjarmasin, Balikpapan, Samarinda, Sangatta, Tarakan, Kotamobagu, Sorowako dan Makassar.

Dalam perkembangannya, banyak aksi berkelanjutan yang dilakukan para pendukung kampanye ini di Indonesia sebagai tindak lanjut dari kegiatan Earth Hour. Di Banda Aceh dilakukan aksi tanam mangrove di pesisir Aceh Besar. Di Bekasi dilakukan aksi tanam mangrove di Muara Gembong. Di Bengkulu juga dilakukan tanam mangrove di Pantai Panjang. Di Bandung diselenggarakan aksi pengelolaan sampah kota. Sedangkan di Yogyakarta diadakan aksi tanam pohon produktif di Desa Terong dan masih banyak lagi kegiatan yang dilakukan di kota-kota besar di Indonesia.

(Setper-22/4)



22 April, 2014

ANTARA Sulawesi Selatan Rintis Bisnis “Event Organizer”

Seminar ANTARA Sulawesi Selatan

 

“Gerah” membaca dua kartu nama rekan sesama industri pers, yang bercerita tentang lini bisnis masing-masing, Kepala Biro Sulawesi Selatan, Agus Setiawan akhirnya nekad merintis usaha di bidang event organizer (EO) selain mengelola bisnis inti kantor berita dan Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA) di Makassar, Sulsel.

Dua kartu nama yang bikin “gerah” sekaligus menginsprirasi Agus Setiawan itu adalah milik Managing Editor Bisnis Indonesia, Lahyanto Nadie yang memiliki 12 unit usaha berlabel Bisnis Indonesia Group dan Business Editor Jakarta Globe, Muhammad Al Azhari dengan 28 unit usaha di bawah bendera Berita Satu Media Holdings, dua-duanya di Makassar, Sulsel.

“Masak ANTARA gak bisa jadi EO? Padahal sebagai satu-satunya BUMN di bidang media, Perum LKBN ANTARA, sudah seringkali menyelenggarakan sejumlah events, sebagian besar merupakan in house event seperti seminar. Acara ini biasanya dilaksanakan di Auditorium Adhiyana Wisma ANTARA di Jalan Merdeka Selatan Jakarta,” ujar Agus saat ditanya kenapa nekad merintis usaha EO di Makassar, Sulsel.

Menurut Agus Setiawan yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Perwakilan ANTARA di Manado, Sulawesi Utara ini, Perum LKBN Antara Biro Sulawesi Selatan akan mencoba melembagakan event sebagai unit usaha dengan mendirikan AntaraSulsel.Com Event Organizer. Nama AntaraSulsel.Com dipilih sekaligus untuk mengenalkan domain laman ini ke publik selain lewat jejaring media sosial.

Klien Pertama
Klien pertamanya adalah perusahaan kelapa sawit. Kegiatan yang diselenggarakan berbentuk seminar sehari dengan menghadirkan pembicara dari Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), dosen Universitas Hassanuddin dan redaktur harian Jawa Pos.

Peserta seminar berasal dari wartawan ekonomi dari berbagai media cetak dan elektronik yang ada di Makassar-Sulsel, Palu-Sulteng, dan Jakarta.

Perkebunan kelapa sawit terbukti telah mendorong pembangunan nasional. Karena perkebunan kelapa sawit, dua ibukota provinsi terbentuk, 104 pemukiman berkembang menjadi kabupaten dan 383 pemukiman transmigrasi menjadi ibukota kecamatan.

Tidak hanya dari aspek kewilayahan. Peran industri sawit juga terlihat dari aspek produksi pertanian. industri sawit telah memunculkan 50 kawasan sebagai sentra produksi Crude Palm Oil atau minyak sawit mentah.

Seiring peran positif industri sawit bagi bangsa dan negara, kampanye negatif yang menyerang industri kelapa sawit Indonesia ini pun terus berlangsung. Sebagian besar, kampanye itu mereka lancarkan dengan menggandeng jurnalis lokal maupun nasional.

Karena cara pandang yang keliru dan informasi yang kurang berimbang, maka pemberitaan yang banyak beredar di media massa lokal maupun nasional pun tidak berpihak kepada industri sawit.
Karena itu, sangat penting untuk memberi pemahaman yang lebih tepat kepada para jurnalis lokal maupun nasional mengenai manfaat industri sawit bagi bangsa dan negara Indonesia.

*Agus Setiawan SIP MM (Perum LKBN Antara Sulsel, Alumnus Magister Manajemen Unsrat Manado, @agus_antara on twitter).

Setper(22/4)



22 April, 2014

Kartini Menjadikan Perempuan sebagai Inspirasi dan Kekuatan Sejati Bangsa

RA Kartini

 

Bulan April tidak bisa lepas dari sosok Raden Ajeng Kartini. Bangsawan Jawa kelahiran Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 ini merupakan perempuan Indonesia yang memperjuangkan kesetaraan hak bagi kaum perempuan.

Kartini lahir di tengah-tengah keluarga yang kental budaya patrilineal dan feodal. Perlu nafas panjang bagi Kartini untuk dapat menyampaikan pemahaman kepada keluarganya bahwa sebagai perempuan, Kartini dapat berkiprah sama bermaknanya dengan kaum pria.

Lahir sebagai seorang perempuan, walaupun dari keluarga Bangsawan, Kartini tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi oleh orangtuanya setelah ia lulus dari sekolah dasar. Kartini tidak lantas berpasrah pada kenyataan. Ia mengumpulkan buku-buku pelajaran dan buku ilmu pengetahuan lainnya untuk dibaca di taman rumah dengan ditemani pembantunya.

Kartini yang memiliki kepedulian terutama terhadap sesama kaumnya, tidak ingin belajar untuk dirinya sendiri. Ia pun mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajarkan tulis menulis dan ilmu pengetahuan lainnya.

Berasal dari lingkungan bangsawan membuat Kartini juga berteman dengan orang-orang Belanda. Ia pun rajin berkirim surat dengan teman-temannya yang berada di Eropa, terutama Belanda. Salah satunya adalah J.H Abendanon. Melalui salah satu sahabatnya itu pula Ia memohon diberikan beasiswa untuk belajar di negeri Belanda.

Beasiswa tersebut didapatkannya, namun sayang tidak sempat dimanfaatkan Kartini karena ia dinikahkan dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat. Suami Kartini tersebut ternyata mengerti keinginan besar Kartini untuk terus berbagi ilmu dengan perempuan-perempuan Indonesia. Ia pun turut mendukung Kartini untuk mendirikan sekolah wanita.

Berkat kegigihannya Kartini berhasil mendirikan tidak hanya mendirikan satu sekolah. Sekolah Wanita milik Kartini ada di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini”.

Selain mengajar, Kartini selalu menerima permintaan mengarang di berbagai media cetak, baik majalah maupun surat kabar. Kartini banyak menulis tentang pemikirannya mengenai bagaimana perempuan tidak bisa dilihat sebelah mata.

Setelah Kartini wafat, J.H Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada para teman-temannya di Eropa. Buku itu diberi judul “DOOR DUISTERNIS TOT LICHT” yang artinya “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Untuk menghargai dan mengenang jasa-jasa Kartini terhadap kemajuan kaum perempuan Indonesia, melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 108 tahun 1964, pada tanggal 2 Mei 1964 R.A Kartini ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional dan 21 April diperingati sebagai Hari Kartini.

Buku Habis gelap, terbitlah terang menjadi buku yang melegenda dan menginspirasi bangsa Indonesia. Dari buku tersebut tergambarkan bagaimana perjuangan Kartini dalam mengangkat derajat dan memperjuangkan hak-hak wanita, serta menyuarakan kesetaraan gender. Wanita Indonesia masa kini bisa bebas menunjukan eksistensi dan prestasi, sama dengan laki-laki.
R.A Kartini Di Luar Negeri.

Kartini tak hanya menjadi inspirasi bagi rakyat Indonesia saja, Belanda pun demikian. Kartini memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Belanda.

Ada empat nama jalan di kota-kota Belanda yang bernama Kartini, seperti di Venlo, Amsterdam, Harleem dan Utrecht. Nama Raden Ajeng Kartini ternyata telah populer di Negara Kincir Angin.
Di Venlo, terdapat jalan RA Kartinistraat terletak di daerah Hagerhof. Jalan ini berbentuk huruf ‘O’. Di sekitarnya juga ada nama para tokoh wanita lain seperti Anne Frank dan Mathilde Wibaut. Venlo sendiri terletak di Belanda bagian Selatan.

Ibukota Belanda, Amsterdam juga mengabadikan nama pahlawan wanita Indonesia ini yang ditulis lengkap. Jalan Raden Adjeng Kartini, berada di kawasan Zuidoost atau Bijlmer. Selain itu ada nama wanita berpengaruh lain yang diabadikan menjadi nama jalan yaitu Rosa Luxemburg, Nilda Pinto, dan Isabella Richaards.

Sementara di kota Harleem, ada nama Jalan Kartini yang juga berdekatan dengan nama jalan pahlawan Indonesia lain seperti Jalan Mohammed Hatta, Jl Sutan Sjahrir dan langsung tembus ke Jalan Chris Soumokil, presiden kedua Republik Maluku Selatan (RMS).

Dan yang teraktir yaitu kota Utrecht , ada Jalan RA Kartini di kota yang dihuni kalangan menengah tersebut. Jalan RA Kartini berbentuk ‘U’. Oh iya, jalan RA Kartini di Utrecht ukurannya lebih besar dibandingkan jalan dengan nama tokoh perjuangan lainnya di daerah itu.
Kartini Indonesia Masa Kini.

Sudah banyak perempuan Indonesia yang mengharumkan nama Indonesia di dunia. Salah satunya adalah Sidrotun Naim, pelajar tingkat PhD di bidang Sain Lingkungan ini pada bulan Maret lalu telah dinobatkan sebagai salah satu penerima penghargaan “the 2012 L’Oreal-UNESCO International Fellows”.

Wanita asli Solo ini salah satu dari 15 wanita di dunia yang menerima penghargaan tersebut. Penelitian beliau di bidang molecular virology bertujuan untuk menginvestigasi dan mengubah struktur dan fungsi genetik IMNV, virus baru di Indonesia yang dapat membunuh hampir 70% populasi udang. Tentu saja hasil penelitian mahasiswa University of Arizona ini akan memberi impak besar bagi perkembangan ekonomi Indonesia terutama di bidang peternakan udang. Yang pasti, karena Sidrotun Indonesia akan memiliki ahli patologi perempuan bertaraf Internasional untuk pertama kalinya.

Ada juga Betti Setiastuti Alisjahbana, yang merupakan perempuan pertama yang menduduki jabatan Presiden Direktur IBM di kawasan Asia Pasifik (1999-2008). Alishahbana yang kini menjadi pemimpin PT Quantum Business International, yang bergerak di Industri Kreatif mengatakan, kunci keberhasilannya adalah kejujuran, integritas dan motivasi yang tinggi.

Berikutnya Indonesia punya Astrid Vasile (Astrid Saraswati Kusumawardhany). Wanita ini menjadi satu-satunya wanita Indonesia yang terdaftar sebagai registered builder (kontraktor bangunan) di Australia. Astrid adalah satu dari 12 wanita yang mempunyai lisensi untuk mendirikan bangunan, dari sekitar 1000 orang dalam kategori yang sama. Dia belajar ilmu ekonomi sosial dan mendapatkan gelar MBA di Indonesia.

Saat ini Astrid adalah Presiden Indonesia Diaspora Network Australia Barat, ketua Jaringan Profesional dan Pengusaha Wanita Indonesia-Australia dan menjadi direktur pelaksana perusahaan konstruksi GV di Australia Barat.

Perempuan Indonesia semakin membuktikan kemampuannya dengan memiliki profesi yang awalnya hanya di lakukan oleh laki-laki, seperti pengemudi taksi dan bis Trans Jakarta, pemimpin pemerintahan daerah, Pilot, atau Pembalap mobil.

Seperti yang dikatakan Presiden SBY bahwa gerak juang Kartini bukan sekedar inspirasi, tapi telah menjadi kekuatan sejati bagi kemajuan bangsa. Saat ini peranan perempuan, bukan hanya penting di dalam keluarga namun juga penting dalam mengelola perekonomian serta menjadi penggerak dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan seperti penghijauan, pendidikan dan kesehatan berskala nasional.

(Setper-22/4)



21 April, 2014

Minum Spirulina Mahmud dan Menunggu Sidiq

Dahlan Iskan

 

Dua anak muda ini gigihnya bukan main. Mahmud dan Sidiq. Mahmud baru lulus dari jurusan Teknik Kimia Universitas Diponegoro Semarang, dan Sidiq masih kuliah di Teknik Mesin Universitas Brawijaya Malang.

Dua bulan lalu ketika saya bermalam di satu desa di pinggir hutan di pedalaman Wonogiri, Jawa Tengah, Mahmud nguber saya sampai ke desa itu.

Senja amat mendung. Hujan renyai-renyai tidak kunjung berhenti. Di suasana senja yang dingin itu Mahmud menyusul saya ke masjid desa.

Meski langit sudah gelap, saat maghrib ternyata masih lama. Mahmud membuka laptopnya. Dengan berapi-api dia mendesak saya. “Pemerintah harus turun tangan. Jangan mengabaikan penemuan saya ini,” katanya.

Saya dengarkan terus penjelasannya yang bertubi-tubi itu. Ditonton orang-orang desa yang siap-siap berjamaah maghrib. Di mata yang mendengarkan penjelasan itu pemerintah terkesan jelek sekali. Tidak membantu dan mengakomodasikan penemuan seperti ini.

“Ini sangat menguntungkan, Pak Dahlan,” ujarnya. “Ayo, BUMN bantu dengan CSR-nya,” tambahnya.

Rupanya Mahmud baru menemukan rumus mengembangkan algae air tawar. Itulah produk yang disebut spirulina. Selama ini memang sudah banyak beredar di pasar produk spirulina. Tapi spirulina hasil dari algae air asin (air laut).

Produk ini terkenal terutama karena agresifnya sistem pemasaran multi level marketing (MLM). Mahal tapi laris. Khasiat spirulina yang tingggi membuat impor spirulina luar biasa besarnya.

“Saya berhasil mengembangkan algae air tawar,” katanya. “Dengan demikian spirulina dari algae yang saya kembangkan ini bebas logam berat, arsen, dan tidak bau amis,” tambahnya.

“Ini pertama di indonesia,” kata Mahmud bersemangat.

Di dalam masjid di desa pinggir hutan itu, sambil menunggu datangnya maghrib, Mahmud saya ajak hitung-hitungan. Saya cecar dia dengan pertanyaan-pertanyaan: harga benih, modal bikin kolam, harga jual, tingkat persaingan, risiko gagal, dan seterusnya.

Mahmud bisa menjawab dengan tangkas. Akhirnya saya berkesimpulan: penemuan ini memang sangat baik. Juga sangat menguntungkan. Satu hektar sawah bisa menghasilkan Rp 300 juta. Bandingkan dengan tanam padi yang menghasilkan sekitar Rp 50 juta.

“Kalau begitu berhentilah Anda menyalah-nyalahkan pemerintah,” kata saya.

“Berhentilah berpikir ngemis-ngemis cari bantuan,” kata saya lagi.

“Ini bisnis yang bagus. Lakukan sendiri. Jangan cengeng. Kalau Anda minta pemerintah ikut campur bisa-bisa tambah ruwet,” tegas saya.

Alhamdulillah. Mahmud bisa menerima penjelasan saya. Dia tidak akan menyalah-nyalahkan orang. Juga tidak akan ngemis-ngemis. Dia akan terjun ke bisnis dengan basis penemuannya itu. “Go!” kata saya dengan bangga pada anak muda ini.

Saya pun berjanji akan mengunjunginya kalau dia sudah menjalankan bisnisnya itu.

Minggu lalu saya memenuhi janji itu. Saya ke desanya, Tawangsari, Sukoharjo, di selatan Solo. Tanpa memberitahu lebih dulu. Matahari bersinar terik. Saya lewati pabrik tekstil terkenal itu: Sritex. Masih terus ke selatan.

Desa ini bukan desa miskin. Rumah-rumahnya bagus. Tidak sulit mencari rumahnya. Bapaknya ternyata orang terkenal: politisi PAN yang sedang nyaleg. Juga tergolong kaya untuk ukuran desa itu. Saya lega. Mahmud pasti punya modal untuk mengembangkan algae air tawarnya.

Ternyata benar. Mahmud sudah punya tiga kolam kecil. Bahkan sudah berhasil panen algae air tawar beberapa kali. Algae ini memang bisa dipanen tiap empat hari. Algae itu dia saring, dia keringkan, dan dia bikin tepung. Dengan alat-alat sederhana. Lalu dia masukkan ke saset-saset. Siap dijual. Bersaing dengan spirulina impor.

Saya sangat gembira. Mahmud benar-benar anak muda yang gigih. Saya membeli 10 saset hari itu.

Salah satunya saya buka, saya buang labelnya, saya masukkan plastik tanpa identitas. Sampai Jakarta “tepung tanpa identitas” itu saya kirim ke laboratorium Kimia Farma. Untuk diteliti. Saya tidak memberitahu asal usul dan nama tepung itu.

Hasil uji lab itu mengatakan bahwa tepung tersebut adalah spirulina, namun tidak mengandung logam berat, arsen, dan NACL. Juga tidak ada kandungan bahan kimia.

Sejak itu saya minum spirulina made in Sukoharjo itu. Tiap hari.

Mahmud juga sudah mendirikan perusahaan. Namanya CV Neoalgae Technology. Sebagai lulusan Teknik Kimia Undip, dia tidak sulit melakukan penelitian-penelitian untuk membiakkan algae itu.

Kini Mahmud akan memperbesar kolam-kolam algaenya. Tidak lagi hanya tiga kolam di sebelah rumahnya. Dia sudah mulai mengerjakan sawah satu hektar agak jauh dari rumahnya untuk diubah jadi kolam algae air tawar.

“Saya kuwalahan. Pesanan spirulina melebihi produksi saya,” ujarnya. “Terutama dari perusahaan-perusahaan obat herbal,” tambahnya.

Tentu saya berdoa agar Mahmud jadi pengusaha muda yang sukses besar. Dia layak untuk itu. Kita berharap Indonesia tidak perlu lagi impor spirulina. Mahmud juga tidak keberatan ada anak muda lain yang mengikuti jejaknya.

Lain lagi dengan Sidiq. Dia menemukan alat pengering gabah. Mengandalkan tenaga surya. Mirip dengan yang ditemukan mahasiswa Universitras Mataram di Lombok.

Waktu itu saya sedang nonton wayang di desa Campurdarat, Tulungagung, Jawa Timur. Tiba-tiba Sidiq nongol. Jam sudah menunjukkan pukul 00.00. Dia datang dari Malang. Naik sepeda motor. Dua jam lamanya. Di malam yang kelam. Melewati jalan yang berliku naik turun di sekitar bendungan Karangkates. Nekat benar anak ini.

Malam itu deal! Saya berikan dana untuk membuat prototype-nya. Dua bulan lagi barang itu akan jadi.

Sidiq sangat amanah. Di waktu yang dijanjikan dia selesaikan proyek itu. Jumat kemarin saya lihat hasilnya. Bisa berfungsi. Namun suhunya kurang panas. Dia masih menggunakan kaca biasa. Bukan kaca khusus yang bisa menghasilkan panas 20 derajat lebih tinggi.

Tapi itu soal sepele. Yang jelas fungsinya sudah ketemu. Saya minta alat ini disempurnakan. Di bawah binaan BUMN PT Pertani. Siapa tahu bisa menggantikan mesin pengering yang mahal-mahal dengan bahan bakar yang juga mahal itu.

Mahmud, Sidiq, dan banyak lagi anak muda yang tidak kenal menyerah. Harapan besar di depan mata.

Saya akan terus minum spirulinanya Mahmud. Dan menunggu pengering gabahnya Sidiq.

*Dahlan Iskan, Menteri BUMN RI

(Setper-21/4)



16 April, 2014

Seminar Perum LKBN ANTARA Biro Sulsel: Potensi Sawit Dalam Negeri Harus Dikembangkan

Seminar ANTARA Sulsel
Dosen Universitas Hasanuddin Prof. Dr. Laode Asrul memberikan materi dalam seminar sawit mengangkat tema CSR Industri Sawit Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat di Hotel Arya Duta Makassar, Sulsel, Senin (14/4) ANTARA FOTO/Darwin Fatir

 

Pewarta:Riesmawan Yudhatama

Makassar(ANTARA Sulsel) – Potensi-potensi wilayah pengembangan sawit di Indonesia harus terus dipertahankan. Kualitas produknya pun harus tetap dijaga agar tetap diminati negara-negara tujuan ekspor.

Pendapat tersebut dikemukakan dosen Universitas Hasanuddin Prof. Dr. Laode Asrul, salah satu pembicara seminar sehari bertema CSR Industri Sawit dan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat yang diselenggarakanPerum LKBN ANTARA Biro Sulsel di Makassar, Senin.

Untuk itu, masalah-masalah seputar industry sawit dalam negeri juga harus segera diatasi. Menurutnya, ada enam masalah utama yaitu kepastian hokum, tata ruang, tumpang tindih regulasi lahan, bea keluar yang tinggi dan pembatasan kepemilikan hutan.

Di samping itu, persaingan dengan pihak asing di industry minyak nabati juga menghambat industry sawit. Sawit yang banyak dihasilkan Indonesia sangat diperhitungkan bagiminyak nabati seperti “soy bean” yang dihasilkan Negara-negara Eropa.

Ketua Bidang Hukum dan Advokasi Gabungan Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Dr. Ir. Tungkot Sipayung mengatakan, dukungan terhadap industry sawit itu sangat beralasan karena sawit merupakan lokomotif pertumbuhan perekonomian Indonesia.

Menurutnya, peran positif dan manfaat sawit sangat luar biasa karena daya sebar (lingkages) sawit bernilai lebih besar dari satu. Dampak perkembangan industry sawit ini pada gilirannya menarik perkembangan sector-sektor lainnya.

Apalagi, lanjut Tungkot yang juga menjabat Direktur Eksekutif PASPI (Palm Oil Industries Agribusiness Strategic and Institute) peluang untuk mengatasi kemiskinan melalui industry sawit ini semakin terbuka karena karakteristik masyarakat pedesaan yang memang masih banyak hidup dari sector pertanian.

Dari data BPS, 50 persen penduduk Indonesia berada di pedesaan dan 63 persen penduduk miskin Indonesia berada di pedesaan.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Kepala Sawit Indonesia, Asmar Arsjad, efek positif sawit sudah terlihat dari pola kemitraan dengan masyarakat sekitar perkebunan yang selama ini dijalankan perusahaan sawit. Misalnya, dengan menjadikan masyarakat sebagai petani plasma.

Sayangnya, pola yang sudah sangat baik ini, menurutnya, tengah menghadapi banyak hambatan seperti adanya kebijakan bea keluar dan moratorium yang banyak merugikan petani sawit.

Dari sisi petani juga ada kendala yang perlu solusi, yaitu masalah modal. Modal sangat dibutuhkan petani untuk meremajakan kebun plasma.

Sebenarnya sumber dana itu sudah tersedia, yaitu dana bea keluar serta dana moratorium hasil kesepakatan pemerintah Norwegia. Sejauh ini, menurutnya, dana bea keluar yang terkumpul sudah sebesar Rp100 triliun sedangkan dana moratorium sebesar 1 milyar dolar Amerika dan sana Revitbun Rp500 triliun.

“Manfaatkan dana-dana ini untuk program ‘replanting’ rehabilitas dan perluasan Kelapa Sawit Nasional,” katanya yang berharap pemerintah lebih berpihak kepada kelapa sawit rakyat.

Pada seminar yang diselenggarakan yang diselenggarakan Perum LKBN ANTARA Biro Sulsel untuk jurnalis dan mahasiswa itu menghadirkan empat pembicara yakni Prof La Ode dari Universitas Hasanuddin, Sekjen Asosiasi Petani kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Asmar Arsjad, Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Dr Ir Tungkot Sipayung dan Wartawan Senior Jawa Pos Group Kurniawan Muhammad.

(Seper-16/4)



14 April, 2014

Main-main Nasib Ahli yang Mahal

Dahlan Iskan

Saya merasa bersalah. Salah besar. Terutama kepada anak muda yang hebat ini: Ricky Elson.

Dia sudah enak hidup di Jepang. Sekolahnya pintar dan setelah lulus pun langsung diminta untuk bekerja di perusahaan besar di sana.

Gajinya bagus dan kariernya melejit. Perusahaan itu juga memberikan lapangan yang luas yang bisa dia pakai untuk berkiprah.

Ricky Elson menemukan banyak inovasi kelas dunia. Selama bekerja di Jepang dia berhasil mematenkan 14 penemuan di lembaga paten di Jepang, terutama di bidang motor listrik. Anak yang begitu lulus SMA di Padang ini langsung sekolah di Jepang, menjadi anak emas di sana.

Kesalahan saya adalah memintanya pulang ke Indonesia. Untuk mengabdi ke bangsa sendiri. Cukuplah mengabdi 14 tahun untuk bangsa Jepang.

Di berbagai kampus universitas kita, saya memang sering mendengar teriakan mahasiswa seperti ini: mengapa tidak diusahakan memanggil pulang anak-anak bangsa yang hebat-hebat yang kini di luar negeri.

Terakhir suara seperti itu saya dengar waktu dialog dengan mahasiswa Politeknik Negeri Denpasar, dan saat dialog dengan mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Purwokerto dua minggu lalu.

Pertanyaan seperti itu juga disuarakan banyak kalangan, di berbagai kesempatan.

Tentu saya mencoba untuk realistis. Jangan semua anak kita yang hebat dipanggil pulang. Panggillah yang benar-benar diperlukan untuk proyek mendesak yang bisa mengeluarkan bangsa ini dari kesulitan.

Saya melihat bangsa ini lagi terbelit masalah besar. Yang belum menemukan jalan keluarnya yang jelas, yakni persoalan ketergantungan bangsa ini pada bahan bakar minyak (BBM) impor. Kian lama impor BBM kita kian besar. Dan, akan kian besar.

Salah satu solusi yang saya lihat adalah mobil listrik. Bukan karena saya ahli mobil listrik, melainkan begitulah pendapat ahli di seluruh dunia. Kalau kita terlambat mengembangkannya, kita akan terantuk lubang untuk kedua kalinya. Mobil-mobil listrik buatan asing akan membanjiri Indonesia dalam 15 tahun ke depan.

Maka, saya merayu Ricky untuk pulang. Memang dia semula menolak. Gajinya akan turun drastis. Dia sudah menikah. Perempuan Padang juga. Dia sudah harus bertanggung jawab pada keluarga.

Alasan penolakan terbesarnya adalah ini: apakah saya akan berarti? Apakah saya akan mendapatkan keleluasaan untuk mencipta? Apakah pemerintah indonesia akan memberikan dukungan? Apakah proyek itu benar-benar akan bisa jalan? Dan, banyak pertanyaan yang sifatnya jauh dari urusan uang seperti itu.

Soal gaji yang akan turun, saya bisa mencarikan jalan keluar. Biarlah seluruh gaji saya sebagai menteri dialah yang menerima. Setiap bulan. Akan tetapi, soal jaminan kelangsungan proyek saya sulit memberikan, kecuali bahwa saya akan ikut all out, termasuk membiayai seluruh pembuatan mobil-mobil listrik prototype.

Ricky memenuhi komitmennya. Membuat mobil listrik 100 persen made in Indonesia. Dia juga berhasil membina tenaga-tenaga ahli di Pindad agar bisa membuat bagian yang paling sulit dari mobil listrik: motor listrik.

Akan tetapi, nasib mobil listrik kini kian tidak jelas. Aturan tentang mobil listrik tidak segera keluar. Sikap Bapak Presiden sendiri sudah sangat jelas: berikan dukungan yang maksimal untuk mobil listrik. Nyatanya sulitnya bukan main.

Kini Ricky menganggur di Indonesia. Dia seperti harus menunggu Godot. Maka, dia mulai merasa hidup sia-sia. Dia ingin kembali ke Jepang. Dia tidak berani mengatakannya langsung kepada saya, tetapi dari beberapa tulisan tentang Ricky di Kompasiana saya bisa merasakan dukanya yang dalam.

Bahkan, salah seorang temannya di Jepang meledeknya dengan kalimat ini: sudah puaskah Anda hanya main-main di Indonesia?

Saya merasa bersalah. Saya tidak akan mampu menahannya, terutama karena masa depannya yang tidak boleh dikorbankan.

Ricky sebenarnya sangat ideal bagi saya. Selama hampir dua tahun di Indonesia dia kerja amat keras. Sama sekali tidak menonjolkan diri sebagai seorang ahli. Dia sangat ringan kaki. Mau terjun ke bawah dan mengurus hal yang detail.

Dia tidak segan-segan ikut angkat-angkat barang. Dia mau membina dan mengajar secara telaten dan sistematis, seperti mempraktikkan dan menularkan ilmu yang dia peroleh selama di Jepang.

Saya masih berharap, kalau perjuangan mobil listrik sudah jelas, kelak akan merayunya kembali untuk pulang ke Indonesia.

*Dahlan Iskan, Menteri BUMN RI

(Setper-14/4)



11 April, 2014

UNFINISHED, Proses Belajar Tanpa Akhir

Foto Pameran UNFINISHED/div>

 

Pameran tahunan bagi peserta Workshop Fotografi Reguler di Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) kembali digelar. Pada tahun penyelenggaraan ke-19 ini sebanyak 32 peserta (16 kelas Dasar dan 16 kelas Jurnalistik), akan memamerkan total 204 karya terdiri dari 82 foto tunggal dan 16 esei (122 foto) dalam sebuah pameran foto bertajuk “UNFINISHED”.

Pameran hasil workshop ini adalah bentuk pertanggungjawaban peserta selama mengikuti kelas dasar dan kelas jurnalistik dan juga merupakan bentuk ekspresi serta kesiapan untuk hadir di tengah masyarakat melalui media seni fotogafi.

Workshop yang berlangsung selama setahun ini dimulai dari proses seleksi calon peserta hingga penyelesaian tugas akhir berupa pameran bersama yang sudah merupakan tradisi di GFJA. Unfinished sendiri adalah tema hasil dari proses demokrasi para peserta yang menyadari bahwa proses yang mereka dapatkan dari kegiatan pembelajaran informal ini diyakini tidak akan pernah selesai selama hayat dikandung badan.

“Bagi kami fotografi bisa menjadi gerbang untuk mempelajari segala hal-hal baru di sekitar kita, itu tandanya pembelajaran tak akan berhenti sampai seseorang menghembuskan nafas terakhir”, ujar seorang peserta.

Program yang dilaksanakan rutin setiap tahun oleh GFJA ini memang antaralain bertujuan sebagai pembelajaran dan bekal yang diharapkan dapat membawa perubahan tingkah laku atas keterampilan yang baru.

Sejak awal pertemuan kelas, peserta didorong untuk memahami arti penting mengetahui hasil yang diharapkan dari workshop ini dan seberapa penting bagi mereka untuk mencapainya. Metode pembelajaran dalam workshop ini tidak ditentukan oleh nilai, namun instruksi dan pendekatan dibangun untuk mengarahkan mereka agar mampu menyelesaikan tugas atau memecahkan masalah yang dihadapi secara mandiri.

Tidak sedikit kendala yang ditemui dalam perjalanan pendidikan termasuk persiapan pameran selama setahun ini. Memang para peserta didorong untuk berbuat dan “salah” namun mereka selalu diberi kesempatan untuk memperbaikinya tanpa harus merasa bahwa kesalahan adalah akhir dari segalanya. Sanksi tetap dihadirkan tetapi penghargaan tetap diberikan apabila mereka berhasil melalui masa-masa sulit, sehingga pepatah “bahkan di ujung cemeti pun masih ada kasih” menjadi fakta di atas karya.

Pameran yang akan dibuka oleh Direktur Utama Kantor Berita Antara Saiful Hadi, Kurator GFJA Oscar Motuloh, pada Jumat 11 April 2014 Pk. 19.30 WIB dihadiri tamu undangan serta para sponsor dan berlangsung hingga 11 Mei 2014 mendatang.

Masyarakat umum dapat menyaksikan pameran ini di Galeri Foto Jurnalistik Antara, jalan Antara no. 59-61, Pasar Baru, Jakarta Pusat , setiap hari kerja dari pukul 09.00 – 21.00 WIB (Senin dan hari besar nasional tutup).

(Setper-10/4)