ilustrasi
england-flag

English

england-flag

Indonesia

SIARAN PERS

4 March, 2015

“PR in Government”, Menelisik Kinerja PR di Lingkungan Pemerintahan

Perum LKBN ANTARA dan BamboeDoea Komunikasi berencana menyelenggarakan tiga seminar kehumasan untuk praktisi Public Relations (PR)/Humas yang bekerja di pemerintahan, badan usaha milik negara dan kalangan swasta sepanjang tahun 2015.

Seminar pertama bertajuk “PR in Government” berlangsung pada pertengahan bulan Februari 2015 di Auditorium Adhiyana, Wisma ANTARA, Jakarta Pusat, sekaligus dilakukan peluncuran buku “PR in Government”, sebagai kiprah 20 tahun BamboeDoea Komunikasi di belantara pengelolaan informasi.

Tampil sebagai pembicara dalam seminar pertama, Dirjen Informasi & Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika, Freddy H. Tulung, Wakil Ketua Umum BPP Perhumas, Heri Rakhmadi dan Direktur Pemberitaan Metro TV, Suryopratomo.

Berawal dari fakta belum kondusifnya tingkat kepercayaan publik terhadap kinerja lembaga pemerintah, ketiga pembicara mengurai kondisi kehumasan instansi pemerintah dewasa ini. Hasil survey sejumlah lembaga di Indonesia selama lebih dari satu dasawarsa terakhir, menyatakan tingkat kepercayaan publik terhadap instansi pemerintah atau badan publik masih berada pada level memprihatinkan.

Baik lembaga eksekutif, legislatif maupun yudikatif, direspon dengan sentimen negatif oleh masyarakat. Pergantian sejumlah kepala negara tidak menjadikan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pemerintah/badan publik membaik.

Bahkan Presiden ke-4, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur sempat berujar mengapa pemerintah tidak mendapat porsi yang cukup di kalangan media massa untuk menyampaikan program kerjanya sehingga terjadi disinformasi?

Kendati pemerintah banyak membuka saluran berkomunikasi secara langsung kepada masyarakat, tetap saja komunikasi publik lembaga pemerintah dianggap belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan, malah terus menurun dan memunculkan persepsi keliru masyarakat dalam memandang kinerja pemerintah.

Komunikasi pemerintah dianggap kurang berpengaruh, tidak memberikan pemahaman yang komprehensif terhadap pembentukan pengetahuan masyarakat atas program kerja pemerintah dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang melek dengan target program pemerintah, walaupun pada satu sisi pemerintah memiliki sumber daya dan sumber dana yang besar. “Cara komunikasi lembaga pemerintah kepada publik masih jauh dari harapan,” kata Suryopratomo.

Menurut Suryopratomo, cara pandang outward looking para pemimpin Indonesia di jaman memperebutkan kemerdekaan, sungguh menarik perhatian dunia. Mereka menggelar diplomasi yang mampu meyakinkan dunia bahwa Indonesia harus merdeka dan dunia kemudian mengakui kemerdekaan Indonesia. Pada saat yang sama inward looking yang dilaksanakan para pemimpin tersebut mampu menjadi alat pembentukan karakter nasional.

Sesudah masa perjuangan kemerdekaan, Indonesia lebih inward looking dengan target stabilitas yang diejawantahkan pada pelaksanaan trilogi pembangunan. Aparatur komunikasi negara adalah Departemen Penerangan, TVRI dan RRI. Masuk ke masa reformasi, Suryopratomo mempertanyakan “mengapa pemerintah justru tidak punya strategi besar dalam membangun masyarakatnya?”.

Dua Hal Mendasar
Terdapat dua pertanyaan mendasar terhadap lemahnya tingkat kepercayaan publik kepada pemerintah, pertama, apakah memang lembaga pemerintah/badan publik tidak berkinerja baik? atau apakah lembaga pemerintah sudah berkinerja baik tapi belum mampu melaksanakan komunikasi dan diseminasi program yang pas kepada masayarakat, sehingga masyarakat tidak paham apa yang sudah dikerjakan lembaga pemerintah dalam melaksanakan pembangunan bangsa?

“PR adalah mata dan telinga korporasi. PR juga memiliki cakupan kerja yang luas melebihi institusinya, karena itu PR tidak hanya bertanggungjawab terhadap pencitraan institusi tapi bagaimana PR menjadi juru komunikasi di ruang publik,” kata Freddy H. Tulung.

Merunut kembali perkembangan kehumasan di Tanah Air, Freddy H. Tulung sampai pada titik balik perubahan model komunikasi yang dikembangkan oleh anak-anak bangsa pada tahun 1908 dengan berdirinya Boedi Oetomo dan mencapai titik terangnya pada tahun 1928 ketika dilaksanakan deklarasi Sumpah Pemoeda oleh kelompok-kelompok pemuda dari berbagai suku, ras, agama, etnis mewakili seluruh bangsa Indonesia untuk mewujudkan Indonesia merdeka.

Kehumasan pada tahun itu berubah dari pendekatan fisik dan senjata menjadi pendekatan rasional dan diplomasi via komunikasi. “Perlu diingat, bukan yang besar yang akan lestari melainkan yang paling adaptif akan perubahanlah yang survive,” kata Freddy H. Tulung merujuk kepada perubahan pola pikir kehumasan yang dilakukan bangsa Indonesia kala itu.

Dan bagaimana dengan sekarang? Apakah informasi dan komunikasi masih menjadi alat untuk mempersatukan bangsa? Menjadi alat untuk edukasi publik dan instrumen pembangunan untuk mewujudkan kesejahteraan bangsa? Selama era perjuangan kemerdekaan, orde lama, orde baru dan reformasi, pendekatan yang dilakukan oleh praktisi Humas berbeda-beda.

Semuanya memiliki kelebihan dan kelemahan namun pada intinya adalah bagaimana praktisi PR selalu tampil sebagai ujung tombak dalam membangun kedekatan dengan para pemangku kepentingannya, dalam hal ini adalah masyarakat Indonesia yang menginginkan kehidupan yang lebih baik, sejahtera, adil dan makmur.

PR pada abad 21 dihadapkan pada tantangan globalisasi, demokrasi dan kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Informasi yang dulu hanya di ranah publik, saat ini sudah merambah ke wilayah-wilayah yang lebih privat. Bila dulu perlu waktu untuk memperoleh informasi, kini tinggal klik, informasi diperoleh secara seketika dan bahkan malah banjir tanpa saringan.

Globalisasi membentuk pasar tunggal yang sarat dengan kompetisi dan agar mampu unggul dalam kompetisi perlu kemampuan berkomunikasi. Dari sisi komunikasi, perwujudan globalisasi, demokrasi dan kemajuan pesat TIK ternyata menimbulkan noisy pada konten. Siapapun bisa bersuara, bisa mengkritik, bisa menyalahkan, bisa menghujat sehingga marak tindak kekerasan antar suku, agama, ras, etnis dan kelompok.

Menurut Freddy H. Tulung perlu dilakukan Government Public Relations (GPR) yakni pengelolaan informasi dan komunikasi yang berkelanjutan untuk memperoleh pemahaman dan dukungan publik terhadap penyelenggara negara.

Peran dan fungsi GPR adalah untuk mengelola informasi dan mengelola reputasi. Dalam hal ini, Humas berperan sebagai motor penggerak untuk mengedukasi publik dengan membangun karakter bangsa dengan konten informasi yang edukatif, mencerahkan, memberdayakan dan cinta kepada Tanah Air. Selain itu posisi PR dalam instansi pemerintah sebagai ujung tombak lembaga masing-masing kian signifikan, sesuai dengan peran dan fungsi GPR dalam mengelola issue dan mengelola reputasi lembaga pemerintah.

Persoalan Klasik PR di Lembaga Pemerintah
Sementara itu, pembicara lainnya, Heri Rakhmadi menyatakan pada umumnya, persoalan klasik yang dihadapi para praktisi PR di lembaga pemerintahan adalah keterbatasan anggaran, minimnya kualitas SDM di bidang ke-PR-an dan kurang memperoleh dukungan atasan, bagian perencanaan maupun bagian keuangan. Kendati demikian, Humas tidak boleh patah semangat, justru disinilah Humas ditantang untuk lebih kreatif agar tujuan program kegiatan dapat tercapai.

PR sebagai penanggungjawab komunikasi internal dan eksternal perusahaan perlu memahami kendala di lapangan lebih dari sekedar persoalan klasiknya. Praktisi PR terlebih dulu harus memahami siapa para pemangku utama lembaganya dan apa yang diperlukan oleh mereka. PR harus fokus pada sasaran program komunikasinya dengan mengembangkan pola hubungan yang sinergis, harmonis dan integratif. Hal-hal lain yang seyogianya menjadi prioritas adalah para PR tahu keberadaan posisi instansinya, issue-issue yang menonjol di masyarakat dan issue apa yang saat sedang berkembang, utamanya yang terkait dengan lembaganya. Selain itu, PR juga perlu memahami posisi instansinya di mata publik.

“Praktisi Humas harus berani menyampaikan hal yang paling pahit kepada atasannya. Hal ini tentu terkait dengan cara menyampaikan hal yang pahit itu,” kata Heri. Menurut pendiri BamboeDoea Komunikasi ini, setelah menganalisis situasi, hal mendasar yang harus dilakukan adalah menentukan tujuan program komunikasi yang akan dilaksanakan.

Basis dari penetapan tujuan program PR biasanya sesuai dengan kaidah SMART (Specific/spesifik, Measurable/dapat diukur, Achievable/dapat dicapai, Realistis dan Time-Bound/terikat waktu). Sedangkan kaidah pelaksanaan program umumnya mengacu kepada kegiatan Planning, Organizing, Actuating dan Controlling (POAC) agar sistematis dan terukur.

Membuat program yang dapat diukur akan memudahkan praktisi PR maupun para pemangku kepentingan mengambil keputusan atau membuat solusi atas suatu masalah dan tantangan kinerja yang mungkin timbul dalam mencapai target kegiatan.

Dalam mengkomunikasikan pesan, praktisi PR perlu memahami juga apa yang menjadi target dan kondisi para pemangku kepentingannya. Pesan menjadi bagian yang krusial dalam proses berkomunikasi. Pesan yang dapat diterima sangat berhubungan erat dengan konten pesan yang disampaikan. Pesan postif sekalipun belum dapat diterima secara positif oleh para pemangku kepentingan. Dalam hal ini, kepiawaian praktisi PR sangat diperlukan dalam “membaca” para pemangku kepentingan.

Kemampuan memetakan situasi psikologis yang mengikat antara para pemangku kepentingan dengan instansi atau lembaga tempatnya berkarya akan amat sangat membantu memilah alat komunikasi seperti apa yang diperlukan dalam melaksanakan program komunikasi sebuah instansi pemerintahan. Dari situ, praktisi PR akan paham akan pesan seperti apa yang paling pas untuk disampaikan. Pesan yang disampaikan oleh praktisi PR akan diserap sebagai pengetahuan terlebih dulu oleh para pemangku kepentingan sebelum dijadikan sebagai dasar untuk mengubah sikap dan perilaku mereka.

Heri Rakhmadi juga menyampaikan dalam melaksanakan kegiatan komunikasi, para praktisi PR lembaga pemerintah memiliki alat komunikasi terpadu yang terdiri dari rangkaian kegiatan above the line (iklan di media massa, tv, radio, internet dan printed media), below the line (event, direct sales, promotion, FGD) dan through the line (publikasi melalui website, sosial media, word of mouth), lobi dan media relations. Hal lain yang mengemuka bagi praktisi PR juga adalah konsistensi untuk memonitor terus hasil kinerja komunikasi instansinya agar realisasi dari program dapat terus dikembangkan seoptimal mungkin.

Seminar yang dibuka oleh Direktur Utama Perum LKBN ANTARA, Saiful Hadi ini ditutup dengan penyerahan buku “PR in Government” kepada sejumlah tokoh masyarakat antara lain Hakim Konstitusi, Patrialis Akbar , Dewan Pengawas TVRI Elprisdat, Pendiri London School of PR, Prita Kemal Ghani, Ketua BPP Perhumas Agung Laksmana, Project Manager UNDP, Pheni Chalid, Direktur Keuangan Perum LKBN ANTARA, Endah Sri Wahyuni, dll.

(Setper-4/3)



3 March, 2015

Indonesia Perlu Kerja Keras Tangani Sampah

Sampah, umumnya diartikan sebagai barang atau benda yang dibuang karena tidak terpakai lagi. Sampah juga dimaknai sebagai material sisa, baik dari hewan, manusia, maupun tumbuhan yang tidak terpakai lagi dan dilepaskan ke alam dalam bentuk padat, cair ataupun gas. Sampah, banyak jenisnya dan disesuaikan berdasarkan sumber, sifat, bentuk atau asal sampah. Sampah ketika dilepaskan dalam fase cair atau gas dapat dikatakan sebagai emisi. Emisi biasa dikaitkan dengan polusi.

Pada kehidupan manusia, sampah dalam jumlah besar datang dari aktivitas industri (dikenal juga dengan sebutan limbah), misalnya pertambangan, manufaktur, dan konsumsi. Hampir semua produk industri akan menjadi sampah pada suatu waktu, dengan jumlah sampah yang kira-kira mirip dengan jumlah konsumsi.

Sampah jenis lain yang biasanya menjadi perhatian manusia adalah sampah konsumsi. Sampah konsumsi adalah sampah yang dihasilkan oleh (manusia) pengguna barang atau sampah yang dibuang ke tempat sampah. Meskipun demikian, jumlah sampah kategori ini pun masih jauh lebih kecil dibandingkan sampah-sampah yang dihasilkan dari proses pertambangan dan industri.

Pada tahun 2012, Kementerian Lingkungan hidup mencatat rata-rata penduduk Indonesia menghasilkan sekitar 2,5 liter sampah per hari atau 625 juta liter dari jumlah total penduduk. Sampah tersebut termasuk dari sampah organik dan anorganik. Apapun tentang sampah tentu tidak dapat diabaikan karena dapat mengganggu kesehatan lingkungan dan estetika wilayah. Apalagi terdapat data yang menyatakan, volume sampah di Indonesia sekitar 1 juta meter kubik per hari, namun baru 42% di antaranya yang terangkut dan diolah dengan baik. Jadi, sampah yang tidak diangkut setiap harinya sekitar 348.000 meter kubik atau sekitar 300.000 ton.

Hingga saat ini persoalan sampah masih banyak ditemui di berbagai wilayah di Indonesia. Sedemikian masifnya, sampah dapat ditemukan di jalanan, selokan, sungai, dan bahkan daerah pantai. Slogan “Buanglah Sampah pada Tempatnya” menjadi sekedar slogan yang tak lagi memiliki makna. Padahal sampah dapat berdampak buruk bagi kehidupan manusia. Sampah yang menumpuk tanpa adanya pengelolaan yang benar dapat menimbulkan berbagai penyakit dan menghasilkan zat kimia berbahaya. Sampah yang menumpuk di selokan dan sungai juga menyebabkan terjadinya banjir yang kerap menjadi bencana rutin di Tanah Air. Sampah masih dianggap sebagai persoalan sepele bagi masyarakat. Rasa ketidakpedulian itu pun akhirnya berkembang menjadi sebuah kebiasaan yang sulit untuk diubah.

Tragedi Leuwigajah

Tahukah Anda bahwa tanggal 21 Februari diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional?
Ya, peringatan Hari Peduli Sampah Nasional ditetapkan guna mengenang tragedi longsor sampah di Leuwigajah, Jawa Barat 21 Februari 2005 yang merenggut setidaknya 150 jiwa.
Tanggal 21 Februari 2005 dini hari, tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Leuwigajah longsor. Sekitar 137 rumah di Desa Batujajar Timur, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung dan dua rumah di Desa Leuwigajah, Cimahi, Provinsi Jawa Barat tertimbun longsoran sampah dengan ketinggian mencapai tiga meter.

Selain itu, ribuan ton kubik sampah juga mengubur kebun dan lahan pertanian milik warga Kampung Pojok, Cimahi Selatan Tragedi ini kemudian dicanangkan sebagai Hari Peduli Sampah Nasional. Tentu, maksud pencanangan ini agar semua pihak peduli dengan masalah pengelolaan sampah. Hal lain yang memprihatinkan dari masalah sampah di Indonesia adalah sampah dalam bentuk plastik.

Indonesia menempati urutan kedua, setelah Tiongkok, untuk soal sampah plastik. Produksi sampah plastik di Indonesia mencapai 5,4 juta ton per tahun (Antaranews, 2014). Plastik merupakan bahan yang sulit terurai sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan yang cukup serius. “Berdasarkan data statistik persampahan domestik Indonesia, jumlah sampah plastik tersebut merupakan 14 persen dari total produksi sampah di Indonesia,” kata Ketua Umum “Indonesia Solid Waste Association” (InSWA), Sri Bebassari, di Jakarta.

Sementara berdasarkan data dari Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jakarta, tumpukan sampah di wilayah DKI Jakarta mencapai lebih dari 6.000 ton per hari dan sekitar 13 persen dari jumlah tersebut berupa sampah plastik.

Manager Kampanye Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Edo Rahman mengatakan penanganan dan pengelolaan sampah oleh pemerintah belum sepenuhnya berjalan dengan maksimal.
“Kebijakan sampah belum menyentuh sasaran tepat. Harus ada strategi lain yang harus dikembangkan oleh pemerintah,” kata Edo Rahman dalam perbincangan bersama Radio Republik Indonesia, Sabtu 10 Januari 2015.

Sebelum pemerintah membuat regulasi tentang sampah plastik, ada dua sasaran yang patut menjadi perhatian masyarakat. Pertama, masyarakat. Pemerintah harus mensosialisasikan kepada masyarakat untuk mengurangi produk-produk yang berujung penggunaan sampah plastik.
Kedua, adalah perusahaan. Pemerintah harus meminta perusahaan yang menggunakan produk-produk plastik harus bertanggung jawab.

“Plastik tanpa kita sadari sudah menjadi bagian rutin dari keseharian kita, namun masyarakat masih tak sadar akan dampak dari penggunaan plastik yang berlebihan,” kata Nyoman Iswarayoga, Direktur Komunikasi dan Advokasi WWF-Indonesia. “Selain sulit terurai secara alami, plastik juga memiliki potensi dampak terhadap kesehatan manusia bila dibakar secara bebas, maupun terhadap satwa-satwa liar. Mari mulai dari diri kita sendiri, kurangi penggunaan plastik dari sekarang.”, tambahnya.

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengurangi penggunaan plastik. Walaupun hal kecil, namun upaya ini cukup efektif untuk mengurangi sampah plastik yang jumlahnya terus meningkat setiap tahunnya.

Menggunakan botol minuman yang dapat dipakai berkali-kali
Dengan menggunakan botol minuman yang bisa dipakai berkali-kali, kita bisa mengisi ulang air minum kita tanpa harus mengeluarkan uang setiap hari untuk membeli botol minuman kemasan. Selain lebih hemat, cara ini juga cukup efektif untuk mengurangi jumlah sampah plastik.

Membawa Tas atau Keranjang untuk Berbelanja
Dengan membawa tas belanja sendiri, penggunaan kantong plastik akan berkurang. Namun apabila terpaksa harus menggunakan kantong plastic, disarankan untuk memakai plastik yang biodagredable atau yang mudah terurai, seperti yang sudah dilakukan oleh beberapa retail.
Salah satu pasar swalayan terbesar di Indonesia pun telah menjual tas daur ulang yang terbuat dari bahan karung beras plastik yang kuat dan tahan lama. Bahkan, jika tas itu rusak, pelanggan dapat menukarnya dan mendapatkan yang baru secara gratis.

Kurangi membeli barang kemasan
Sisa kemasan merupakan sampah yang paling sering ditemui. Usahakan jangan membeli produk dalam kemasan sachet, tapi belilah produk yang dikemas dalam ukuran besar untuk mengurangi sampah. Jika memungkinkan, pilih produk yang dikemas dalam botol kaca.

Selain hal-hal tersebut, edukasi mengenai keharusan untuk membuang sampah pada tempatnya harus tetap dilakukan kepada masyarakat. Kegiatan edukasi ini pun harus mampu untuk membangkitkan kesadaran masyarakat untuk disiplin membuang sampah pada tempatnya dimanapun dia berada.

Tanggal 21 Februari diharapkan tidak hanya menjadi momentum peringatan semata, namun mampu menjadi penggerak bagi seluruh masyarakat untuk mulai peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Hal ini dikarenakan penanganan sampah bukan hanya tugas dari pemerintah, aktivis lingkungan atau petugas kebersihan saja, namun tugas dari seluruh masyarakat yang turut menghasilkan sampah dalam aktivitas kesehariannya.

(Setper-3/3)



26 February, 2015

Biro Utama Bertambah Dua di Tahun 2015

Perum LKBN ANTARA menambah jumlah biro utama pada tahun 2015. Melalui surat keputusan Direksi no Skep-014/DIR-AP/II/2015 tentang penambahan penetapan biro provinsi sesuai dengan klasifikasi di lingkungan Perum LKBN ANTARA ditetapkan dua biro provinsi lagi menjadi Biro Utama. Kedua biro provinsi utama itu adalah Biro Penyangga Jakarta berkedudukan di Bogor dan Biro Kalimantan Selatan berkedudukan di Banjarmasin.

Kedua biro provinsi tersebut masuk ke dalam kategori Biro Utama setelah Direksi melalui rapat tanggal 7 Februari 2015, memastikan potensi-potensi setempat yang dapat dikembangkan sepenuhnya untuk kemajuan Biro ANTARA di daerah. Dengan masuknya kedua Biro tersebut, kini Biro Utama Perum LKBN ANTARA berjumlah 10 Biro. Sebanyak 24 lainnya berstatus Biro Madya maupun biro yang kepengurusannya digabung dengan biro lain seperti Biro Sulawesi Barat dan Biro Maluku Utara.

Sepuluh Biro Utama Perum LKBN ANTARA saat ini adalah Biro Sumatera Utara, Biro Sumatera Barat, Biro Lampung, Biro Penyangga Jakarta, Biro Jawa Barat, Biro Jawa Tengah, Biro Jawa Timur, Biro Bali, Biro Kalimantan Selatan dan Biro Sulawesi Selatan. Sisa 24 lainnya adalah biro dengan klasifikasi Madya.

Penetapan klasifikasi biro utama ANTARA merujuk pada Skep 109/DIR-AP/V/2009 tentang penunjukan Pilot Project di Lingkungan Biro Provinsi Perum LKBN ANTARA yang berlaku mulai tanggal 29 Mei 2009 dan Skep 089/DIR-AP/V/2009 tentang Penetapan Biro Provinsi sesuai dengan Klasifikasi di Lingkungan Perum LKBN ANTARA yang berlaku sejak tanggal 11 Mei 2009.

Melengkapi informasi penambahan jumlah Biro Utama, pada awal Februari 2015, Perum LKBN ANTARA juga melaksanakan serah terima jabatan sejumlah kepala biro. Terdapat lima kepala biro mengalami rotasi dan mutasi. Kelimanya adalah Biro Jambi, Biro Lampung, Biro Penyangga Jakarta, Biro Kalimantan Barat dan Biro Kalimantan Tengah.

Eddy Supriyadi menyelesaikan tugas sebagai Kepala Biro Jambi untuk mengemban tugas baru di Biro Lampung menggantikan M. Tohamaksun. Posisi Eddy diisi oleh Azhari, Redaktur ANTARA di Biro Aceh. Sementara M. Tohamaksun menggantikan Andy Jauhari, Plt Kabiro Penyangga Jakarta. Redaktur Kalimantan Barat, Teguh Imam Wibowo menggantikan Kepala Biro Kalimantan Barat, Zainal Abidin. Sedangkan, Zaenal Abidin menggantikan posisi Kepala Biro Kalimantan Tengah, Saidulkarnain Ishak. Baik Andy Jauhari maupun Saidulkarnain Ishak memperoleh penugasan baru sebagai Redaktur Senior Perum LKBN ANTARA.

(Setper-26/2)



23 February, 2015

ANTARA Sapa Masyarakat Di Kepri Mall, Batam

Selalu lekat di hati masyarakat adalah tujuan utama Perum LKBN ANTARA ketika menggelar pameran. Menyapa dan memberi pengetahuan baru tentang ANTARA sebagai kantor berita satu-satunya dengan produk dan layanan yang mencerahkan diharapkan dapat memuaskan dahaga masyarakat akan informasi yang bernas, bermanfaat dan bebas dari kepentingan kelompok di tengah-tengah derasnya informasi yang cenderung muncul tanpa saringan.

Kedekatan dengan hati masyarakat pada sisi lain akan menanamkan rasa saling percaya masyarakat kepada ANTARA, yang bermuara pada pemanfaatan produk dan layanan kantor berita yang lahir 77 tahun lalu ini. Rasa percaya masyarakat yang kuat itulah yang akan menghantarkan penguatan citra dan reputasi ANTARA dalam setiap kiprahnya di semua lini kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kantor Berita Indonesia ANTARA, pada awal tahun 2015 ini menjadi bagian dari perhelatan pameran peringatan Hari Pers Nasional (HPN) ke-69 di Kepri Mall, Batam, Kepulauan Riau (Kepri). Pameran kali ini menjadi yang kelima bagi ANTARA yang dalam setiap keterlibatannya, ANTARA menampilkan perkembangan produk sebagai sebuah korporasi yang menjalankan bisnis di bidang layanan informasi.

Dalam pameran pers berkonsep digital, ANTARA melalui media smart TV, tablet dan laptop di Stand ANTARA, kembali mendekatkan konten produk dan kanal-kanal distribusi Antaranews, Antarafoto dan Antara TV kepada pengunjung pameran. Selain itu Antara juga memberitahu pengunjung bagaimana mengakses salah satu produk informasi ANTARA yakni Warta Perundangan-Undangan (WPU) melalui aplikasi Scoop yang dapat diunduh secara gratis di Playstore. WPU yang sebelumnya media cetak, dalam beberapa tahun terakhir tampil dalam format digital sejalan dengan pesatnya perkembangan teknologi media dan besarnya angka pengguna gadget di seluruh belahan dunia.

Selain itu, melalui perangkat bersistem operasi Android, ANTARA kembali memperkenalkan aplikasi Antaranews yang dapat diunduh melalui Playstore. Pengunjung Stand pun dapat langsung meng-klik berita-berita di Antaranews.com dan Antarafoto.com melalui tablet atau laptop yang disediakan. Juga dapat berkomunikasi tentang berbagai macam hal menyangkut program kegiatan ANTARA sebagai salah satu pihak yang melaksanakan Government Public Relations Negara.

Lewat berinteraksi langsung dengan masyarakat pada acara-acara seperti pameran, Tim Humas ANTARA dapat mengetahui tingkat pengenalan masyarakat awam terhadap ANTARA, apakah sebagai Kantor Berita, sebagai bagian dari media massa maupun sebagai lembaga bisnis yang menjadi bagian dari entitas Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dalam berkomunikasi dengan masyarakat, pertanyaan yang kerap mencuat adalah soal objektivitas pemberitaan ANTARA terkait isu-isu pemerintah, perbedaan Antara dengan media massa lainnya dan tampilan Antaranews.com di telepon pintar dan tablet yang lebih banyak menampikan teks ketimbang foto atau gambar seperti halnya tampilan di Personal Computer (PC) dan laptop.

Menjawab pertanyaan tersebut Tim Humas menyatakan Antaranews sudah membuat tampilan portal versi mobile (m) untuk tampilan di telepon pintar dan tablet demi kemudahan perangkat-perangkat tersebut mengakses Antaranews.com dimana saja. Selain itu versi mobile akan lebih menghemat kuota internet pembaca Antaranews. Kendati demikian, penikmat berita Antaranews di telepon pintar dan tablet dapat tetap memiliki pilihan untuk menikmati portal berita Antaranews dengan tampilan lengkap selayaknya di PC dengan mengubah tampilan menjadi “Full Screen” yang berada di bagian bawah portal berita ini.

Produk-produk lain ANTARA yang turut dipamerkan adalah buku foto karya Pewarta Foto ANTARA “Kilas Balik 2013-2014″ dan buku kumpulan tulisan Pewarta Tulis Antara “Kisah-Kisah Inspiratif Anak Bangsa” yang dipamerkan sebagai bagian Stand dengan sasaran menarik perhatian pengunjung yang umumnya mengagumi hasil jepretan Pewarta Foto Antara dalam buku-buku tersebut.

Dalam pameran selama lima hari tersebut, ANTARA juga memperkenalkan Pusat Data Bisnis ANTARA (PDBA) yang menjadi bagian dari COMETS - Content and Media Technology Solutions. Layanan ini bertujuan membantu entitas pelaku bisnis Indonesia membuat keputusan strategis melalui penyediaan data, analisa dan rekomendasi yang handal, relevan dan terpercaya sehingga dapat mengetahui trend media, dunia digital dan multimedia terkini dan ke depan. COMETS hadir sebagai salah satu misi Antara sebagai penyedia jasa informasi dan komunikasi di tengah perkembangan zaman dan era komunikasi digital.

Di Stand ANTARA, bagi-bagi souvenir juga tak ketinggalan dilakukan. Setiap pengunjung mendapatkan souvenir berupa pin atau gantungan kunci ANTARA. Souvenir yang didapatkan pengunjung akan semakin banyak dan beragam bila mereka berkenan mengisi kuesioner tentang ANTARA atau menjadi pengikut media sosial korporat ANTARA dan Antaranews. Tercatat lebih dari 400 orang pengunjung Stand ANTARA selama pameran HPN Kepri berlangsung. Jumlah pengunjung tertinggi terjadi pada akhir pekan atau hari Sabtu dan Minggu.

Business Gathering ANTARA
Sebagai salah satu cara mendekatkan diri dengan para pemangku kepentingan ANTARA, khususnya yang berada di lingkaran Kantor Perwakilan ANTARA di Kepri, dalam HPN kali ini, ANTARA juga mengundang rekan-rekan BUMN, instansi pemerintah, dan perusahaan swasta dalam sebuah pertemuan berkonsep serius tapi santai di Ruang Singapore, Hotel Harmoni One, Batam. Pertemuan bertajuk Business Gathering ANTARA kali ini menghadirkan sekitar 20 perusahaan mitra di Kepri guna mempererat silaturahmi. Dalam ajang silaturahmi itu para mitra ANTARA menyaksikan paparan dan presentasi pengembangan produk baru ANTARA. Hadir memberikan sambutan dan paparan dalam pertemuan itu, Direktur Komersial dan Pengembangan Bisnis Perum LKBN ANTARA Hempi N. Prajudi, Managing Director PT. Indonesia Market Quote (IMQ) yang merupakan anak perusahaan ANTARA, Dhita Febrianti, Sekretaris Perusahaan Iswahyuni, Kepala Biro ANTARA Kepri, Evy Ratnawati, Kepala Stasiun RRI di Kepri, Mistam dan puluhan perwakilan BUMN, kalangan swasta, kalangan akademik dan pemerintahan lainnya.
Dalam kesempatan tersebut juga berlangsung penandatanganan kerjasama Perum LKBN ANTARA dengan Universitas Maritim Raja Ali Haji, RRI Kepulauan Riau dan Badan Pengusahaan Batam (dulu-Otorita Batam).

Sesi diskusi dan tanyajawabpun berlangsung hangat dimoderatori oleh Iswahyuni selaku Sekretaris Perusahaan Perum LKBN Antara. Para mitra Antara yang hadir seperti Jasa Raharja, PT. Pelni, Kimia Farma menyambut baik kehadiran produk IMQ, yaitu media dalam ruang dengan nama “i-Media”.

Workshop Antara.
Sementara itu, brand Biro Pemberitaan Foto ANTARA dan ANTARA School of Journalism (ASJ) didekatkan kepada masyarakat Kepri melalui workshop Video Blogging (Vloging) dengan pemateri Teguh Priyanto Manajer ASJ dan workshop Media Sosial untuk Bisnis dengan pemateri Anton Santoso webmaster antarafoto.com yang digelar di panggung utama Kepri Mall.

Workshop vloger dipilih ANTARA karena melihat perkembangan dunia media sosial saat ini dan trend pemanfaatan konten video ke depan yang masih akan sangat berkembang. Prediksi akan rating penggunaan youtube dan instagram yang terus meningkat membuat vloging menjadi salah satu pilihan menarik bagi insan digital.

Vloging merupakan perkembangan dari bloging. Konten-konten berupa tulisan berubah menjadi video, dengan beberapa keunggulan seperti lebih mudah diingat dan lebih menghibur. Vloging tidak hanya dilakukan semata-mata untuk eksis dalam media sosial. Saat ini vloging juga digunakan berbagai korporasi dalam mempublikasikan dan mempromosikan produk-produk, serta kegiatan dari korporasi itu sendiri. Bagi individu, sudah banyak vlogger-vlogger Indonesia yang menjadi popular dan mendapat penghasilan dari vlog-nya.

Serupa dengan Workshop Vlogging, workshop kedua Antara yang mengangkat tema “Media Sosial Untuk Bisnis” bertujuan untuk memberikan inspirasi bagi masyarakat, terutama yang memiliki usaha sendiri agar dapat memanfaatkan gadget dan media sosial untuk sesuatu yang tidak hanya positif, namun juga menambah penghasilan atau membesarkan bisnis pribadi. Berbagai media sosial seperti facebook, twitter, foursquare, instagram dan blog diulas dari sisi pemanfaatan bisnis.

Banyaknya pertanyaan dari peserta workshop merupakan tanda antusiasme yang cukup besar terhadap workshop yang diadakan pada sabtu (7/2) dan minggu (8/2) itu.

Penghargaan untuk ANTARA
Pada hari terakhir pelaksanaan pameran, panitia pameran HPN 2015 memberikan penghargaan Stand Terbaik ketiga kepada ANTARA. Menurut Adhy Trisnanto selaku Ketua Bidang Pameran Peradaban Pers PWI Pusat, pemberian penghargaan didasarkan pada penilaian konsep stand, situasi dan aktivitas di stand, serta acara yang diselenggarakan oleh masing-masing stand.
Setelah melalui proses penilaian, maka panitia Pameran HPN 2015 menentukan Perum LKBN ANTARA mendapat penghargaan sebagai stand terbaik ketiga bersama PT. Garuda Indonesia. Sementara stand terbaik pertama diraih oleh Metro TV dan stand terbaik kedua diraih oleh Kementerian Pariwisata RI.

Penghargaan sebagai stand terbaik ketiga tentunya memacu ANTARA untuk dapat menampilkan kreativitas yang lebih baik lagi di pameran-pameran berikutnya. Setiap penghargaan yang diraih ANTARA tentunya juga tidak lepas dari dukungan sobat ANTARA di Indonesia.

HPN ke-69 Kepri.
Kepulauan Riau (Kepri) tahun 2015 menjadi provinsi yang terpilih sebagai tempat perhelatan peringatan HPN ke-69. Berbagai acara diadakan mulai 5-9 Februari, seperti Pameran HPN yang diadakan di Kepri Mall.

Mengambil tema “Meniti Peradaban Pers”, pameran yang dibuka secara resmi oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kepri, Robert Iwan Loriaux pada Kamis (5/2) bertujuan memberitahu khalayak bagaimana perkembangan pers di Indonesia dari masa ke masa. Sejak media cetak banyak diterbitkan sampai media online saat ini marak dalam persaingan industri pers.
Tidak hanya diramaikan oleh media nasional dan lokal, Pameran HPN kali ini juga diisi oleh perwakilan negara tetangga, Malaysia. Dihari keempat, Sabtu (8/2) hadir Menteri Pariwisata Arief Yahya yang meluncurkan Buku dan Digital Media Newsium Indonesia.

Dalam sambutannya, Arief Yahya mengakui perjalanan sejarah bangsa Indonesia tidak lepas dari perjalanan panjang sejarah jurnalistik di Indonesia dari era kolonialisme, kebangkitan nasional, Indonesia Merdeka, orde baru hingga berlanjut di era reformasi. Sebelum meninggalkan area pameran, Arief Yahya menyempatkan diri untuk meninjau stand-stand media, termasuk berfoto di stand ANTARA. Panitia pameran juga merangkai berbagai kegiatan pameran HPN dengan kegiatan sosial berupa pengobatan gratis bagi warga masyarakat.

Sedangkan agenda Hari Pers Nasional 2015 Provinsi Kepulauan Riau dengan tema besar “Pers Sehat Rakyat Hebat” adalah Jalan Sehat, Jalan Sehat Napak Tilas Raja Ali Kelana pada 1 Februari di Kota Batam dan Tanjungpinang dengan target 25.000 peserta. Untuk Pelatihan Jurnalisme Maritim pada 3 Februari bertempat di Kampus Universitas Maritim Raja Ali Haji.
Selanjutnya, Pameran Pembangunan Kamis, 5-9 Februari 2015 di Tanjung Pinang, Konvensi Bahasa dan Budaya (Menjadikan Penyengat Sebagai Warisan Dunia) pada Jumat 6 Februari di Pulau Penyengat Tanjungpinang dengan peserta Masyarakat Pers, UNESCO, Pakar Bahasa, Masyarakat Melayu seluruh Dunia.

Selain itu, ada juga Seminar Konstitusi MPR (6/2), Konvensi Media Massa di Harmoni One Batam pada 7 Februari 2015, Bedah Buku HPN di Batam, Pertemuan Forum Pemred dan CAJ (8/2), di Batam, dengan peserta Anggota Forum Pempred, Pempred Malaysia, Menpen Malaysia, CAJ.
Kemudian, acara Komponen Pers (6/2) di Batam, SPS (7/2) di Harris Hotel Batam, Pesta Rakyat (7/2) di Engku Putri Batam Centre, Media Visit Peserta HPN (8/2) di Singapura, Puncak HPN (9/2) di hotel Harmoni One, Batam.

Pameran HPN secara resmi ditutup oleh Ketua bidang Pameran Peradaban Pers dari PWI Pusat, Adhy Trisnanto pada Senin (9/2) yang ditandai dengan pemberian penghargaan kepada peserta terbaik.

(Setper-23/2)



23 February, 2015

50 Tahun Ibu Susi, hidup ibarat “Rollercoaster”

Kamis malam 15 Januari 2015 menjadi hari yang paling membahagiakan buat Susi Pudjiastuti, wanita kelahiran Pangandaran, Jawa Barat, 50 tahun lalu. Susi, puteri pasangan Haji Karlan (alm) dan Suwuh Lasmina (alm) ini dikelilingi sahabat-sahabatnya melaksanakan syukuran untuk apa yang sudah dilaluinya selama setengah abad ini.

Susi mengenakan kebaya warna maroon dipadankan dengan selendang warna senada. Tubuh tegap Susi lincah menyapa tamu-tamu yang datang dan berfoto bersama mereka. Terlihat hadir, Menko Polhukam Laksamana TNI (Purn.) Tedjo Edhy Purdijatno, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Sofyan Djalil, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani, Menteri Perdagangan Rachmat Gobel, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono, Menteri Pariwisata, Arief Yahya, Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Andrinof Chaniago, sejumlah mantan menteri seperti Kwik Kian Gie, Tanri Abeng, mantan Dirut BRI yang kini menjabat sebagai Dirut PLN, Sofyan Basyir, Sukmawati Sukarnoputri, Guruh Sukarnoputra, Dewi Motik Pramono, Forum Pemred, sejumlah duta besar negara tetangga, ekspatriat dan puluhan undangan lain.

Acara dibuka dengan pengantar dari CEO baru Susi Air, Mayjen (Purn) Sudrajad yang menceritakan “jatuh bangun” Susi Pudjiastuti selaku pemilik PT ASI Pujiastuti Aviation, perusahaan pengelola Susi Air. Sudrajad sebelumnya adalah Duta Besar RI untuk Tiongkok dan pernah menjadi Presiden Komisaris Susi Air sejak berdiri tahun 2004. Kantor Susi Air sendiri berawal dari pavilion di rumah Sudrajad di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Menurut Sudrajad, Susi, pedagang ikan dan lobster dari Pangandaran, Jawa Barat, awalnya iba hati kepada korban tsunami di provinsi Aceh 26 Desember 2004. Waktu itu Susi baru memiliki dua pesawat Cessna GrandCaravan yang biasanya mengangkut ikan hidup untuk dijual di luar Pangandaran. Tidak ada pesawat besar yang dapat masuk untuk memberi bantuan kepada korban tsunami. Dengan nekad, Susi meminta pilotnya masuk ke Bandara Meulaboh yang hanya menyisakan 500 meter landasan pacu utuh untuk pesawatnya mendarat. Pesawat Susi berhasil mendarat dengan mulus dan menjadi pesawat pertama yang turun memberikan bantuan obat-obatan, pangan maupun keperluan lainnya untuk para korban tsunami.

Namun Susi dan Sudrajad hanya punya dana untuk dua pekan operasional pesawat guna membantu korban tsunami. Ketika Susi menyatakan perpisahan kepada para penolong lainnya, datanglah mukzizat Tuhan, Palang Merah Internasional (ICRC) menyewa pesawat Susi untuk melakukan pertolongan bagi para korban tsunami.

Dari situlah, kiprah Susi Air melebar. Para penyewa terus berdatangan sehingga Susi kemudian menjadikan Medan sebagai based armada Susi Air. Jumlah pesawat Susi terus bertambah dan jalur yang dipilih adalah jalur perintis yang beroperasi di bagian-bagian terdepan maupun terluar dari wilayah negara kepulauan RI. Susi Air tidak hanya memiliki 41 pesawat berbagai jenis, tetapi juga menjalani sekitar 250 (75 persen) rute penerbangan pesawat perintis di tanah air mulai dari Sumatera hingga Papua. Susi selanjutnya bahkan membuka sekolah pilot.

Acara Ulang Tahun dilanjutkan dengan kesan dan pesan dari sahabat dan keluarga yang disampaikan oleh Guruh Soekarnoputra (62), putera Susi, Alvy Xavier dan cucu Susi. Dalam sambutan lang tahunnya Susi mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang banyak memberikan inspirasi dan membuka jalan sukses baginya. Bank BRI dan Mandiri, yang memberikan kredit miliaran rupiah untuk membeli pesawat dan mengembangkan usaha disebut beberapa kali oleh Susi. Demikian pula dengan nama Sofyan Djalil, Kwik Kian Gie, Tanry Abeng, dan lain-lain. Di akhir sambutannya, Susi yang fasih berbahasa Inggris ini, dengan bergurau mengatakan, “Member of the Kabinet Kerja, Stop Bullying Susi”, disambut dengan tawa undangan yang hadir dalam acara tersebut. Penyanyi Tompi dan Budayawan Butet Kartaredjasa tampil memeriahkan acara dengan lagu-lagu berirama jaz dan pembacaan puisi Romo Shindunata oleh Butet berjudul Susiduyung.

Profil Susi Pudjiastuti & Susi Air

Susi Pudjiastuti, adalah anak pertama dari empat bersaudara, dan satu-satunya anak perempuan dari pasangan H Ahmad Karlan (alm) dan Hj Suwuh Lasmina (almh). Ayah dan ibunya berasal dari Jawa Tengah yang sudah lima generasi lahir dan hidup di Pangandaran. Kakek buyutnya, H. Ireng, adalah saudagar sapi dan kerbau, yang membawa ratusan ternak dari Jawa Tengah untuk diperdagangkan di Jawa Barat. Keluarga Susi termasuk tuan tanah. Mereka memanfaatkna lahan yang dimilikinya menjadi kolam ikan dan kebun kelapa. Ayah Susi juga mengusahakan beberapa buah perahu untuk para nelayan mencari ikan dengan system bagi hasil.

Di tengah keluarga berkecukupan itulah Susi tumbuh dan berkembang. Namun, sepertinya ia tidak mau bersandar dengan kekayaan keluarganya. Susi tumbuh menjadi anak yang mandiri. Ia tak mau menunjukan kepada orang, jika hidup dari kalangan orang berada. Sejak kecil, Susi tak gengsi untuk menjual ikan. Ia juga termasuk pintar karena sejak SMP sudah bisa menguasai Bahasa Inggris. Susi menamatkan pendidikan di SD Negeri 8 Pangadaran (19972-1977) dan SMP Negeri 1 Pangandaran (1978-1980). Ia kemudian melanjutkan ke SMA Negeri Yogyakarta, namun tak sampai selesai. Kelas dua SMA, dia berhenti dari sekolah pada tahun 1982.

Latar belakang Susi memutuskan berhenti sekolah, ketika ia jatuh dari tangga dan kepalanya terbentur tembok yang membuatnya terbaring beberapa hari. Sakit berkepanjangan membuat orangtuanya meminta Susi balik ke Pangandaran, Susi kemudian memutuskan untuk tidak lagi kembali ke Yogyakarta untuk sekolah. Alasannya sederhana. Ia merasa sekolah tak cocok baginya. “Apa karena terbentur itu ya. Pikiran saya jadi aneh begitu?” kata Susi.

Setelah putus sekolah, Susi memilih hidup mandiri dengan berdagang ikan. Awal ia mulai berjualan, ia menggunakan bakul dengan berkeliling kampung. Dalam perjalanan usahanya, Susi juga sempat berjualan Bed Cover dan Sarang wallet. Haji Karlan, almahrum ayahnya sempat ingin memberikan uang sebagai modal Susi untuk meningkatkan usaha jual beli ikan kelilingnya, namun Susi menolak. Ia memilih menjual perhiasan yang dimilikinya untuk meningkatkan usaha.

Dengan kesigapan dan ketekunannya, dalam tempo setahun Susi bisa menguasai pasar Pangandaran. Dan bahkan Cilacap, Jawa Tengah. Kesegaran produk menjadi kunci sukses bisnis Susi. Agar hasil laut tangkapan nelayan bisa dalam keadaan segar, Susi menyewa mobil truk. Berawal dari sewa, akhirnya ia membeli truk dengan sistem alat pendingin untuk mengangkut ikan dan udang ke konsumen.

Ia tak pernah lelah berinovasi. Susi yang ingin terus maju berpikir keras agar usahanya bertambah maju. Suatu ketika, saat mengantar ikan dan udang ke Jakarta, Susi melihat di Jakarta bahwa kodok berarti peluang bisnis yang bagus. Seakan tak menyiakan kesempatan, dalam perjalanannya dari Pangandaran ke Jakarta, Susi mampir ke sentra-sentra kodok dan membawanya ke pasar Jakarta. Dengan terobosan itu, bisnis Susi semakin berkembang.

Tahun 1993, Susi mendirikan pabrik pembekuan ikan dan udang dengan merek “Susi Brand”. Awal era reformasi, Susi benar-benar mendapat berkah. Usaha ekspor ikan dan udangnya makin berkibar. Ekspor ikannya dibayar dengan dolar. Tahun 2003 Susi membeli sebuah pesawat terbang Cessna jenis Caravan untuk membawa udang lobster dari Pangandaran ke Cengkareng. Dengan pesawat yang sama, Susi berburu udang lobster ke berbagai pantai. Keberadaan Bandara Nusawiru yang saat itu belum berfungsi sebagaimana adanya sangat mendukung usaha Susi mengembangkan usaha ekspor ikannya. Susi menjadi nelayan pertama di Indonesia yang mempunyai pesawat terbang. Untuk mendapat ikan dan lobster, Susi sampai terbang ke Simeuleu, Aceh dan Pulau Yakihimo di Papua.

(Setper-21/2)



20 February, 2015

Pentingnya Ruang Laktasi untuk Tingkatkan Produktivitas Ibu Bekerja

Saat ini banyak wanita yang menjalani karir profesional baik untuk menunjukkan eksistensinya maupun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tak hanya wanita lajang, saat ini banyak wanita yang telah menikah dan memiliki anak masih bekerja.

Tak sedikit perempuan mengaku mengalami dilema ketika dihadapkan kepada dua pilihan besar untuk tetap bekerja atau menjadi ibu rumah tangga. Hal ini dikarenakan kewajiban seorang wanita pekerja menjadi berlipat ganda. Terlebih jika sudah memiliki anak.

Tantangan baru ibu bekerja
Seorang ibu yang harus kembali bekerja pasca melahirkan dihadapkan pada sebuah tantangan baru. Setelah melahirkan, ibu wajib memenuhi hak bayinya dengan memberikan ASI secara eksklusif pada enam bulan pertama, tidak terkecuali untuk ibu yang bekerja sekalipun. Hal ini dikarenakan ASI merupakan makanan paling sempurna bagi bayi untuk enam bulan pertama kehidupannya.

ASI merupakan makanan yang paling mudah dicerna oleh bayi yang organ pencernaannya masih belum sempurna di usianya yang masih muda. Tak hanya itu ASI pun mengandung zat yang dapat meningkatkan kekebalan pada tubuh bayi yang tidak terdapat pada susu formula.

Angka ibu yang memberikan ASI eksklusif meningkat dari tahun 2007 hingga 2012. Menurut SDKI (Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia), dalam jangka waktu lima tahun, jumlah ibu menyusui ASI eksklusif naik sepuluh persen. Menurut Ketua Umum AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia), Mia Sutanto. Pada 2007, ada 32 persen bayi yang disusui secara eksklusif dan tahun 2012 naik menjadi 42 persen (Antaranews, 2013).

Peningkatan jumlah ibu yang memberikan ASI eksklusif ini disebabkan semakin tingginya kesadaran para ibu muda akan pentingnya pemberian ASI untuk anak mereka. Pesatnya perkembangan teknologi turut mendukung meningkatnya kesadaran ini. Informasi mengenai pentingnya ASI secara terus-menerus gencar diberikan melalui berbagai media sosial, salah satunya oleh AIMI. Mereka pun turut mendukung ibu bekerja yang ingin tetap memberikan ASI eksklusif untuk anaknya.

Pentingnya Keberadaan Nursery Room bagi Ibu Bekerja
Seorang ibu yang bekerja memiliki keterbatasan untuk bisa memberikan ASI eksklusif kepada anaknya secara langsung. Oleh karena itu, ibu bekerja harus meluangkan waktunya di kantor untuk memompa ASI. Namun ada beberapa faktor yang menghambat keberhasilan menyusui pada ibu bekerja, diantaranya pendeknya waktu cuti kerja, kurangnya dukungan tempat kerja, pendeknya waktu istirahat saat bekerja (tidak cukup waktu untuk memompa ASI), dan tidak adanya ruangan untuk memompa ASI.

Keberadaan ruang laktasi atau nursery room di tempat kerja memegang peranan penting bagi ibu bekerja yang tengah menyusui bayinya. Pemerintah pun telah membuat aturan bagi perusahaan dan sarana umum yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah no. 33 tahun 2012 untuk menyediakan fasilitas khusus untuk menyusui atau memompa ASI. Sebab, tidak tersedianya ruang laktasi bisa membuat ibu mau tak mau memompa ASI di tempat yang tak seharusnya seperti toilet atau gudang. Meski ukuran ruangan yang disediakan dibebaskan tergantung dari kemampuan perusahaan, paling tidak ruang laktasi harus memiliki beberapa fasilitas standar seperti sofa dan lemari pendingin untuk menyimpan ASI.

Sayangnya, meski sudah dianjurkan oleh Pemerintah, fasilitas bagi ibu dan anak ini masih minim. Dengan dukungan yang minim seperti ini, tidak heran bila akhirnya ibu kembali masuk kerja setelah cuti hamil 3 bulan, ASI eksklusif terhenti (45% pada bulan ke-4) dan ASI disambung dengan susu formula atau MPASI (Makanan Pendamping ASI) dini (Mommies Daily, 2013).
Padahal penyediaan ruang laktasi yang baik akan berpengaruh pada peningkatan kualitas kerja para ibu. Dengan adanya ruang laktasi, ibu akan merasa nyaman dalam memompa ASI. Pikiran ibu akan menjadi lebih tenang karena ASI untuk anaknya telah tersedia sehingga ibu lebih berkonsentrasi dalam bekerja.

Tak hanya itu, ibu yang memberikan ASI eksklusif pada anaknya akan membuat anak tersebut jarang sakit. Hal ini dikarenakan kandungan pada ASI yang dapat meningkatkan imunitas pada anak. Hal tersebut akan berpengaruh terhadap tingkat kehadiran ibu yang lebih tinggi di kantor.

Para pekerja wanita pun akan lebih sehat karena menyusui bisa menurunkan resiko penyakit jantung, kanker, diabetes, radang sendi, hipertensi, dan mencegah depresi. Ketua Umum Sentra Laktasi Indonesia, Dr. Utami Roesli, SpA menjelaskan bahwa menyusui mampu meningkatkan kualitas ibu. Menyusui membuat pikiran ibu menjadi tenang. Rasa tenang ini disebabkan oleh produksi hormon oksitosin yang terstimulasi akibat menyusui.

“Dengan menyusui dapat mengurangi risiko kanker payudara, ovarium, stres, bahkan diabetes pada ibu,” ujarnya.

Ruang Laktasi dan Produktivitas Kerja
Saat ini sudah banyak perkantoran yang telah memiliki ruang laktasi, diantaranya kantor Bank Central Asia, Bank CIMB Niaga, dan PT Indonesia Power.

Keterkaitan ruang laktasi dan produktivitas karyawati telah disadari oleh manajemen PT Bank Central Asia Tbk (BCA). General Manager dan Kepala Divisi Human Capital BCA, Lianawaty Suwono mengatakan dengan menyediakan ruang menyusui tentu akan membantu ibu tersebut secara emosional dan juga fisik sebab dapat mengurangi kecemasan terhadap anak dan membuat mereka lebih produktif.

Tak hanya itu, karyawan dan karyawati BCA juga diberi edukasi pemberian ASI eksklusif. Menurut Liana, penyediaan ruang menyusui dan pemberian edukasi pada karyawan mengenai pentingnya ASI eksklusif akan memberikan dampak yang baik pula bagi perusahaan.

Ruang laktasi yang nyaman juga dapat ditemukan di kantor Bank CIMB Niaga. L. Wulan Tumbelaka, Direktur Compliance, Corporate Affairs & Legal CIMB Niaga mengatakan ruang laktasi ini diharapkan dapat mengakomodir kebutuhan para ibu menyusui untuk mendapatkan tempat yang nyaman, aman dan steril dalam memberikan ASI eksklusif kepada buah hatinya. Dengan begitu diharapkan dapat tercipta keseimbangan hidup, meski sedang menunaikan tugasnya di kantor.

Wulan menambahkan, ketersediaan ruang laktasi ini diharapkan dapat meminimalisir risiko terkontaminasinya ASI yang dapat membahayakan buah hati, jika pemompaan ASI dilakukan di tempat terbuka yang tidak steril. Adapun fasilitas yang tersedia di ruang laktasi berupa sofa, air conditioner (AC), rak botol, dispenser, dan kulkas tempat menyimpan botol-botol susu. Sedangkan waktu operasionalnya, dimulai dari pukul 09.00 hingga 17.00 WIB.

“Penyediaan ruang laktasi ini untuk memfasilitasi kebutuhan karyawati CIMB Niaga yang masih dalam fase menyusui setelah kembali bekerja, serta ditujukan juga bagi nasabah yang sedang melakukan transaksi perbankan di area perkantoran CIMB Niaga. Hadirnya ruang laktasi ini juga menjadi bagian dari wujud tanggung jawab Social Responsibility CIMB Niaga,” kata Wulan.

Kepala Bidang Komunikasi Korporat PT Indonesia Power, Fanina Andini menyebutkan bahwa perusahaannya sudah merintis Ruang Laktasi sejak tahun 2011. Hingga saat ini mendapat sambutan yang cukup antusias dari para pegawai. Dukungan PT Indonesia Power terhadap Kantor Ramah Asi ini tak lepas dari komitmennya untuk mensupport Negara dalam pencapaian MDG’s , yaitu untuk program Safe Motherhood.

Keberadaan Ruang Laktasi disebuah perusahaan sangat membantu pegawai yang berkomitmen untuk tetap memberikan ASI kepada sang buah hati. Para pegawai itu tetap produktif karena mereka cukup dua hingga tiga kali meninggalkan ruangan untuk memompa ASI, dan bisa melanjutkan pekerjaannya.

Namun keuntungan nonfinansialnya jauh lebih besar. Pegawai merasa mendapat perhatian yang memadai dari perusahaan dan dukungan tersebut akan meningkatkan motivasi Pegawai. Selain itu, kondisi ruang laktasi yang nyaman, sangat mempengaruhi psikologis ibu, sehingga mempengaruhi jumlah ASI yang diperoleh.

Sejumlah perusahaan BUMN pun telah memiliki ruang laktasi, seperti Perum Bulog, Bank Mandiri, PT Dahana, dan Pertamina.

Mengacu pada Peraturan Pemerintah No. 33 tahun 2012 yang mengharuskan perusahaan dan kantor menyediakan ruang laktasi yang sesuai dengan persyaratan, maka gedung Plaza Mandiri menyediakan ruang khusus ibu menyusui di lantai 11.

Ruang laktasi Bank Mandiri terdiri dari 19 bilik berisi sofa dan meja kecil yang ditutup korden. Suasananya cukup nyaman dan santai. Ruang laktasi ini juga dilengkapi pantry yang berisi kulkas, laci penyimpanan, sterilizer & bottle washer serta dispenser.

Tak terbatas hanya untuk para pegawai Bank Mandiri, ruang laktasi ini juga terbuka bagi para nasabah yang perlu menyusui saat sedang menunggu. Selain itu, di hari-hari tertentu, Plaza Mandiri menyediakan penitipan anak untuk para karyawan.

Dengan terfasilitasinya para ibu untuk memberikan ASI pada anaknya akan memberikan dampak positif baik terhadap ibu, anak, bahkan perusahaan. Dukungan dari lingkungan formal tersebut sebaiknya juga turut didukung oleh lingkungan informal seperti dukungan dari rekan kerja dan atasan dari ibu menyusui. Dengan begitu diharapkan akan tercipta suasana yang kondusif sehingga produktivitas kerja para ibu pun dapat meningkat.

(Setper-20/2)



19 January, 2015

Lowongan Kerja Kantor Berita ANTARA 2015

Perum Lembaga Kantor Berita Nasional ANTARA, membutuhkan beberapa kandidat untuk mengisi posisi:

REPORTER TV (KODE: REP TV)
•Laki-laki/Perempuan
•S-1 semua jurusan dengan IP Kminimal 2,75.
•Usia maksimal 25 Tahun
•Berpenampilan menarik (camera face)
•Minimum tinggi 160 cm (wanita) dan 170 cm (pria)
•Bersedia bekerja dalam shift
•Mampu bekerja dibawah tekanan deadline
•Mampu berkomunikasi dengan baik menggunakan bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris (TOEFL 500)

VIDEO JOURNALIST (KODE: VJ TV)
•Laki-laki/Perempuan
•S-1 semua jurusan dengan IPK minimal 2,75.
•Usia maksimal 25 Tahun
•Berpenampilan menarik (camera face)
•Minimum tinggi 160 cm (wanita) dan 170 cm (pria)
•Bersedia bekerja dalam shift
•Mampu bekerja dibawah tekanan deadline
•Diutamakan memiliki minat terhadap kamera
•Mampu berkomunikasi dengan baik menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris (TOEFL 500)

IT TECHNICAL SUPPORT (KODE: IT ARTECHS)
•Pria
•Usia 22–27 tahun
•S1 Teknik Informatika
•Menguasai :
-Sistem Operasi Linux dan Solaris
-Sistem Operasi Microsoft Windows Server
-Microsoft SQL Server dan Microsoft Excel
-Sistem Jaringan berbasis TCP/IP, Router
-CCNA lebih diutamakan
•Dapat berkomunikasi dengan baik (bahasa Inggris secara aktif)
•Mampu melakukan analisis dan pemecahan masalah
•Dapat bekerja sama dengan tim, maupun bekerja secara mandiri
•Bertanggung jawab dan mampu bekerja dibawah tekanan

GA / STAF PERJALANAN (KODE: PJL )
•Laki-laki
•D3 / S1 semua jurusan dengan IPK minimal 2,75.
•Usia maksimal 27 Tahun
•Bahasa Inggris Aktif
•Sehat, tidak buta warna
•Lebih disukai jika memiliki pengetahuan terkait perizinan kerja luar negeri, permohonan visa di kedutaan, dan permohonan pengurusan paspor
•Dapat bekerja sama dengan tim, maupun bekerja secara mandiri
•Mampu bekerja dibawah tekanan
•Diutamakan memiliki SIM C / SIM A

Kirim Surat Lamaran dengan melampirkan CV, Foto Copy Ijazah, Foto Copy Transkrip Nilai, Foto Copy KTP, Pas Foto terbaru (untuk REP TV dan Video Journalist diharapkan mengirimkan foto diri
ukuran 3R), no.telepon/HP yang dapat dihubungi, ke :

Departemen PSDM
Perum LKBN Antara

Wisma Antara Lantai 19,
Jl.Medan Merdeka Selatan No. 17
Jakarta 10110
atau
E-mail ke:
recruitment-sdm@antara.net.id

Paling lambat tanggal 30 Januari 2015
Cantumkan kode posisi pada amplop di sebelah kiri atas.

(Setper-19/1)



15 September, 2014

Semoga Waras Listrik di Kegilaan BBM

Dahlan Iskan

 

“Kabar gembira Pak Dahlan, STNK mobil listrik kami sudah keluar. Inilah STNK mobil listrik pertama di Indonesia,” tulis SMS Martin Soekotjo kepada saya.

Malam itu juga saya SMS ke Bapak Presiden SBY. “Bapak Presiden Yth, lapor kabar gembira: STNK mobil listrik sudah keluar untuk pertama kalinya. Mobilnya produksi pabrik yang di Surabaya itu. Terima kasih Bapak Presiden. Akhirnya jadi kenyataan di era kepresidanan Bapak. Alhamdulillah.”

Waktu itu, Jumat sore lalu, saya lagi di Bitung. Meninjau galangan kapal IKI cabang Bitung yang pada pukul 17.00 senja itu masih ramai dengan orang bekerja.

Banyak kapal antre untuk diperbaiki. Bisnis berjalan lancar.

Padahal PT IKI (Industri Kapal Indonesia yang berpusat di Makassar) tiga tahun lalu masih mati.
Saya juga meninjau Pelabuhan Bitung di bawah PT Pelindo IV. Tahun ini Pelabuhan Bitung mulai mengoperasikan dermaga baru yang dalamnya 15 meter. Memenuhi standar kedalaman tol laut.

Tidak lama lagi PT Pelayaran Meratus dan Tempuran Emas mulai melayari jalur Belawan-Bitung.
“Pertama dalam sejarah Pelabuhan Bitung dijadikan tujuan rute dari Medan,” ujar GM Pelindo Bitung Heru Bhakti Fireno.

Saya juga meninjau pabrik pengolahan ikan PT Perikanan Nusantara Cabang Bitung yang amat membanggakan: sebuah pabrik yang amat ramai dan sibuk.

Padahal empat tahun lalu masih berupa “kuburan”.

“Saya sempat tidak digaji tiga tahun. Komplek pabrik ini jadi semak belukar,” ujar Direktur Perinus Max Najoan yang dulunya nelayan beneran. Kini Max Direktur Produksi PT Perinus.

“Seumur hidup tidak pernah membayangkan Bapak mengangkat saya jadi direktur,” ujar tamatan SPMA Perikanan Manado itu.

Dari Bitung saya melakukan komunikasi ke Surabaya, berbicara dengan petugas yang mengurus STNK mobil listrik itu.

“Yang dapat STNK memang baru satu Pak. Tapi berikutnya sudah akan lancar,” ujar Sukotjo, staf Grain saat saya telepon dari Bitung.

“Kalau begitu saya akan mampir ke Surabaya. Melihat mobilnya dan STNK-nya,” kata saya. “Saya bisa menyisihkan waktu empat jam di Surabaya,” tambah saya.

Empat jam itu, sekalian akan saya pergunakan untuk jadwal menjalani stemcell di Stemcell Center RSUD dr Sutomo, memasang crown gigi belakang di dokter gigi langganan saya, dan mencoba mobil listrik yang sudah ber-STNK itu.

Agar hemat waktu saya minta mobil tersebut dibawa ke rumah dokter gigi di Jalan Sedap Malam Surabaya. Juga mobil listrik jenis sedan kecil yang sedang diurus STNK berikutnya.

Lalu dengan mengemudikan mobil ini saya menuju bandara Juanda untuk kembali ke Jakarta.
Ketika mencoba mengemudikan mobil listrik ber-STNK, itu saya merasakan getaran halus mobilnya, dan getaran bangga di hati saya.

Sebenarnya saya sudah mencoba minivan itu dua tahun lalu. Tepatnya November 2012. Kini terasa sudah sempurna: power steering, gasnya, remnya, AC-nya, dan segala macamnya.

“Perjuangan dua tahun akhirnya ada hasilnya,” ujar Sukotjo, staf PT Grain yang menjadi produsen mobil ini.

Mobil ini memang masih berbasis mobil listrik dari Tiongkok yang dirakit dan disempurnakan di Surabaya.

Tapi komponen terbesarnya, baterai, akan sepenuhnya produksi Indonesia. “Kami sudah bicara dengan Nippres,” ujar Martin. “Yang lain-lain secara bertahap juga akan diproduksi di Surabaya,” tambahnya.

Dua tahun lalu saya mengunjungi pabriknya yang dibangun di luar kota Surabaya itu. Sekarang pabrik itu sudah jadi dan sudah beroperasi. Mampu merakit 10.000 mobil listrik setahun.

Mobil listrik dari Surabaya ini simbolnya petir, mirip logo PLN, karena dia memang salah satu dari lima putra petir yang kita unggulkan.

Pabrik itu satu komplek dengan pabrik baja yang amat besar, dengan pemilik yang sama.

Kerangka baja bandara-bandara baru seperti Bali, Medan, Sepinggan, dan Juanda dibuat di sini. Juga Terminal 3 Soekarno Hatta yang raksasa itu.

Pabrik ini sekarang juga memproduksi baja untuk gedung bertingkat berbasis baja. Dengan modul ciptaannya, sebuah gedung enam lantai bisa dibangun hanya dalam waktu enam bulan.

“Desain kami bisa sampai 18 lantai lebih,” ujar Martin.

Mobil listrik pertama ber-STNK ini dibeli oleh anak perusahaan PLN, PT PJB Cabang Gresik.

“Sekarang ke mana-mana kami gunakan minivan ini,” ujar Sugiyanto, GM PJB Gresik.

“Hemat sekali. Bandingannya, dengan mobil bensin sehari habis Rp 60.000. Dengan mobil listrik ini hanya Rp 10.000,” ujar Sugiyanto.

Memang chargingn-nya masih empat jam. Tapi di malam hari, saat pemilik mobil tidur, sangat cukup waktu untuk charging sampai penuh.

“Untuk kepentingan sehari-hari, kami hanya perlu charging dua hari sekali. Tidak tiap hari,” ujar Sugiyanto.

Rabu lusa, saat ada acara di RRI Yogya, saya juga akan menyerahkan becak listrik kepada dua tukang becak Solo yang selama ini menjadi jamaah shalawat Habib Syekh.

Becak listrik ini benar-benar beca biasa: masih harus dikayuh. Tapi ringan sekali. Saat becak menanjak pun kayuhannya tetap sangat ringan.

Habib Syekhlah pemilik ide awalnya. Saat mendengar salah satu Syekher-nya, saya, memelopori mobil listrik beliau minta dibuatkan becak listrik.

Beliau melihat betapa rekoso-nya tukang becak yang sudah tua tapi tetap mengayuh becaknya untuk mempertahankan hidup.

Saya sendiri sedang mengubah mobil Jaguar saya yang lama untuk menjadi mobil listrik. Bulan depan sudah jadi.

Di tengah gonjang-ganjing harga BBM, siapa tahu orang menjadi waras: menoleh ke mobil listrik!

*Dahlan Iskan, Menteri BUMN RI

(Setper-15/9)



15 September, 2014

Kantor Berita Antara Biro Kalimantan Utara Diresmikan

Pewarta: Susylo Asmalyah

Samarinda (ANTARA News) - Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) diresmikan oleh Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) dan Umum Perum LKBN Antara Naufal Mahfudz di Samarinda, Sabtu.

Peresmian biro baru yang sekaligus ditandai dengan pelantikan Kepala Biro LKBN Antara Kaltara yang pertama, Datuk Iskandar Zulkarnain, itu dihadiri Pejabat (Pj) Gubernur Kaltara, Irianto Lambrie.

Irianto Lambrie, mengatakan untuk pertama kalinya seorang Kabiro LKBN Antara dilantik sekaligus menandai berdirinya Kantor Biro LKBN Antara Kaltara.

“Hal ini tentu merupakan catatan sejarah bagi provinsi Kaltara, yang Insya Allah akan diingat oleh anak cucu kita,” katanya.

Sebagai Daerah Otonomi Baru (DOB) yang baru berumur satu tahun lebih, menurut dia, tentu Kaltara membutuhkan media sebagai alat untuk mempromosikan daerah dan sebagai alat kontrol sosial.

“Mengingat media massa merupakan suatu lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang menjalankan kegiatan jurnalistik. Hal ini merupakan sesuatu yang lazim terjadi di alam demokrasi,” demikian Lambrie.

Dalam acara yang juga dihadiri Kepala Divisi Pemberitaan Umum LKBN Antara, Erafzon Saptiyulda, itu, Naufal mengatakan bahwa peresmian dan pelantikan Biro LKBN Antara di Kaltara merupakan tugas untuk menempatkan wartawannya di wilayah perbatasan atau terdepan negara.

“Kami menunjuk Iskandar sebagai Kepala Biro untuk wilayah Kaltara, karena merupakan wartawan yang memiliki pengalaman dan diharapkan dapat melakukan diseminasi berita yang sifatnya informatif, bijak serta mengimbangi opini yang kurang bagus,” katanya.

Datuk Iskandar Zulkarnain pernah menjadi Kepala Biro Antara Kalimantan Timur, dan ia salah seorang putra daerah dari Bulungan, Kaltara, yang pernah mengikuti kursus dasar pewarta (Susdape) Antara di Jakarta, serta berkesempatan menempuh pendidikan jurnalisme lanjutan di Monash University, Australia.

Naufal mengemukakan bahwa hampir di seluruh provinsi di Indonesia, Antara melakukan kerja sama dengan fokus menginformasikan tentang pembangunan, termasuk di Kaltara.

“Kita juga memiliki koran sisipan yang ditaruh di koran besar daerah untuk media cetak. Hal lain yang dilakukan Antara dalam pengembangan bisnis informasinya adalah media luar ruang berukuran 4 X 6 meter yang bisa ditempatkan di lokasi strategis di provinsi, katanya.

Menurut dia, masyarakat dapat melihat secara langsung pemberitaan Pemprov dan kabupaten/kota mengenai pembangunan dan berita yang mendidik atau berimbang.

Saat ini, LKBN Antara sudah memiliki biro yang tersebar pada 34 provinsi di Indonesia, serta beberapa kota di luar negeri yakni Kuala Lumpur, London, Kairo serta Beijing.

Editor: Priyambodo RH

(Setper-15/9)



10 September, 2014

Pewarta foto ANTARA Jatim terima “Journalist Awards”

Pewarta: Edy M Yakub

Surabaya (ANTARA News) - Pewarta foto LKBN Antara Jawa Timur, Eric “Ireng” Siswanto, menerima “Journalist Award 2014″ untuk kategori foto yang dianugerahkan oleh JPIP-USAID.

“Journalist Awards dianugerahkan bersamaan dengan pembukaan Simposium Nasional dan Eksibisi di Jakarta pada 9–10 September 2014,” kata Direktur Eksekutif JPIP, A Rohman Budijanto, Selasa.

Dalam siaran pers yang diterima Antara di Surabaya, ia menyebutkan “Journalist Award 2014″ diberikan dalam sembilan kategori, yakni institusi media, jurnalis cetak, televisi, radio, online, opini, foto, dan jurnalis lembaga negara.

“Anugerah ini diberikan sebagai apresiasi terhadap karya-karya jurnalistik yang dinilai turut mendorong peningkatan kinerja akuntabilitas lembaga-lembaga negara,” katanya.

Menurut dia, Journalist Awards 2014 sendiri merupakan rangkaian dari program Akuntabilitas yang berlangsung sejak April 2012 hingga Oktober 2014.

“Selain Journalist Award, program Akuntabilitas! lainnya antara lain workshop dan training jurnalis pada 13 provinsi yang mendorong peningkatan kualitas komunikasi antara jurnalis dengan lembaga-lembaga negara,” katanya.

Lembaga negara yang dimaksud adalah Komisi Yudisial, Komisi Informasi, Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4), Kementerian PANRB, Ombudsman RI, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), serta Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

“Tahapan penilaian dalam Journalist Awards dilakukan melalui seleksi dan penjurian. Proses seleksi dilakukan oleh Tim Evaluator Program Akuntabilitas! dan dilanjutkan penilaian oleh Dewan Juri Independen yang terdiri dari 11 orang jurnalis senior dan perwakilan lembaga negara,” katanya.

Anggota Dewan Juri Independen terdiri dari Imam Anshori Saleh (Ketua Dewan Juri/Anggota Komisi Yudisial), Abdulhamid Dipopramono (Anggota Dewan Juri/Ketua Komisi Informasi Pusat), dan Fajar Arifianto Isnugroho (Anggota Dewan Juri/Komisi Penyiaran Indonesia Pusat).

Selain itu, Bambang Utoyo (Anggota Dewan Juri/BPKP), M Agus Susanto (Anggota Dewan Juri/UKP4), Nur Hasni Anwar (Anggota Dewan Juri/KemenPANRB), Winarso (Anggota Dewan Juri/Ombudsman RI), dan Eko Maryadi (Anggota Dewan Juri/Aliansi Jurnalis Independen).

Berikutnya, Akhmad Munir (Anggota Dewan Juri/Persatuan Wartawan Indonesia), Abdul Rahman Ma’mun (Anggota Dewan Juri/Paramadina Public Policy Institute), dan A Rohman Budijanto (Anggota Dewan Juri/Direktur Eksekutif JPIP).

Hasilnya, Special Awards untuk Institusi Media diserahkan oleh Ketua Dewan Pers Bagir Manan kepada Kompas TV, Radio Suara Surabaya, Lombok Post, dan Merdeka.com.

Dari sembilan kategori award, pewarta foto LKBN Antara Jawa Timur, Eric “Ireng” Siswanto, menerima “Journalist Award 2014″ dalam kategori foto bersama pewarta foto dari media lain.

Tiga pewarta foto yang menerima “Journalist Award 2014″ adalah Tim Task Force Ombudsman RI (Shuttle Bus TKI/Dimuat Majalah Suara Ombudsman, Jakarta); Eric Siswanto (Sabung Nyawa/Dimuat Portal Antara Jatim, Surabaya); dan Fedrik Tarigan (Dirawat 10 Tahun, Hancur 15 Menit/Dimuat Harian Jawa Pos, Surabaya).

“Journalit Awards adalah salah satu instrumen yang digunakan oleh JPIP untuk mengukur tingkat awareness jurnalis dan media lokal terhadap isu yang menjadi concern lembaga-lembaga negara dimaksud,” katanya.(*)

Editor: Ruslan Burhani

(Setper-10/9)